Muktamar NU di Tambakberas Jombang, pada tahun ini, tepatnya pada tanggal 27-30 Agustus 2026, tidak muncul tema utama yang diarusutamakan jauh-jauh bulan. Padahal di kota ini pula, Muktamar NU tahun 2015 (tetapi tempatnya tidak hanya di Tambakberas) membawa tema utama “Islam Nusantara”, meskipun ada pergumulan yang sengit di muktamar. Memang ada yang pro dan kontra soal Islam Nusantara, tetapi tema utama itu terus bergulir, didiskusikan, dan menjadi diskursus yang terus-menerus membentuk wacana publik muslim.
Ketika muktamar di Lampung, tema yang diusung adalah “Menuju Satu Abad NU: Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia”, tetapi ia kurang menjadi diskursus nasional sebagaimana muktamar sebelumnya, dilindas oleh pertarungan politik praktis internalnya yang mengeras, dan perwujudannya masih kabur.
Kali ini, tema besar yang dikelola seperti muktamar di Jombang tahun 2015 di tengah pergumulan politik praktisnya, memang sepertinya belum muncul. Akan tetapi, tema dalam background panggung mungkin saja sudah ada dan akan disusun nantinya. Justru tema besar yang disuguhkan kepada publik adalah konflik dan sikap-sikap faksional yang muncul di PBNU, mewarnai memori-memori dan data-data berita di tengah publik NU dan Indonesia. Mulai dari kasus pecat-memecat, konsesi tambang, musyawarah kubra, dan lain-lain, hingga akhirnya ada kata sepakat, untuk menyelenggarakan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas.
Mengharapkan dan mencermati perhelatan Muktamar NU ke-35 ini, menjadi penting: pertama, kekhawatiran yang mulai membesar tentang semakin tumbuhnya perebutan jabatan pimpinan PBNU, dalam bentuk dukungan dan nuansa menjatuhkan disertai isu politik uang, melalui meme, tulisan berita, dan lain-lain, sehingga belum muncul agenda-agenda besar NU yang menjadi konsen bersama masyarakat NU yang menjadi diskursus.
Kedua, terlepas pula apakah kepemimpinan hasil Muktamar NU ke-35 nantinya dapat dijadikan katalisator ataukah tidak, untuk memandu perubahan menyongsong 100 tahun NU ke depan setelah 2026 ini, yang jelas suara agenda-agenda besar berserakan justru didinamisasi kalangan gerakan-gerakan kultural. Ada yang berbicara tata kelola, kritik terhadap zionisme, perlunya memperhatikan kaum tani NU, dan lain-lain.
Road map sampai 25 tahun yang disusun PBNU, tentu saja ada upaya-upaya mengantisipasi eksistensi NU ke depan. Hanya saja, belum menyentuh kepada transformasi di tingkat bawah tahap demi tahap. Tahapan untuk mencapai masyarakat yang diimpikan NU belum terlihat kuat sebagai arus utama, dan tujuan-tujuan kemasyarakatannya masih berserakan. Hal ini tentu bisa mengaburkan transformasi-transformasi penting yang hendak dilakukan, yang tentu diimpikan oleh manusia Nahdliyin dengan basis nilai-nilai Aswajanya untuk membentuk masyarakat yang baldah thayyibah wa Rabbun Ghafuur, masyarakat wasath, dan khaira ummah.
Di tengah situasi demikian, nyata adanya perubahan dan tumbuhnya generasi baru gen-Z dan alpha yang membawa watak-watak zamannya. Mereka tentu menyimak dan menyaksikan, soal maksimal tidaknya peran NU dalam membangun ekonomi warganya di bawah, atau memperhatikan dengan nyata masyarakat basis dan sikapnya terhadap kebijakannegara-pemerintah yang berdimensi keadilan-pemerataan. Ini perlu mendapatkan perhatian, untuk dijadikan konteks berpijak mendinamisir masyarakat NU, termasuk kelembagaannya.
Padahal, tentu saja generasi gen-Z dan alpha nantinya akan menjadi para pemimpin NU, sehingga para pemimpin NU yang hanya sibuk memperebutkan jabatan ketua dan sejenisnya di muktamar kali ini, akan menambah pengeringan daya gagasan transformasi generasi ini di dalam kemasyarakatan NU. Dan, tentu akan menambah tatapan kering masyarakat NU ke depan di hadapan generasi muda, atau akan menyia-nyiakan waktu bagi pencarian keteladanan dan kekuatan kelembagaan di mata generasi muda.
