Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِينِ، عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Adalah sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa menguatkan rasa syukur sekaligus ketakwaan kepada Allah swt yang telah menganugerahkan nikmat dalam kehidupan yang tidak bisa kita hitung satu persatu. Sebagai hamba yang beriman, sudah seharusnya kita menjaga nikmat agung dalam kehidupan ini untuk beribadah kepada Allah dan juga dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan.
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 18:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٨
Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan kali ini, khatib akan menyampaikan khutbah berjudul: Belajar Amanah Kepemimpinan dari Rasulullah SAW. Materi ini menjadi penting sekali karena kepemimpinan dalam Islam bukanlah sekadar kedudukan, jabatan, kekuasaan, atau kesempatan untuk mendapatkan penghormatan. Kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang melekat di pundaknya.
Rasulullah bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.” (HR al-Bukhari).
Dalam hal kepemimpinan, Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan utama. Beliau bukan hanya pemimpin umat, tetapi juga pemimpin yang menunjukkan secara nyata bagaimana kekuasaan dijalankan dengan kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, keteladan, keterbukaan, dan keberpihakan kepada kemaslahatan.
Perlu diingat bahwa pemimpin bukanlah orang yang paling berhak mendapatkan fasilitas, pelayanan, dan penghormatan. Pemimpin justru adalah orang yang harus paling siap memberikan pelayanan, pengorbanan, dan keteladanan.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabary di dalam Kitab Khulashatu Sa’iri Sayyidil Basyar, juz I, halaman 87 disebutkan teladan nyata Nabi Muhammad sebagai pemimpin:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ، فَأَمَرَ بِإِصْلَاحِ شَاةٍ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلَيَّ ذَبْحُهَا، وَقَالَ آخَرُ: عَلَيَّ سَلْخُهَا، وَقَالَ آخَرُ: عَلَيَّ طَبْخُهَا،
Artinya: “Sungguh, Nabi saw suatu ketika berada di tengah rombongan safar-nya. Kemudian ia memerintahkan agar membereskan dengan baik seekor kambing yang bersama mereka. Lalu tiba-tiba seorang lelaki berkata, ‘Ya Rasulallah, biar aku saja yang menyembelihnya. Lalu datang lelaki lain berkata, ‘Aku yang memotongnya, Wahai Rasul.’ Lelaki lain lagi berkata, ‘Aku yang bagian memasaknya, ya rasul.’
فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَعَلَيَّ جَمْعُ الْحَطَبِ. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، نَحْنُ نَكْفِيكَ. فَقَالَ: قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكُمْ تَكْفُونِي، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أَتَمَيَّزَ عَلَيْكُمْ، فَإِنَّ اللهَ يَكْرَهُ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرَاهُ مُتَمَيِّزًا بَيْنَ أَصْحَابِهِ. وَقَامَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ الْحَطَبَ.
“Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Aku bagian yang mengumpulkan kayu bakarnya.’ Para sahabat bersahutan menjawab, ‘Ya Rasulullah, biarlah kami saja, sudah mencukupi.’ Rasulullah menjawab, ‘Aku tahu bahwa dengan kalian saja sudah mencukupi. Tetapi aku tidak suka sebagai yang diistimewakan di antara kalian, karena sungguh Allah swt membenci melihat hamba-Nya mengistimewakan diri dari para sahabatnya. Setelah itu, Rasulullah saw lalu bangkit dan mencari kayu bakar.”
Dari kisah ini, siapapun yang diamanahi sebagai pemimpin harus tidak boleh merasa dirinya lebih tinggi daripada orang-orang yang dipimpinnya. Jabatan boleh tinggi, tetapi hati harus tetap rendah. Sebagai pemimpin, hindari niatan mencari perlakuan istimewa karena jabatannya.
Seorang pemimpin sejati tidak bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari jabatan ini?” tetapi bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memberikan manfaat dari jabatan yang telah diamanahkan ini?”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keteladanan Rasulullah SAW juga tampak dalam keterbukaan beliau terhadap pendapat orang lain. Pemimpin tidak berarti harus selalu merasa paling benar. Seorang pemimpin yang amanah harus mampu membedakan antara otoritas dan ego. Otoritas diperlukan untuk mengambil keputusan, tetapi ego harus dikendalikan agar keputusan tidak hanya didasarkan pada keinginan pribadi.
Karena itu, musyawarah merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Pemimpin yang mau mendengar akan memperoleh lebih banyak perspektif. Pemimpin yang bersedia menerima kritik akan lebih mudah memperbaiki kekurangan. Dan pemimpin yang terbuka terhadap masukan akan memiliki peluang lebih besar mengambil keputusan yang maslahat.
Pelajaran kepemimpinan Rasulullah SAW pada akhirnya bukan hanya untuk pemimpin tertentu seperti para kepala negara, pejabat, ketua organisasi, atau pemimpin lembaga. Setiap orang adalah pemimpin dalam lingkupnya masing-masing. Orang tua memimpin keluarga. Guru memimpin murid. Ketua organisasi memimpin anggotanya. Pimpinan lembaga memimpin bawahannya. Bahkan setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nisa: 58)
Karena itu, mari kita bertanya kepada diri masing-masing. Apakah amanah yang kita terima sudah kita jalankan dengan jujur? Apakah kita masih mau mendengar kritik? Apakah kita bersedia menerima masukan? Apakah kita menggunakan jabatan untuk melayani atau justru haus untuk dilayani?
Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Yakni pemimpin yang mau bermusyawarah, terbuka mendengarkan pendapat, mampu berkomunikasi dengan baik, memiliki empati, serta mencintai orang-orang yang dipimpinnya.
Maka itu, Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari belajar amanah dari Rasulullah SAW. Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, penghormatan akan berlalu, tetapi amanah akan tetap dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً، وَعَنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung




Comments are closed.