Di tengah derasnya arus informasi digital dan makin minimnya tradisi dokumentasi organisasi, buku Bintang-Bintang Muktamar NU 1967–2015 karya H.A. Baidhowi Adnan layak disambut sebagai sebuah ikhtiar penting merawat ingatan kolektif Nahdlatul Ulama. Buku ini bukan cuma kumpulan catatan jurnalistik tentang muktamar-muktamar NU, melainkan kesaksian seorang aktivis, wartawan, sekaligus warga NU yang mengalami langsung denyut dalam dinamika napas organisasi terbesar di Indonesia. Penulis menyebut dirinya hadir dan meliput sebelas kali muktamar, dari Bandung tahun 1967 hingga Lampung tahun 2021. Dalam konteks itulah buku ini memiliki nilai historis tinggi sebagai dokumentasi pengalaman langsung seorang saksi zaman.
Melihat buku ini bukan cuma penting sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai cermin membaca masa depan NU. Terlebih ketika NU sedang bersiap menyongsong Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang, sebuah momentum yang akan menentukan arah organisasi di tengah dinamika politik nasional, transformasi digital, dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.
Buku ini bukanlah semata-mata menggambarkan data emik sejarah, melainkan sudut pandang penulis menghadirkan “bintang-bintang muktamar”. Fokusnya bukan pada keputusan-keputusan resmi atau hasil sidang komisi, tetapi pada figur-figur yang menjadi pusat perhatian dan simbol nilai pada setiap muktamar. Pilihan ini terasa hidup, personal, dan mudah dinikmati pembaca lintas generasi.
Salah satu kisah paling kuat adalah cerita Muktamar Bandung 1967. Penulis merekam momen ketika KH Bisri Syansuri memperoleh suara terbanyak sebagai Rais Aam, tetapi menolak jabatan tersebut karena masih ada KH Wahab Chasbullah yang dianggap lebih senior. Penolakan itu semata-mana bukan peristiwa organisasi, tapi pelajaran tentang adab, tawadhu, dan etika kepemimpinan yang hari ini terasa semakin langka. Penulis bahkan mengaku mendengar langsung pernyataan Mbah Bisri dari jarak sangat dekat ketika dirinya bertugas sebagai anggota Banser DKI Jakarta.
Di sinilah letak kekuatan utama buku ini. Ia menghadirkan sejarah bukan sebagai deretan tanggal dan nama, tetapi kumpulan teladan moral. Mbah Bisri tampil bukan hanya sebagai ulama besar, melainkan simbol kerendahan hati. Idham Chalid lebih dari ketua umum, tetapi simbol keteguhan politik. Yusuf Hasyim, Subchan ZE, Imron Rosyadi, Gus Dur, Hasyim Muzadi, dan tokoh-tokoh lainnya tampil sebagai manusia dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.
Buku ini juga memperlihatkan persaingan dalam NU sejak dahulu berlangsung sangat dinamis. Namun setelah kompetisi selesai, para tokoh kembali duduk bersama membangun organisasi. Dalam pengantar bukunya, Baidhowi menyinggung bagaimana para pemenang muktamar mengakomodasi berbagai unsur dalam kepengurusan dan menghindari politik klik serta kelompok-kelompok eksklusif.
Pesan tersebut terasa sangat relevan dibaca menjelang Muktamar Tambakberas. Dalam beberapa tahun terakhir, publik sering menyaksikan meningkatnya polarisasi politik nasional. Media sosial mempercepat lahirnya kubu-kubu, memperbesar konflik, dan menjadikan perbedaan sebagai permusuhan. NU tentu tidak kebal terhadap fenomena tersebut. Karena itu, kisah-kisah buku ini mengingatkan bahwa kompetisi adalah keniscayaan, tetapi persaudaraan harus tetap menjadi fondasi.
Meski demikian, sebagai sebuah karya dokumenter, buku ini tidak luput dari sejumlah catatan kritis.
Pertama, buku ini sangat kuat sebagai memoar jurnalistik, tetapi relatif lemah dalam analisis historis. Penulis lebih banyak menyampaikan apa yang dilihat dan didengar, dibandingkan membedah faktor-faktor sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang melatarbelakangi sebuah peristiwa. Misalnya, ketika membahas Muktamar Bandung 1967, pembaca memperoleh gambaran soal tokoh-tokoh yang bersinar, tetapi belum diajak memahami secara mendalam bagaimana relasi NU dengan rezim Orde Baru yang sedang tumbuh saat itu, bagaimana dampak tragedi 1965 terhadap posisi politik NU, atau bagaimana pertarungan ideologis yang terjadi di tingkat nasional.
Kedua, terdapat kecenderungan pendekatan “great men history”, yakni sejarah yang bertumpu pada tokoh-tokoh besar. Padahal perjalanan NU tidak hanya dibangun para elite. Ribuan kiai kampung, guru madrasah, pengurus ranting, kader Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, dan IPPNU juga memiliki peran penting. Dalam buku ini suara mereka belum banyak muncul.