Perlunya Keteladanan Elite
Keadaan gen-Z Nahdliyin sekarang ini, selain terkendala oleh minimnya lapangan pekerjaan, lesunya ekonomi, juga terkelola oleh perubahan kesadaran sejak 1984 di tengah kenegaraan pasca reformasi yang banyak melakukan liberalisasai politik-ekonomi. Menyebabkan ekonomi kerucut, adanya jurang kaya miskin yang terus-menerus berkembang. Memang, sulit dipungkiri bahwa perubahan sejak 1984 (sejak disepakatinya Khittah NU) dalam bidang pemikiran dan gerakan NU, telah membawa semangat transformasi untuk memikirkan masalah-masalah sosial-kemasyarakatan masyarakat basis sebagaimana yang ada dalam Deklarasi Khittah NU, tetapi hasil-hasilnya masih perlu pembuktian nyata.
Semangat transformatif Khittah NU yang telah membentuk kreativitas, tampaknya, sebagiannya juga dibalut dengan tumbuhnya “kesadaran semi-empiris” dalam orientasi gerak dan melihat kehidupan, yang menjadikan generasi baru tumbuh dalam pergumulan situasi ipoleksosbudhankam yang defisit keadilan dan pemerataan ekonomi, tumbuhnya liberalisasi pendidikan, dan kerentanan kehidupan masyarakat bawah. Mereka ini, juga mengalami tumbukan dalam formasi sosial sekularisasi kehidupan, yang terus merangsek dalam kehidupan pertarungan, kompetisi, perebutan ruang, dan lain-lain, yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Artinya, bahwa situasi yang sulit dalam ekonomi-politik berpadu dengan proses sekularisasi kehidupan dialami oleh generasi muda. Bagi mereka yang sadar miqat kehidupannya dalam hamparan sajadah waktu, sebagai khalifah fil ardh dan realisasi ketauhidan Aswaja an-nahdliyyah untuk memakmurkan bumi, proses kehidupannya dijalani dengan hati-hati meski menghadapi turbulensi, kesulitan, dan terus berkhidmah `alaa sabili NU dan `alaa harakah NU. Dijalaninya hidup, dengan tetap melihat Dzat yang Ahad dalam ragam tajalli-Nya, baik dalam tajalli kemurkaan atau tajalli rahmani dalam ekopol yang ada di jam`iyah dan Indonesia umumnya, dengan semangat ketenangan yang bertenaga menjalani kehidupan jam`iyah.
Akan tetapi, bagi mereka yang telah mengalami proses sekularisasi yang terlalu masuk ke dalam diri dan komunitas, saat yang sama mengalami kesulitan-kesulitan kehidupan yang menampar-namparnya, hamparan sikap dan kehidupan terbesar melihat kehidupan adalah pertarungan, kompetisi, dan perebutan ruang juga tidak bisa dipungkiri. Sementara miqat kehidupannya dengan nilai-nilai utama dan batin-geraknya mengalami pemuaian, karena lebih banyak berpijak pada miqat pertarungan, kompetisi, dan perebutan ruang saja. Mereka masuk dalam formasi keretakan kesatuan ruang dengan waktu sebagai realisasi tajalli-tajalli Dzat yang Ahad, sebagai bagian dari cerminan keretakan Aswaja an-nahdliyyah di tengah gejolak kehidupan dalam peran-peran NU dan diri mereka sendiri.
Lebih-lebih para generasi muda ini juga melihat, belum adanya titik maksimal transformasi oleh kelembagaan NU dalam mendinamisir keadilan bangsa-masyarakat dan redistribusi aset-aset kekayaan dan pemerataan ekonomi, yang akan menyentuh nasib mereka dan orang-orang tua mereka di desa-desa dan kota-kota. Bagi mereka, keterkaitan dengan NU hanya terkait dengan tradisi-tradisi, dan mungkin sebagian ikut acara-acara formalnya, tidak lebih; atau berusaha menjauh dari lapangan kelembagaan NU yang semakin sempit dan diperebutkan, dan semakin kedodoran dalam mengakselerasi ipoleksosbudhankam-nya yang semakin tidak memberi optimisme, meski mereka tetap mengamalkan tradisi NU.
