Wed,2 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Arti Sebuah Kejujuran Menurut Ulama Sufi

Arti Sebuah Kejujuran Menurut Ulama Sufi

arti-sebuah-kejujuran-menurut-ulama-sufi
Arti Sebuah Kejujuran Menurut Ulama Sufi
service

Kita diwajibkan berperilaku jujur dalam setiap tingkah laku kita, baik dalam ucapan, maupun perbuatan. Cara untuk berperilaku jujur kita harus berteman dengan orang-orang yang jujur, supaya kita bisa mengambil manfaat dari mereka dan kita bisa mencontoh kejujurannya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Terkait dengan perilaku kejujuran Syekh Abdul Qadir Isa dalam karyanya Haqaiq Anit Tasawwuf (Juz, 1, hlm. 150-154) mengulas tentang ruang lingkup arti sebuah kejujuran. 

Syekh Abdul Qadir Isa menyatakan, “Sebagian para ulama sufi mengulas tentang arti sebuah kejujuran, diantara mereka ada yang mengulas secara panjang lebar, dan ada pula yang meringkasnya.”

Selanjutnya Syekh Abdul Qadir Isa mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali dan pernyataan Syekh Zakaria Al-Ansari terkait arti sebuah kejujuran. Menurut penuturan Imam Al-Ghazali kejujuran dapat diartikan dalam berbagai hal. Yaitu, jujur dalam perkataan, jujur dalam niat dan kehendak, jujur di dalam azam (tekad), jujur di dalam menunaikan azam (tekad) jujur di dalam perbuatan, dan yang terakhir jujur di dalam mengimplementasikan maqamat (kedudukan) di dalam agama.

Sedangkan menurut Syekh Zakaria Al-Ansari, kejujuran adalah perkara atau sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi, baik kenyataan itu diungkapkan di lisan, perilaku, dan hati. Contohnya, lisan mengabarkan suatu peristiwa yang terjadi dengan sebenarnya, hati mempunyai kehendak yang kuat, dan perilaku mempunyai rasa semangat yang kuat dan kecintaan.

Kemudian Syekh Abdul Qadir Isa menjelaskan perbedaan pandangan antara orang awam (umum) dan para ulama sufi terkait arti sebuah kejujuran. Menurut penuturan Syekh Abdul Qadir Isa, orang awam (umum) dalam memaknai arti sebuah kejujuran itu sangat pendek sekali, yaitu, sebatas kejujuran di lisan saja, artinya bila seseorang berbicara sesuai fakta yang ia alami, maka ia sudah termasuk golongan orang-orang yang jujur. 

Berbeda dengan pandangan para ulama sufi, menurut mereka, arti sebuah kejujuran itu harus disandarkan kepada jujurnya lisan, hati, dan perilaku atau perbuatan, tidak cukup hanya jujur di lisan atau ucapan saja.

Apabila seseorang telah menghiasi diri dengan sifat kejujuran, baik lisan, perilaku, dan hati, maka ia akan memperoleh keimanan yang kuat, dan derajat yang tinggi di sisi tuhannya. Untuk merealisasikan hal tersebut, ia harus jujur dalam beberapa hal, diantaranya ia harus jujur dalam menuntut ilmu, yaitu, murni untuk menghilangkan kebodohan, tujuannya ingin mengamalkan ilmu yang ia pelajari, istiqamah bangun malam supaya ia memperoleh keutamaan. 

Dan ia harus jujur dalam beramal, beramal adalah buah dari ilmu yang dipelajarinya, karena dengan ilmu seseorang akan bertambah taqwa (takut kepada Allah) dan dengan ilmu yang dipelajarinya ia akan meraih kesempurnaan dalam beribadah.

Dan juga ia harus jujur dalam melakukan taubat, yaitu, taubatan nasuha (taubat semurni-murninya) karena bertaubat adalah dasar dari segala perbuatan kebaikan. Dan bertaubat adalah awal untuk meraih derajat kesempurnaan di sisi tuhannya.

Begitu juga hatinya harus jujur untuk tidak hubbud ad-dunya (mencintai dunia) ia harus memerangi nafsunya untuk menghilangkan kecintaan terhadap dunia, caranya dengan berbagi kepada sesama, bersedekah, dan tolong menolong dalam kebaikan, sehingga hatinya bersih atau terlepas dari kecintaan terhadap gemerlapnya dunia. Wallahu a’lam bissawab.

Tags:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.