Ketiga, perspektif perempuan masih sangat terbatas. Padahal dalam perkembangan NU mutakhir, kontribusi Muslimat NU dan Fatayat NU sangat besar. Pembaca akan mendapatkan gambaran lebih utuh apabila peran perempuan NU dalam setiap muktamar turut didokumentasikan secara lebih luas.
Keempat, buku ini lebih banyak berkutat pada dinamika internal organisasi dibandingkan isu-isu substantif yang dibahas dalam muktamar. Kita tahu siapa yang menjadi bintang, tetapi tidak selalu mengetahui apa gagasan besar yang diperdebatkan dan bagaimana keputusan tersebut memengaruhi perjalanan bangsa.
Namun demikian, kelemahan tersebut tidak mengurangi arti penting buku ini. Justru karena sifatnya sebagai catatan personal seorang wartawan, buku ini memiliki nilai autentik yang sulit ditemukan dalam karya akademik. Ada banyak detail kecil yang mungkin tidak tercatat dalam dokumen resmi, tetapi tersimpan dalam ingatan penulis.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PBNU saat itu, KH Said Aqil Siroj, menyebut buku ini sebagai catatan seorang saksi sejarah yang mengikuti perjalanan muktamar NU selama puluhan tahun dan karena itu layak diapresiasi sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah.
Pertanyaannya kemudian, apa relevansi buku ini dengan Muktamar ke-35 di Tambakberas?
Bagi saya, relevansinya sangat besar.
Tambakberas bisa melampaui hanya sebagai lokasi penyelenggaraan muktamar. Tambakberas adalah simbol peradaban NU. Di tanah Jombang itulah tradisi keilmuan, pesantren, dan kebangsaan NU bertemu dalam satu ruang dan rantai sejarah panjang. Muktamar Tambakberas akan berlangsung pada saat Indonesia memasuki fase baru pasca Pemilu 2024 dan konsolidasi pemerintahan baru. Hubungan antara organisasi masyarakat sipil, negara, dan kekuatan politik sedang diuji dan mengalami penataan ulang.
Dalam situasi seperti itu, NU menghadapi sedikitnya tiga tantangan besar.
Pertama, tantangan menjaga independensi organisasi di tengah kedekatan dengan kekuasaan. Sejarah menunjukkan, hubungan NU dengan negara selalu mengalami pasang surut. Dari entitas sebagai partai politik, kembali ke Khittah 1926, hingga era reformasi dan pascareformasi, NU terus berupaya menemukan titik keseimbangan antara peran kebangsaan dan otonomi organisasi.
Buku Baidhowi mengingatkan, sejak Muktamar Bandung 1967 NU telah berada dalam pusaran politik nasional. Tokoh-tokoh NU berinteraksi dengan penguasa, militer, partai politik, dan berbagai kekuatan sosial lainnya. Namun para kiai berusaha menjaga agar NU tidak kehilangan orientasi utama sebagai jam’iyah diniyah wa ijtima’iyah.
Kedua, tantangan regenerasi kepemimpinan. Banyak tokoh yang dikisahkan dalam buku ini adalah figur dengan kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, dan legitimasi sosial sangat kuat. Pertanyaan bagi NU hari ini adalah apakah proses kaderisasi mampu melahirkan figur-figur baru dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik. Muktamar Tambakberas akan jadi ujian penting bagi proses regenerasi tersebut.
Ketiga, tantangan menjaga persatuan di tengah kompetisi. Salah satu pelajaran paling berharga dari buku ini adalah kemampuan para tokoh NU menerima hasil muktamar dan kembali bekerja bersama setelah kontestasi selesai. Tradisi ini harus dipertahankan di tengah budaya politik yang sering mendorong polarisasi di media digital tanpa akhir.
Dalam konteks politik nasional, NU menempati posisi sangat strategis. Besarnya basis sosial menjadikan setiap keputusan NU bisa dampak luas. Karena itu, publik akan menaruh perhatian besar terhadap hasil Muktamar Tambakberas, terutama terkait arah hubungan NU dengan negara, agenda pemberdayaan ekonomi umat, penguatan pendidikan pesantren, kekerasan di dunia pendidikan, isu lingkungan, transformasi digital, serta posisi NU dalam percaturan geopolitik global.
Menariknya, buku ini tersirat menjelaskan kekuatan NU tidak pernah semata-mata terletak pada siapa yang menang dalam pemilihan ketua umum. Kekuatan NU justru terletak pada kemampuannya menjaga kesinambungan nilai di tengah pergantian generasi. Tokoh boleh berganti, tetapi tradisi musyawarah, tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal harus tetap hidup.
