Kita diwajibkan berperilaku jujur dalam setiap tingkah laku kita, baik dalam ucapan, maupun perbuatan. Cara untuk berperilaku jujur kita harus berteman dengan orang-orang yang jujur, supaya kita bisa mengambil manfaat dari mereka dan kita bisa mencontoh kejujurannya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Terkait dengan perilaku kejujuran Syekh Abdul Qadir Isa dalam karyanya Haqaiq Anit Tasawwuf (Juz, 1, hlm. 150-154) mengulas tentang ruang lingkup arti sebuah kejujuran.
Syekh Abdul Qadir Isa menyatakan, “Sebagian para ulama sufi mengulas tentang arti sebuah kejujuran, diantara mereka ada yang mengulas secara panjang lebar, dan ada pula yang meringkasnya.”
Selanjutnya Syekh Abdul Qadir Isa mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali dan pernyataan Syekh Zakaria Al-Ansari terkait arti sebuah kejujuran. Menurut penuturan Imam Al-Ghazali kejujuran dapat diartikan dalam berbagai hal. Yaitu, jujur dalam perkataan, jujur dalam niat dan kehendak, jujur di dalam azam (tekad), jujur di dalam menunaikan azam (tekad) jujur di dalam perbuatan, dan yang terakhir jujur di dalam mengimplementasikan maqamat (kedudukan) di dalam agama.
Sedangkan menurut Syekh Zakaria Al-Ansari, kejujuran adalah perkara atau sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi, baik kenyataan itu diungkapkan di lisan, perilaku, dan hati. Contohnya, lisan mengabarkan suatu peristiwa yang terjadi dengan sebenarnya, hati mempunyai kehendak yang kuat, dan perilaku mempunyai rasa semangat yang kuat dan kecintaan.
Kemudian Syekh Abdul Qadir Isa menjelaskan perbedaan pandangan antara orang awam (umum) dan para ulama sufi terkait arti sebuah kejujuran. Menurut penuturan Syekh Abdul Qadir Isa, orang awam (umum) dalam memaknai arti sebuah kejujuran itu sangat pendek sekali, yaitu, sebatas kejujuran di lisan saja, artinya bila seseorang berbicara sesuai fakta yang ia alami, maka ia sudah termasuk golongan orang-orang yang jujur.
Berbeda dengan pandangan para ulama sufi, menurut mereka, arti sebuah kejujuran itu harus disandarkan kepada jujurnya lisan, hati, dan perilaku atau perbuatan, tidak cukup hanya jujur di lisan atau ucapan saja.
Apabila seseorang telah menghiasi diri dengan sifat kejujuran, baik lisan, perilaku, dan hati, maka ia akan memperoleh keimanan yang kuat, dan derajat yang tinggi di sisi tuhannya. Untuk merealisasikan hal tersebut, ia harus jujur dalam beberapa hal, diantaranya ia harus jujur dalam menuntut ilmu, yaitu, murni untuk menghilangkan kebodohan, tujuannya ingin mengamalkan ilmu yang ia pelajari, istiqamah bangun malam supaya ia memperoleh keutamaan.
Dan ia harus jujur dalam beramal, beramal adalah buah dari ilmu yang dipelajarinya, karena dengan ilmu seseorang akan bertambah taqwa (takut kepada Allah) dan dengan ilmu yang dipelajarinya ia akan meraih kesempurnaan dalam beribadah.
Dan juga ia harus jujur dalam melakukan taubat, yaitu, taubatan nasuha (taubat semurni-murninya) karena bertaubat adalah dasar dari segala perbuatan kebaikan. Dan bertaubat adalah awal untuk meraih derajat kesempurnaan di sisi tuhannya.
Begitu juga hatinya harus jujur untuk tidak hubbud ad-dunya (mencintai dunia) ia harus memerangi nafsunya untuk menghilangkan kecintaan terhadap dunia, caranya dengan berbagi kepada sesama, bersedekah, dan tolong menolong dalam kebaikan, sehingga hatinya bersih atau terlepas dari kecintaan terhadap gemerlapnya dunia. Wallahu a’lam bissawab.





Comments are closed.