Jakarta (ANTARA) – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan bahwa Indonesia masih terus mengupayakan kapasitas dan sumber daya nasional untuk menanggulangi dampak gempa 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT), sehingga bantuan asing belum diperlukan.
“Saat ini fokus penanganan adalah untuk memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak dapat dipenuhi melalui kapasitas dan sumber daya nasional yang dimiliki,” kata Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang dalam taklimat media di Jakarta, Kamis.
Meski demikian, Indonesia senantiasa mengapresiasi perhatian dan ucapan solidaritas negara-negara sahabat atas bencana yang terjadi di NTT, serta tawaran bantuan untuk menolong para korban dan memulihkan situasi pascagempa di sana.
Yvonne mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono, kepada sejumlah duta besar negara sahabat, telah menyampaikan secara langsung ucapan terima kasih pemerintah Indonesia terhadap kepedulian mereka.
“Kami menilai hal tersebut amat bermakna bagi kami pada masa yang sulit ini,” katanya.
Sementara itu, merespons pertanyaan terkait apakah isu bantuan untuk NTT akan dibahas dalam pertemuan antara Menlu Sugiono dengan Menlu China Wang Yi pada Dialog Komprehensif Strategis (CSD) Indonesia-China pada Jumat (21/8), Yvonne mengatakan hal tersebut masih akan dibahas lebih lanjut.
Sebelumnya dalam konferensi pers di Beijing, Senin (17/8), Juru Bicara Kemlu China Lin Jian mengatakan pemerintah China terus mengikuti perkembangan bencana gempa tersebut, sebelum kemudian mengungkapkan kesediaan membantu pemulihan bencana di Indonesia.
“China bersedia memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ucap Lin Jian, sembari mengonfirmasi adanya sejumlah WN China yang terluka dalam gempa di NTT itu.
Adapun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban tewas akibat gempa 7,7 magnitudo di NTT pada 15 Agustus tersebut mencapai 71 orang setelah satu korban jiwa tambahan tercatat pada Rabu (19/8).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menambahkan bahwa per Selasa (18/8) pukul 18:00 WIB, total bantuan yang terkirim pada periode 15–18 Agustus mencapai 398 ton, dengan logistik yang dikirim via udara mencapai 165 ton.
Baca juga: BRIN peringatkan risiko amplifikasi ekologi dan wabah pascabencana
Baca juga: BRIN tekankan pengendalian penyakit pascabencana tak bisa dipukul rata
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





Comments are closed.