Karena itu, ketika membaca Bintang-Bintang Muktamar NU, saya tidak hanya melihat kisah masa lalu. Saya melihat cermin guna membaca masa depan. Buku ini mengajak kita memahami, sejarah NU dibangun oleh orang-orang yang tidak selalu mengejar jabatan, tetapi mencari keberkahan dalam berkhidmah. Mereka datang ke muktamar bukan semata-mata kontestasi mencapai kemenangan, melainkan memastikan organisasi tetap berjalan, tumbuh dan berkibar.
Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dengan popularitas, jumlah pengikut media sosial, dan kekuatan finansial, kisah Mbah Bisri yang menolak jabatan Rais Aam terasa seperti tamparan moral. Di tengah budaya politik yang sering memecah belah, kisah persaingan sehat para tokoh NU adalah pelajaran berharga tentang kedewasaan berdemokrasi. Dan di tengah kecenderungan melupakan sejarah, buku Baidhowi Adnan hadir seraya mengingatkan tentang masa depan hanya dapat dibangun dengan memahami perjalanan masa lalu.
Karya H.A. Baidhowi Adnan jelas menyajikan pelajaran penting bahwa dokumentasi sejarah organisasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses kaderisasi dan pembelajaran kolektif Nahdlatul Ulama. Melalui kesaksian langsung seorang wartawan dan aktivis NU yang mengikuti sebelas kali muktamar selama puluhan tahun, buku ini berhasil menyelamatkan banyak fragmen sejarah yang mungkin tidak tercatat dalam dokumen resmi organisasi. Penulis sendiri menegaskan bahwa pengalaman dan sikap para pendahulu perlu diwariskan agar generasi baru NU dapat memetik pelajaran berharga dari ketulusan mereka dalam berkhidmat kepada agama, bangsa, dan organisasi.
Karena itu, Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU perlu menjadikan kerja dokumentatif semacam ini bagian agenda strategis berkelanjutan. NU memiliki kekayaan sejarah luar biasa, mulai dari perjalanan para ulama pendiri, dinamika muktamar, kiprah pesantren, hingga kontribusi warga NU dalam kehidupan kebangsaan. Sayangnya, banyak pengalaman penting para pelaku sejarah masih tersimpan dalam ingatan pribadi dan belum terdokumentasikan secara sistematis. Jika tidak segera dihimpun, maka sebagian memori kolektif NU akan hilang bersama berjalannya waktu dan pergantian generasi.
Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang, dapat menjadi momentum memulai gerakan besar dokumentasi sejarah NU yang lebih terstruktur. Tidak cukup hanya mendokumentasikan keputusan dan hasil sidang, tetapi juga merekam proses, gagasan, perdebatan, pengalaman para muktamirin, serta kisah-kisah keteladanan yang menjadi ruh perjalanan organisasi. Dokumentasi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk buku, arsip digital, audio visual, sejarah lisan, film dokumenter, maupun pusat data yang dapat dengan mudah diakses kader, peneliti, dan masyarakat luas. Dengan cara itu, setiap muktamar tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga menghasilkan pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Organisasi sebesar Nahdlatul Ulama selain butuh program dan kepengurusan yang kuat, tetapi juga memerlukan tradisi merawat ingatan. Sejarah bukan cerita masa lalu, melainkan sumber inspirasi menghadapi tantangan masa depan. Melalui kerja dokumentatif berkelanjutan, LTN PBNU dapat memastikan bahwa nilai-nilai keteladanan, kebijaksanaan para ulama, dan pengalaman panjang NU dalam mengelola perbedaan tetap hidup sebagai sumber pembelajaran bagi warga NU sepanjang zaman.
Pada akhirnya, nilai terbesar buku ini bukan terletak pada kelengkapan datanya, melainkan pada kemampuan menghadirkan ruh sejarah NU. Ia membawa pembaca menyusuri lorong-lorong muktamar selama hampir setengah abad, mempertemukan kita dengan para tokoh yang telah mewarnai perjalanan organisasi, dan mengingatkan bahwa NU adalah rumah besar yang dibangun oleh tradisi ilmu, akhlak, dan pengabdian.
Menjelang Muktamar ke-35 di Tambakberas, para muktamirin, pengurus, kader muda, dan siapa pun yang mencintai NU layak membaca buku ini. Sebab di dalamnya tersimpan pesan sederhana namun mendalam, bahwa yang membuat seseorang jadi “bintang muktamar” bukan kemenangan politik, melainkan keteladanan moralnya. Dan dalam sejarah panjang NU, keteladananlah yang selalu bertahan lebih lama daripada jabatan apa pun.
Data Buku:
Judul: Bintang-Bintang Muktamar NU 1967–2015
Penulis: H.A. Baidhowi Adnan
Penerbit: LTNU (Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama)
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 80 halaman
Peresensi: Abi S Nugroho, Pengurus Lakpesdam PBNU




Comments are closed.