EURO/USD1,17
%-0.02
Oil61,12
%-0.26
BTC0,000000
%0
ETH0,000000
%0
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Daurah Tahqiq Manuskrip, Ikhtiar Beit at-Turath al-Islami Kalimantan Rawat Khazanah Intelektual Ulama Banua

Daurah Tahqiq Manuskrip, Ikhtiar Beit at-Turath al-Islami Kalimantan Rawat Khazanah Intelektual Ulama Banua

daurah-tahqiq-manuskrip,-ikhtiar-beit-at-turath-al-islami-kalimantan-rawat-khazanah-intelektual-ulama-banua
Daurah Tahqiq Manuskrip, Ikhtiar Beit at-Turath al-Islami Kalimantan Rawat Khazanah Intelektual Ulama Banua
0
Share

Share This Post

or copy the link

Banjar, NU Online

Beit at-Turath al-Islami Kalimantan menggelar Daurah Tahqiq Eksklusif Sesi 1 di Markaz Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (11/9/2026).

Penasihat Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, KH Naufal Rasyad mengatakan bahwa manuskrip ini ibarat ingatan kolektif umat Islam yang tersimpan di dalamnya pemikiran ulama-ulama dahulu seperti fatwa, tafsir, tasawuf dan sejarah ulama Banjar yang ditulis dengan tangan.

“Nabi bersabda “al ulama warasatul anbiya”. Artinya ulama itu pewaris para nabi. Warisan itu ada di atas kertas- kertas tua ini. Kalau kita diamkan akan hanyut (rusak) dan bila ditahqiq akan hidup kembali,” jelas Kiai Naufal yang juga merupakan Katib Syuriah PCNU Kabupaten Banjar.

Oleh sebab itu, katanya dalam daurah ini  mengambil tema “mengkaji dan mentahqiq manuskrip sebagai ingatan kolektif untuk menata peradaban.”

“Dalam peribahasa Banjar “Batangkar ilmu bahari kita gali” (artinya diskusi dengan tekad yang kuat ilmu tempo dulu kita gali) supaya peradaban bisa ditata lebih baik,” jelasnya.

Ia berharapkan dalam daurah ini peserta belajar cara membaca arab gundul, belajar ilmu makhtuthat/ilmu naskah kertas dan tinta daripada tulisan-tulisan yang ada, belajar cara mentahqiq sesuai manhaj ulama.

“Daurah ini bukan hanya sekedar latihan tapi merupakan jihad ilmu karena siapa yang menjaga kitab berarti menjaga agama,” terangnya.

Ketua Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, Hasan Rusydi mengatakan tujuan diadakan daurah adalah untuk belajar manuskrip dan mempraktikannya sebagai langkah dalam pelestarian manuskrip.

Rusydi yang dalam daurah ini sebagai pemateri pertama menjelaskan tahqiq makhtuthat adalah menghadirkan kitab sebagaimana yang disusun oleh pengarangnya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sejauh yang memungkinkan.”

“Tahqiq adalah upaya sungguh-sungguh untuk menjadikan teks yang ditahqiq sesuai dengan bentuk aslinya ketika diterbitkan, sebagaimana yang dikehendaki dan disusun oleh pengarangnya, baik dari segi lafaz maupun makna,” jelasnya

Ia juga mengatakan bahwa tahqiq adalah usaha mengembalikan teks sedekat mungkin kepada bentuk yang dikehendaki pengarang, baik lafaz, makna, susunan, maupun kandungannya, berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang tersedia

“Tingkatan keutamaan manuskrip dalam tahqiq ada empat yaitu naskah yang ditulis langsung oleh pengarang, naskah yang telah dikoreksi atau diijazahkan oleh pengarang, naskah yang ditulis pada masa kehidupan pengarang, dan naskah yang ditulis setelah masa pengarang, katanya

Sementara itu, Sekretaris Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, KH Muhammad Nur Ukasyah menjelaskan ilmu tahqiq yang dibahas itu adalah nashnya kalau kulitnya, jilid, watermark itu namanya ilmu makhtuthat.

“Ilmu tahqiq makhtuthat di Indonesia baru mulai populer sekitar 2018/2019 itu saksi KH Ginanjar,” katanya yang merupakan Rais Syuriah PCINU Jordan ini.

Katanya manuskrip (linguistik) itu adalah segala sesuatu yang tertulis. Istilah ini merujuk pada apa yang ditulis tangan dan belum dicetak. Disebut manuskrip untuk membedakannya dari buku yang sudah dicetak kalau setelah dicetak, itu bukan lagi manuskrip.

“Verifikasi manuskrip adalah proses menyajikan manuskrip seakurat mungkin kepada penulisnya,” jelasnya

Dia membeberkan ada empat cara sebelum mentahqiq matan. Pertama harus terbiasa membaca salinan (manuskrip). Kedua, mengetahui istilah atau konvensi dalam khat (tulisan) Arab. Ketiga, memahami topik atau materi dari kitab manuskrip tersebut. Keempat, memanfaatkan referensi-referensi ilmiah yang diperlukan.

Beit at-Turath al-Islami Kalimantan fokus pada pelestarian, digitalisasi, katalogisasi, dan penelitian manuskrip yang berkedudukan di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Pada daurah ini awalnya yang mendaftar ada 230 peserta dan diseleksi menjadi 30 peserta dari Martapura, Banjarbaru, Banjarmasin dan Amuntai. 

0
mutlu
Mutlu
0
_zg_n
Üzgün
0
sinirli
Sinirli
0
_a_rm_
Şaşırmış
0
vir_sl_
Virüslü
Daurah Tahqiq Manuskrip, Ikhtiar Beit at-Turath al-Islami Kalimantan Rawat Khazanah Intelektual Ulama Banua
+ - 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.