Thu,3 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Dari Dapur ke Pekarangan: Perempuan Kota dan Pertaruhan Ketahanan Pangan

Dari Dapur ke Pekarangan: Perempuan Kota dan Pertaruhan Ketahanan Pangan

dari-dapur-ke-pekarangan:-perempuan-kota-dan-pertaruhan-ketahanan-pangan
Dari Dapur ke Pekarangan: Perempuan Kota dan Pertaruhan Ketahanan Pangan
service

Bincangperempuan.com- Setiap kali harga bahan pokok merambat naik, guncangan pertama hampir selalu bergetar di ruang dapur. Ketika harga beras, cabai, minyak goreng, dan sayur-mayur berfluktuasi tanpa kepastian, para pengelola dapur—yang sebagian besar adalah perempuan kota—harus memutar otak ekstra keras. Di tengah desakan biaya hidup perkotaan yang kian mencekik, ruang kompromi anggaran belanja semakin menyempit. Namun, di antara himpitan ekonomi tersebut, muncul gerakan akar rumput dari daya tahan yang adaptif yaitu urban farming atau pertanian perkotaan.

​Urban farming pada dasarnya adalah praktik bercocok tanam di kawasan perkotaan dengan memanfaatkan ruang-ruang terbatas. Jika dulu pertanian diidentikkan dengan hamparan sawah luas di pedesaan, kini benih-benih pangan justru menyembul dari pekarangan rumah yang sempit, pot-pot bertingkat di lorong gang, dinding vertical garden, hingga sudut-sudut atap beton (rooftop). Bagi perempuan di kota, aktivitas menanam ini berkembang menjadi lebih dari sekadar hobi pengisi waktu senggang atau hiasan hijau yang estetik. Ini adalah strategi bertahan hidup, bentuk perlawanan terhadap inflasi pangan, sekaligus langkah nyata dalam merebut kembali kedaulatan atas apa yang mereka makan.

Bertahan Menanam di Tengah Kota 

​Geliat urban farming yang digerakkan oleh perempuan kini dapat dijumpai di berbagai kota di Indonesia. Kelompok Wanita Tani (KWT) Ersa berada di RT 01/RW 05, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Kelompok ini beranggotakan para ibu rumah tangga, beberapa di antaranya telah memasuki usia lanjut.

Pada awal pembentukannya, KWT Ersa memiliki 21 anggota. Namun, seiring waktu jumlah anggota aktif berkurang dan kini tersisa sembilan orang.

Meski jumlah anggota semakin sedikit, mereka tetap menjalankan kegiatan pertanian secara bersama-sama. Proses penyemaian, pindah tanam hingga panen dilakukan secara gotong royong. Para anggota juga menerapkan sistem piket harian untuk memastikan tanaman tetap terawat. Anggota yang mendapat jadwal piket bertugas menyiram tanaman serta memeriksa kondisi instalasi hidroponik.

Komoditas utama yang dibudidayakan KWT Ersa adalah pakcoy dan kangkung. Kedua jenis sayuran tersebut dipanen secara rutin setiap bulan.

Hasil panen KWT Ersa juga memiliki jalur distribusi tersendiri. Kelompok ini telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Masjid Al Awal yang berada di RT 01/RW 05, Kelurahan Depok Jaya. Melalui kerja sama tersebut, pihak masjid membeli hasil panen dari KWT Ersa untuk kemudian dibagikan kepada jamaah salat Jumat.

Kerja sama ini tidak hanya membantu pemasaran hasil pertanian anggota, tetapi juga menjadi cara bagi kebun kecil yang dikelola para ibu rumah tangga ini untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Ersa Depok Jaya usai panen bersama, Jumat 28 Agustus 2026. (foto: dok/istimewa)

​Di Kota Magelang, Jawa Tengah, hadirnya Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi jawaban atas tantangan semakin tergerusnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan pemukiman. Ibu-ibu rumah tangga yang semula memiliki keterbatasan wawasan di bidang pertanian, dihimpun dan dibekali keterampilan mengolah pekarangan rumah. Hasilnya sangat terasa: anggota KWT mampu menekan pengeluaran belanja harian karena kebutuhan sayur harian dapat dipetik langsung dari pekarangan sendiri. Lebih dari itu, surplus hasil panen yang dipasarkan mampu memberikan pemasukan tambahan bagi kas keluarga.

​Bergeser ke barat Nusantara, di Kelurahan Pasie Nan Tigo dan Padang Sarai, Kota Padang, Sumatera Barat, perempuan setempat menjadikan urban farming sebagai strategi adaptasi terhadap perubahan iklim dan risiko bencana. Partisipasi aktif perempuan yang mencapai 75 persen dalam kegiatan bertanam ini berhasil meningkatkan ketersediaan pangan bergizi di tingkat rumah tangga. Di wilayah pesisir yang rentan ini, kemandirian pangan yang dibangun oleh tangan-tangan perempuan terbukti mampu meningkatkan ketangguhan ekonomi dan sosial keluarga dalam menghadapi ketidakpastian iklim maupun krisis ekonomi.

