Thu,20 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. BRIN peringatkan risiko amplifikasi ekologi dan wabah pascabencana

BRIN peringatkan risiko amplifikasi ekologi dan wabah pascabencana

brin-peringatkan-risiko-amplifikasi-ekologi-dan-wabah-pascabencana
BRIN peringatkan risiko amplifikasi ekologi dan wabah pascabencana
service

Jadi, semakin lama maka lingkungan itu akan semakin memperkuat terjadinya perkembangan penyakit yang dibawa oleh vektor maupun reservoir itu sendiri.

Jakarta (ANTARA) – Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, memperingatkan bencana alam dapat memicu terjadinya fenomena amplifikasi ekologi yang sangat berisiko menimbulkan wabah penyakit tular vektor di tengah masyarakat.

Dalam diskusi tentang penyakit menular pascabencana yang digelar secara daring di Jakarta, Kamis, Ristiyanto mengungkapkan alam pada dasarnya tidak serta-merta melahirkan wabah seketika, namun menciptakan kondisi lingkungan yang sangat ideal bagi vektor dan reservoir pembawa penyakit untuk berkembang biak dengan cepat.

“Jadi ada suatu urutan atau rantai dapat kita lihat secara sederhana. Bencana terjadi, lingkungan berubah, populasi atau distribusi vektor dan reservoir berubah, kontak dengan manusia meningkat, kemudian risiko penyakit ikut meningkat pula,” katanya.

Ristiyanto mencontohkan bencana seperti tsunami atau banjir kerap menyisakan genangan air tawar maupun payau, sementara bencana kekeringan memaksa masyarakat menampung air secara tidak higienis. Kondisi-kondisi lingkungan baru inilah yang kemudian secara radikal mengubah habitat nyamuk dan tikus.

Menurut dia, jika kondisi lingkungan yang rusak tersebut tidak segera ditangani, maka akan terjadi proses pembesaran risiko atau yang secara medis dikenal sebagai amplifikasi ekologi.

“Jadi, semakin lama maka lingkungan itu akan semakin memperkuat terjadinya perkembangan penyakit yang dibawa oleh vektor maupun reservoir itu sendiri,” ujarnya.

Ristiyanto menilai perubahan ekstrem pada ekologi itu akan memicu kemunculan penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak ada atau tidak lazim ditemukan di suatu wilayah. Mulai dari demam berdarah dengue (DBD), malaria, hingga ancaman penyakit leptospirosis dan salmonelosis.

Oleh karena itu, ia menekankan perlunya kecepatan dalam membaca sinyal perubahan alam sebelum fasilitas pelayanan dasar masyarakat ikut lumpuh di wilayah yang terdampak parah.

“Jadi yang kita pantau bukan hanya jumlah penderita penyakit saja di sini, tetapi perubahan ekologi dapat menjadi sinyal sebelum peningkatan kasus itu terlihat,” ucap Ristiyanto.

Baca juga: BRIN dan WIKA Jalin Kerja Sama untuk Pengembangan Riset dan Teknologi Inovasi di Industri Konstruksi

Baca juga: Kepala BRIN kemukakan berbagai hasil riset untuk perkuat proyek GSW

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.