Tue,25 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Warga Terdampak Gempa NTT Masih Bertahan di Tenda Tradisional, Trauma Belum Pulih

Warga Terdampak Gempa NTT Masih Bertahan di Tenda Tradisional, Trauma Belum Pulih

warga-terdampak-gempa-ntt-masih-bertahan-di-tenda-tradisional,-trauma-belum-pulih
Warga Terdampak Gempa NTT Masih Bertahan di Tenda Tradisional, Trauma Belum Pulih
service

Jakarta, NU Online

Warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memilih bertahan di tenda tradisional meski pemerintah telah menyalurkan tenda bantuan. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan penggunaan tenda serta trauma akibat gempa susulan.

Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sikka Aklamin mengatakan kondisi itu ditemukan ketika pihaknya mendatangi sejumlah titik pengungsian.

Menurutnya, sebagian warga masih menggunakan tenda berbahan bambu karena belum terbiasa memasang tenda bantuan.

“Kita ke sana memang ada beberapa titik yang memang masih poskonya itu masih dengan bambu atau tendanya itu masih tradisional, hanya beberapa saja yang tersentuh pemerintah. Ketika pemerintah memberikan tenda juga tidak diajari bagaimana pengunaannya jadi mereka memilih kembali menggunakan tenda tadisional,” katanya kepada NU Online pada Senin (24/8/2026).

“Ketika kami datang, kami juga memberikan edukasi mendirikan tenda yang lebih canggih atau tenda yang bisa digunakan sekararang,” lanjutnya.

Aklamin mengatakan kesulitan pemasangan membuat warga kembali menggunakan tenda bambu. Rasa aman setelah gempa 15 Agustus 2026 juga menjadi pertimbangan di sejumlah titik terdampak di Kabupaten Sikka.

“Mereka masih bertahan di tenda karena memang mereka masih teringat gempa kemarin (15 Agustus 2026) yang suasananya persis kaya ketika gempa di NTT 1992,” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa trauma warga masih belum pulih, terlebih gempa susulan dengan magnitudo cukup besar masih terus terjadi.

“Setelah pasca itu masih ada goyang-goyangan atau masih sering adanya gempa susulan itu mereka merasa bahwa lebih baik kita di tenda daripada kita di dalam rumah gitu,” ucapnya.

Trauma itu juga dirasakan keluarga Aklamin. Ia menceritakan saat gempa terjadi setelah shalat Subuh, keluarganya segera keluar rumah untuk mencari tempat aman.

“Ketika gempa Sabtu kemarin itu saya posisi rebahan di kasur karena setelah shalat Subuh, istri saya memberi tahu bahwa di rumah miring-miring. Jadi, saya, istri, dan anak-anak langsung bergegas keluar dan mencari tempat yang jauh dari bangunan dan pohon,” tuturnya.

Menurutnya, anak berusia empat tahun pun mengalami trauma. “Anak saya yang usianya empat tahun juga trauma dari gempa kencang kemarin. Dia suka bilang ini masih sering goyang-goyang, kami takut. Anak kecil saja alami trauma apalagi yang dewasa,” ucapnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.