Mubadalah.id – Beberapa waktu lalu, saya berhenti pada sebuah konten yang dibawakan seorang anak kecil. Kalimat pertamanya sederhana, tetapi membuat saya tidak segera menggulir layar. Dia berkata:
“Ternyata salat bukan untuk Allah..”
Dalam monolog itu, sang anak mengulang penjelasan ibunya. Allah tidak membutuhkan salat manusia. Manusialah yang membutuhkan jeda lima kali sehari. Jeda itu, untuk berhenti dari kesibukan, menenangkan hati, dan mengingat bahwa hidup tidak kita jalani sendirian. Salat tidak dikenalkan melalui ancaman neraka atau iming-iming surga, melainkan sebagai undangan untuk kembali.
Jawaban tersebut tinggal cukup lama dalam kepala saya. Bukan hanya karena terdengar menenangkan, tetapi karena memperlihatkan betapa pilihan bahasa dapat mengubah cara seseorang memahami ibadah. Dari satu jawaban itu, mungkin si anak dapat menanyakan pertanyaan lain. Kalau Allah mengetahui segalanya, mengapa manusia masih perlu berdoa? Kalau Allah dekat, mengapa tidak dapat dilihat?
Pertanyaan anak tentu tidak selalu mengenai Tuhan. Mereka juga dapat bertanya mengapa manusia meninggal, mengapa harus berbagi, atau apakah seseorang masih baik setelah melakukan kesalahan. Penelitian Michelle Chouinard menunjukkan bahwa ketika jawaban tidak sungguh menjelaskan, anak cenderung terus bertanya. Anak sedang menyusun pemahamannya tentang dunia.
Chi-Ming Lam membawa kemampuan tersebut lebih jauh dalam artikel “Philosophy as a Way of Life for Children: Towards a Transformative Educational Ehos”. Bagi Lam, anak bukan hanya suka bertanya. Mereka mampu menjalani filsafat melalui percakapan, pencarian alasam, dan usaha memahami makna.
Permainan Bahasa, Bukan Sekadar Permainan Kata
Lam memakai gagasan language game atau permainan bahasa dari Ludwing Wittgenstein. Makna kata tidak hanya tersimpan di dalam kamus, tetapi tumbuh dari cara kata tersebut digunakan.
Bahasa agama dipenuhi kata yang akrab maupun familiar, tetapi tidak selalu bekerja secara biasa. Kita mengatakan Allah “dekat”, “melihat”, atau “memanggil”. Anak yang memahami dekat sebagai jarak dapat bertanya, “Kalau Allah dekat, mengapa tidak kelihatan?”
Sudah jelas, pertanyaan itu bukan tanda kurang iman. Anak sedang memerika bagaimana kata “dekat” digunakan ketika berbicara tentang Tuhan. Hal yang sama terjadi saat anak mempertanyakan kata “nakal”, “adil”, atau “baik”. Setiap kata itu membawa cara tertentu dalam melihat diri orang lain.
Kalimat “Allah menyuruh kita salat” pun dapat terdengar seolah-olah Allah membutuhkan ibadah manusia. Penjelasan ibu dalam konten tadi memberi perspektif berbeda. Salat tidak menambah apa pun bagi Allah, tetapi membentuk manusia yang menjalankannya.
Filsafat yang Tumbuh dari Pertanyaan Anak
Filsafat untuk anak bukanlah membawa perkuliahan filsafat dan menjelaskan teori rumit kepada anak. Anak tidak perlu menghafal Plato, Kant, hingga Foucault. Orang dewasa dapat mengajak anak memikirkan berbagai pertanyaan yang dekatn dengan kehidupan sehari-hari. Apakah doa hanya berguna ketika permintaan terkabul? Haruskah teman yang baik selalu membela kita? Apakah membagi sesuatu secara sama selalu adil?
Semangat itu menjadi dasari Philosophy for Children, gerakan yang dirintis Matthew Lipman dan Ann Margaret Sharp. Orang dewasa tidak harus segera membagian jawaban tadi. Pertanyaan seperti “Mengapa kamu berpikir begitu?” memberi kesempatan kepada anak untuk menyusun alasan tanpa merasa sedang diuji.
Orang dewasa tetap perlu mendasarkan jawaban pada pengetahuan yang jelas. Namun, cara menyampaikan kebenaran juga harus menjaga rasa ingin tahu anak.
