Thu,20 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Ikhtiar PBNU Bawa Pesantren Aman

Ikhtiar PBNU Bawa Pesantren Aman

ikhtiar-pbnu-bawa-pesantren-aman
Ikhtiar PBNU Bawa Pesantren Aman
service

Bengkulu, NU Online

Tak dapat dipungkiri ragam peristiwa memilukan menimpa pesantren, tak terkecuali kekerasan. Tidak berarti membenarkan, sanksi fisik dahulu memang menjadi pilihan solutif agar pelajar tak lagi bertindak indisipliner. Dan berhasil. Mereka kembali berlaku disiplin tanpa pertentangan karena ada rasa kebersalahan.

Namun zaman bergerak dinamis dan berubah. Takziran demikian yang semula dianggap lumrah bisa menjadi bumerang yang sewaktu-waktu dapat menyerang pribadi hingga institusi. Hal demikian perlu disadari oleh sivitas akademika pesantren.

Oleh karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) melakukan sosialisasi keliling di lebih dari 20 titik di seluruh Indonesia guna mewujudkan Pesantrenku Aman. Upaya ini tidak sekadar melibatkan unsur pesantren secara parsial, tetapi juga menyeluruh, mulai dari pengasuh, musyrif-musyrifah, hingga staf administrasi, bahkan tim media.

“Kita berusaha untuk melakukan langkah-langkah terbaik yang bisa kita laksanakan untuk mencegah berulangnya peristiwa semacam itu,” kata KH Hodri Ariev, Ketua RMI PBNU, dalam sambutannya pada Deklarasi Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Sentot Alibasya, Bengkulu, Kamis (13/8/2026).

Di Bengkulu, ada empat kegiatan yang dilaksanakan secara bersamaan, yakni Halaqah Pengasuh, Pelatihan Musyrif-musyrifah, sosialisasi Digdaya Pesantren, dan Deklarasi Nasional Pesantrenku Aman.

Fasilitator Pelatihan Musyrif-Musyrifah Mohammad Fauzan Niami menyampaikan bahwa para pengurus pesantren itu diajak untuk berpikir ulang dan berpikir kritis terhadap pesantren, khususnya berkaitan dengan fenomena akhir-akhir ini. Berangkat dari hal tersebut, mereka juga diajak untuk menemukan langkah-langkah dalam mengatasi problem yang dihadapi.

“Mereka (musyrif-musyrifah) ujung tombak pesantren mengamalkan ilmunya, khususnya terkait pelatihan antikekerasan seksual. Ke depan, musyrif-musyrifah menjadi tonggak penggerak pesantren masing-masing supaya menjadi pesantren aman dan ramah anak,” katanya.

Sementara itu, Aulia Rahmadani, musyrifa Pesantren Darussalam Tegalrejo Bengkulu Utara, mengaku lebih terbuka selepas mengikuti pelatihan tersebut. Pesantren sudah seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi santri dalam belajar dan mengaji.

Pertemuan itu membawanya untuk mengajak kolaborasi santri dan wali santri agar bersama membangun ekosistem pesantren sebagai ruang yang aman dan nyaman itu. Pengurus, pengasuh, dan wali santri dapat membangun kerja sama komunikasi yang baik dengan menujunjung asas tabayun demi mewujudkan Pesantrenku Aman.

“Aman mentalnya, aman belajar mengajarnya, dan aman kegiatan sehari-harinya,” katanya.

Rekomendasi

Dalam forum halaqah pengasuh, muncul sejumlah rumusan rekomendasi yang ditawarkan mereka untuk ditindaklanjuti oleh seluruh elemen pesantren, termasuk PBNU.

Pertama, perlu pembentukan satgas Pesantrenku Aman secara berjenjang hingga tingkat pesantren. Menurut peserta, PBNU perlu membentuk dan menguatkan Satgas Pesantren Aman secara resmi, mulai dari tingkat pusat, wilayah, cabang hingga tingkat pesantren. Hal ini dilakukan agar setiap pesantren memiliki tim yang bertanggung jawab terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan.

Kedua, penguatan komunikasi dan jejaring antar-pesantren. Komunikasi yang lebih kuat antar-pesantren, khususnya pesantren di bawah naungan RMI, penting diperkuat sebagai upaya mempercepat daya jangkau seluruh pesantren. Hal ini penting agar  pelaksanaan sosialisasi tidak berhenti pada pesantren yang telah mengikuti program.

Ketiga, regulasi dan mekanisme penanganan di tingkat pesantren. Dalam diskusi yang difasilitasi Marzuki Wahid itu, diperlukan regulasi yang jelas mengenai pencegahan, pelaporan, penanganan, dan tindak lanjut kekerasan hingga tingkat pesantren. Regulasi tersebut, dalam diskusi yang berlangsung, perlu disertai mekanisme pelaksanaan yang aktif dan dapat diterapkan oleh masing-masing pesantren.

Keempat, pelatihan musyrif/musyrifah secara berkelanjutan. Diketahui, hal tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam rangkaian roadshow RMI dan Saka Pesantren PBNU di setiap titik. Hal tersebut, menurut para pengasuh, perlu dilakukan secara berkala dan berkelanjutan, tidak berhenti pada kegiatan pelatihan hari ini. Pelatihan dan pendampingan dapat dilaksanakan setiap tahun serta ditindaklanjuti melalui program penguatan per zona/wilayah.

Kelima, perlu dibentuk forum komunikasi lintas pesantren sebagai ruang koordinasi, berbagi pengalaman, dan penyelesaian persoalan bersama. Forum ini menjadi wadah untuk membangun tanggung jawab kolektif dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman.

Berikutnya, kesepakatan pesantren dengan orang tua/wali santri juga perlu dibangun, khususnya pengenalan terkait tata tertib, pola pembinaan, serta bentuk konsekuensi yang dapat diterapkan kepada santri. Kesepakatan ini perlu disampaikan sejak awal agar terdapat pemahaman yang sama antara pesantren dan orang tua.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah penguatan sistem pengaduan dan hotline di tingkat pesantren yang terhubung dengan sistem pengaduan RMI secara nasional. Kanal tersebut harus memiliki mekanisme yang jelas mulai dari penerimaan laporan, verifikasi, penanganan, rujukan, hingga tindak lanjut kasus.

Hal terakhir itu juga disinggung Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ai Rahmayanti dalam sambutannya pada kegiatan tersebut. Menurutnya, penting dibentuk saluran pengaduan di setiap pesantren untuk memfasilitasi para santri.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.