Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Beijing Ultimatum Amerika: Kerja sama China-Iran Jangan Diganggu..!

Beijing Ultimatum Amerika: Kerja sama China-Iran Jangan Diganggu..!

beijing-ultimatum-amerika:-kerja-sama-china-iran-jangan-diganggu.!
Beijing Ultimatum Amerika: Kerja sama China-Iran Jangan Diganggu..!
service

Arina.id – Posisi China sebagai mitra strategis Iran tidak bisa diganggu oleh Amerika Seriat (AS). Hal ini ditegaskan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, ketika mengomentari kampanye perang ekonomi total rezim Donald Trump untuk menekan Teheran.

Beijing bahkan mengultimatum Washington agar tidak sekalipun mengganggu kerja sama antar negara yang dilindungi hukum internasional. “Kerja sama China dengan Iran dilakukan dalam kerangka hukum internasional dan tidak boleh diganggu,” katanya.

Dikutip dari Anadolu, Lin memperingatkan bahwa kampanye perang ekonomi sekala luas untuk mengisolasi Iran berisiko mengganggu tatanan keuangan global. Ia juga menekankan perlunya pihak-pihak yang berkonflik menggelar perundingan untuk mengakhiri pertikaian.

“Perang ekonomi dan tekanan maksimum bukanlah solusi,” kata Lin ketika ditanya mengenai sanksi baru yang diluncurkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin kemarin, 25 Agustus 2026.

Menurut Lin, langkah semacam itu “hanya akan menyebabkan eskalasi dan risiko meluasnya konflik, yang akan mengganggu tatanan ekonomi dan keuangan global serta merugikan kepentingan sah negara-negara lain.”

“Tugas mendesak saat ini adalah mendorong deeskalasi dan kembali ke dialog serta perundingan sesegera mungkin,” katanya sambil menegaskan negaranya “akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya.”

China merupakan salah satu importir terbesar minyak Iran. Kedua negara mempertahankan “kemitraan strategis komprehensif” yang terutama didorong oleh hubungan ekonomi dan impor energi dengan harga diskon. Volume perdagangan bilateral kedua negara meningkat menjadi lebih dari USD41 miliar pada tahun lalu.

Lin mengatakan China “memantau secara saksama perkembangan situasi” dan kembali menegaskan penolakan Beijing terhadap sanksi sepihak dan ilegal yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional maupun otorisasi Dewan Keamanan PBB tersebut.

Bessent sebelumnya mengatakan tujuan AS adalah mengucilkan Iran, memutus setiap jalur ekonomi yang menopang negara yang disebutnya “dipimpin rezim tirani” itu. Ia menyatakan, AS tidak lagi sekadar mengelola ancaman Iran, tetapi berupaya mengakhirinya. 

Ia menambahkan bahwa “kekuatan ekonomi Amerika” memungkinkan Washington melancarkan tekanan finansial tersebut bersamaan dengan operasi militer.

Terkait China, Bessent mengatakan “cara terbaik untuk berinteraksi dengan negara-negara adalah melalui diplomasi tertutup,” seraya menambahkan bahwa Washington saat ini sedang menyelaraskan ekspektasi dengan Beijing.

Rakyat Amerika muak dengan kampanye perang Trump pada Iran

Kampanye perang pemerintahan Trump terhadap Teheran sepertinya justru menjadi “senjata makan tuan”. Kini, rakyat Amerika justru merasa muak dan tidak percaya lagi dengan janji-janji Trump terhadap perang sepihaknya pada Iran tersebut.

Hal ini nampak dari melemahnya dukungan rakyat AS sendiri pada perang. Penurunan ini bahkan disebut jatuh ke level terendah sejak tahap awal perang dimulai pada akhir Februari 2026. Apalagi, seperti dikutip dari Aljazeera, belakangan dukungan dari basis massa Partai Republik, partai yang mengusung Trump menjadi presiden, juga turut menukik. 

Hal ini dibuktikan dalam jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos dan dipublikasikan pada Senin kemarin, 24 Agustus 2026. Hasilnya, hanya 31 persen warga Amerika yang disurvei mengatakan mendukung aksi militer AS terhadap Iran, turun dari 37 persen pada bulan Maret dan 34 persen pada awal bulan ini. 

Dukungan di antara responden Partai Republik turun menjadi 69 persen, dibandingkan dengan 77 persen pada bulan Maret. Trump sebelumnya selalu membela kampanye militer tersebut sebagai tindakan yang diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. 

Konflik dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran. Namun, dampak ekonomi perang menjadi kekhawatiran bagi warga Amerika. Iran telah mempertahankan blokade de facto terhadap ekspor minyak dari kawasan tersebut, yang berkontribusi pada kenaikan harga bensin AS hingga mendekati rekor tertinggi. 

Kerugian lain, perang Trump justru membebani anggaran pertahanan negara. Pekan pertama perang menghabiskan sekitar USD6 miliar (sekitar Rp101 triliun), dengan biaya operasi yang terus membengkak karena pengerahan aset tambahan di Timur Tengah.

Hingga Juli 2026, total pengeluaran anggaran militer AS dilaporkan telah menguras hingga USD37,5 miliar (mencapai kisaran Rp671-672 triliun dalam eskalasi yang lebih luas) akibat mahalnya harga rudal pencegat, jam terbang pesawat pengebom, dan pemeliharaan kapal induk.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.