Nah, di antara mereka yang jenis pertama dan kedua, tentu tidak sama jumlah besarannya di antara gen-Z. Dan salah satu sumber data dari survei Lakpesdam pusat (2025), untuk menandai ini, adalah munculnya banyak di antara generasi muda Nahdliyin yang memiliki idola-idola bukan orang NU, selain tentu saja masih ada juga tokoh-tokoh NU. Mereka dalam jumlah cukup besar mengidolakan tokoh-tokoh seperti Adi Hidayat dan sejenisnya. Ini membuktikan bahwa kesadaran yang tumbuh di kalangan NU, sebagai “masyarakat Aswaja yang dinamis terbuka juga membawa arti “kegamangan”, “tidak terlalu” percaya pada pusat otoritas kelembagaan jam`iyah dan tokoh-tokohnya. Alasannya tentu saja, bisa ditelisik dan banyak jenisnya, dan di antaranya kita menyerap dari diskusi-diskusi di lapis kultural: masih minimnya keteladanan dan absennya peran-peran ekonomi-politik kerakyatan yang semestinya dimainkan oleh NU, meski ada usaha-usaha tertentu yang telah dilakukan.
Dari refleksi dan diskusi-diskusi yang sering terjadi di kalangan gerakan-gerakan kultural NU, yang informasinya kita serap soal ini memerlukan dua hal: pertama, ada keinginan dari generasi muda agar kelembagaan NU menyuarakan keadilan-pemerataan, bukan hanya dengan keputusan bahsul masail, tetapi juga ada pengawalan dalam kebijakan dan distribusi ekonomi yang dilakukan negara-pemerintah agar berpihak kepada keadilan dan pemerataan; kedua, perlunya keteladanan elite-elite NU untuk tidak membonsai Khittah NU hanya berhubungan dengan politik yang rame saja ketika pemilu dan ketika muktamar saja, tetapi juga lebih diperkuat berhubungan dengan keberpihakannya kepada masyarakat bawah yang sedang mengalami persoalan-persoalan krusial ekonomi.
Keteladanan elite dengan perilaku-perilakunya yang terukur, adil, dan ketenangan yang bertenaga yang dicerminkan dari perwujudan ngaji-ngaji-nya di pesantren, langar dan masjid, terus-menerus dicermati generasi muda NU, berkaitan dengan: isu politik praktis, perebutan DPD, politik uang dalam Pemilu, pembagian kue ekonomi dari transformasi ekonomi kelembagaan NU, keberpihakannya pada tatanan dunia yang adil dan multipolar, kerusakan lingkungan, homeless, dan lain-lain. Tanggapan atas isu-isu ini, akan menentukan pembentukan jangkar kehidupan generasi muda gen-Z ke depan.
Banyak yang kita dengarkan transformasi dan pengelolaan kelembagaan untuk tujuan keadilan dan pemerataan ekonomi, dampaknya masih mengerucut, dan belum begitu menyentuh ke bawah. Terbukti dengan jumlah kaum miskin yang masih besar di kalangan desa dan pinggiran kota, yang tentu saja banyak berasal dari kantong Nahdliyin, sebagaimana dicatat BPS, pada Maret 2025 sebanyak 23,85 juta orang (8,47%). Padahal, respons soal ini oleh kepemimpinan NU, akan ikut ikut menentukan arah generasi gen-Z yang jenis kedua di atas, yang jumlahnya tidak bisa diabaikan: akan kian membesar.
Dua agenda yang kita sebut itu perlu menjadi perhatian para peserta muktamar. Sebab bila ini tidak mendapatkan perhatian serius akan membawa arti bahwa NU akan jatuh terus-menerus ke tangan oligarki ekonomi-politik yang muncul dalam perhelatan-perhelatan besar, baik masa pemilu atau momen muktamar; NU akan dilihat mengalami masa berkabung, menjadi bendungan kering, dan kurang memiliki kemampuan mentransformasikan generasi mudanya, tidak ada yang menarik dari NU; dan NU hanya menjadi wasilah pemusatan ekonomi politik bagi elitenya, misalnya untuk jabatan timses pemilu, wapres, dan sejenisnya.
Kegamangan akan dialami generasi muda bila dua hal itu tidak memperoleh tanggapan yang tepat dan bijak oleh muktamirin. Bila jenis kedua dari generasi muda Nahdliyin semakin membesar, kita patut terus-menerus merefleksikan dan muhasabah. Tentu kita tidak mengharapkan ini, dan berkomitmen agar jenis pertama generasi muda menjadi lebih besar, dengan dipandu oleh keteladanan elite dalam mengimplementasikan cara hidup Aswaja an-nahdliyyah di dalam ranah ipoleksosbudhankam. Wallaahu Al-Musta`aan, waftah lana minal khair kulla mughlag.
Nur Khalik Ridwan, Wakil Rais Syuriyah NU Sitimulyo Piyungan, Bantul





Comments are closed.