​Sementara itu di Kota Yogyakarta, gerakan pertanian perkotaan berbasis komunitas tumbuh subur di lorong-lorong pemukiman padat. Kelompok tani wanita di kota gudeg ini mengoptimalkan lahan pekarangan dan fasilitas umum yang terabaikan menjadi unit produksi pangan yang produktif. Lebih dari sekadar tempat menanam, kelompok ini berfungsi sebagai wadah belajar bersama (learning hub) dan platform kooperatif. Melalui semangat gotong royong dan sistem berbagi hasil, warga sekitar mampu menjamin ketersediaan pangan segar yang murah dan sehat tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar luar.

​Pengalaman inspiratif juga datang dari Kampung Ijo, Kelurahan Kendangsari, Kota Surabaya. Di kampung padat ini, pemberdayaan perempuan melalui Kelompok Tani Maju Jaya Bersama dilakukan secara terstruktur melalui tiga tahapan utama: penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan. Pada tahap awal, warga disadarkan akan potensi lahan sempit di sekitar mereka. Selanjutnya, mereka dibekali keterampilan teknis bertanam dan mengelola organisasi. Puncaknya, pada tahap pendayaan, perempuan diberikan otoritas penuh untuk mengelola hasil panen serta jalur pemasarannya secara mandiri. Inovasi ini tidak hanya menghijaukan lingkungan padat kota, tetapi juga berhasil melahirkan kemandirian ekonomi bagi perempuan setempat.

​Perempuan, Pangan, dan Realitas Beban Ganda

Ketika harga sembako melonjak, perempuan adalah pihak pertama yang merasakan tekanan mental dan finansial untuk memastikan seluruh anggota keluarga tetap dapat makan dengan layak. ​Oleh karena itu, ketika perempuan mengambil alih sekop, benih, dan media tanam, mereka sedang melakukan tindakan penyelamatan ekonomi yang sangat strategis. Dengan memetik cabai, bayam, tomat, atau kangkung dari kebun sendiri, sebuah rumah tangga dapat menghemat belasan hingga puluhan ribu rupiah setiap harinya—sebuah angka yang sangat berarti bagi stabilitas dompet keluarga perkotaan.

​Namun, di balik narasi keberhasilani, terdapat sudut pandang kritis yang tidak boleh diabaikan. Urban farming bukanlah beban tunggal yang seluruhnya ditimpakan kepada perempuan. Jangan sampai kewajiban menjaga ketahanan pangan keluarga justru menambah beban kerja domestik (unpaid care work) yang sudah sangat menumpuk pada pundak perempuan.

​Perempuan kota yang berjuang menanam pangan di tengah keterbatasan air, benih, dan lahan sering kali menghadapi tantangan teknis yang berat—mulai dari cuaca ekstrem pada musim hujan, serangan hama, hingga minimnya pendampingan dari pemerintah daerah. Kerap kali, kelompok tani wanita di tingkat RT/RW hanya dijadikan pelengkap program simbolis kedinasan tanpa kepastian hak guna lahan jangka panjang atau dukungan pemasaran pascapanen yang berkelanjutan.

​Merawat Harapan dari Akar Rumput

Dari pekarangan yang sempit dan pot-pot sederhana, perempuan Indonesia telah menunjukkan kelasnya sebagai agen perubahan yang tangguh, kreatif, dan mandiri.

​Namun, agar gerakan ini tidak sekadar menjadi fenomena bertahan hidup sementara, diperlukan sinergi nyata dari pemerintah kota dan pihak swasta. Dukungan berupa penyediaan sarana produksi pertanian, pelatihan teknologi tepat guna, kepastian ruang publik hijau, hingga jembatan pemasaran hasil panen harus disediakan secara sistematis. ​Pada akhirnya, urban farming di tangan perempuan kota adalah strategi kedaulatan pangan dan keselamatan ekonomi keluarga yang bisa dilakukan bersama.

Referensi:

  • Febrianti, M. A., & Casmiwati, D. (2025). Pemberdayaan perempuan melalui inovasi urban farming di Kampung Ijo Kelurahan Kendangsari Kota Surabaya. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(2), 1785–1793. https://doi.org/10.54371/jiip.v8i2.6936
  • Nugroho, R. W., Kusnandar, K., & Sutrisno, J. (2022). Peran kelompok wanita tani dalam menjaga ketahanan pangan melalui praktik urban farming di Kota Magelang. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Agribisnis. https://jurnal.unigal.ac.id/prosiding/article/view/7374
  • Rinawati. (2024). Peran perempuan dalam penerapan urban farming untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ketangguhan keluarga di Kelurahan Pasie Nan Tigo dan Padang Sarai. Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian, 4(2), 730–737. https://doi.org/10.31933/ejpp.v4i2.1186
  • Wulandari, R., Risvansuna, F. F., & Mustika, D. (2026). Community-based urban agriculture as a strategy for sustainable food security: Evidence of Yogyakarta, Indonesia. BIO Web of Conferences, 208, Article 02003. https://doi.org/10.1051/bioconf/202620802003

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.