Cara berpikir anak memang belum sama dengan orang dewasa. Namun, keterbatasan kosakata tidak berarti ketiadaan pikiran. Gareth Matthews menunjukkan bahwa anak-anak dapat menyentuh persoalan tentang kenyataan, kematian, dan Tuhan melalui bahasa sederhana.
Melalui Jean Piaget dan Lev Vygotsky, Lam menjelaskan bahwa kemampuan anak berkembang bersama usia, pengalaman, dan percakapan. Anak mungkin belum memahami sifat ketuhanan atau keadilan secara abstrak, tetapi dapat mengenal kasih, kehadiran, kehilangan, dan perlakuan yang tidak seimbang melalui pengalaman sehari-hari.
Filsafat sebagai Cara Menjalani Iman
Dengan meminjam Pierre Hadot, Lam juga melihat filsafat sebagai latihan menjalani hidup. Begitu pula dengan pertanyaan tentang salah tidak berhenti pada definisi ibadah. Jawabannya ikut menentukan bagaimana anak mengalami salat. Begitu pula obrolan terkait keadilan atau persahabatan mungkin, maknanya akan diuji melalui cara anak memperlakukan orang lain.
Ibn ‘Athaillah pernah menulis bahwa ketaatan tidak menambah keagungan Allah dan kemaksiatan tidak menguranginya. Perintah agama kembali kepada kebaikan manusia. Gagasan Ibn ‘Athaillah tersebut juga menegaskan bahwa manusialah yang membutuhkan salat, bukan Allah, meskipun orang dewasa perlu menjelasannya kepada anak dengan bahasa yang lebih sederahana.
Selaras denga itu, melalui Hayy ibn Yaqzan, Ibn Tufayl membayangkan pengetahuan seorang anak tumbuh lewat pengamatan dan rasa heran. Ibn Khaldun justru mengingatkan bahaya pendidikan yang terlalu keras. Tekanan dapat membuat anak menyembunyikan pikiran. Anak yang diam belum tentu memahami, mungkin bertanya sudah terasa tidak aman.
Martin Buber menempatkan dialog sebagai perjumpaan antarsubjek. Dalam relasi I-Thou, orang dewasa tidak menempatkan anak sebagai objek yang hanya perlu tunduk, tetapi sebagai subjek yang dapat berpikir, bertanya, dan berpendapat terkait pandangannya. Tanggung jawab orang tua tetap lebih besar, tetapi tidak harus mematikan percakapan.
Kesalingan tumbuh ketika orang dewasa menjelaskan alasan di balik aturan, tidak buru-buru menganggap pertanyaan sebagai pembangkangan, dan berani mengakui keterbatasan pengetahuannya. Anak belajar menghormati tanpa kehilangan ruang untuk berpikir. orang tua membimbing tanpa harus selalu memenangkan pembicaraan. (Semoga kelak, saya juga bisa mengimplementasikan hal demikian).
Seni Memahami Dunia
Filsafat untuk anak bukan proyek mencetak anak yang gemar berdebat. Filsafat untuk anak justru merawat rasa heran, keberanian bertanya, dan kerendahan hati untuk mencari makna bersama.
Dunia anak tidak hanya berisi benda yang dapat disentuh. Di dalamnya ada diri sendiri, orang lain, kehilangan, persahabatan, keadilan, dan Tuhan. Bahasa menghubungkan semua itu. Namun, juga dapat menyempitkan pemahaman ketika pertanyaan terlalu cepat ditutup.
Kata-kata orang dewasa membawa akibat. Sebutan “nakal” dapat melekat sebagai identitas. Kata “adil” dapat membuka percakapan tentang kebutuhan orang lain. Penjelasan mengenai salat dapat membuat ibadah terasa sebagai tuntutan atau ruang untuk kembali.
Filsafat menemukan tempatnya di rumah bukan sebagai teori rumit, melainkan sebagai kebiasaan memilih kata dengan hati-hati, mendengarkan, dan mengoreksi jawaban bersama. Melalui percakapan kecil, anak mengenali dirinya sendiri, memahami orang lain, dan menjalani iman dengan kesadaran. Wallahu A’lam bis-Shawab. []





Comments are closed.