Dua pekan pertama sejak akhir Agustus 2026 bertugas dakwah dalam program Dai Penggerak Daeah 3T di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Singkut,Jambi membuat saya kembali memahami makna dakwah.
Demikian pula dari yang saya temukan dalam kebiasaan para santri menjelang Subuh. Untuk membangunkan mereka, tidak cukup hanya dengan memanggil dari luar kamar. Santri perlu didatangi, dibangunkan hingga benar-benar membuka mata, bahkan ditunggu sampai bersiap untuk turun.
Dalam beberapa kesempatan, ada santri yang baru terbangun ketika jamaah Subuh telah selesai. Sebagai seseorang yang datang ke pesantren dengan identitas sebagai dai, saya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih ketika melihatnya. Saya membayangkan bahwa membentuk kebiasaan ibadah ternyata membutuhkan proses yang jauh lebih panjang daripada sekadar memberikan nasihat tentang pentingnya salat berjamaah.
Di sisi lain, saya menemukan sebuah tulisan yang menarik untuk direnungkan: “Hidup sederhana.” Tulisan itu berada di lingkungan masjid pondok. Dalam keseharian, kami melihat bagaimana kesederhanaan menjadi bagian dari kehidupan para santri.
Salah satunya terlihat dari persoalan air. Kami mendapati santri yang minum langsung dari air kran. Bagi saya yang datang dari luar lingkungan tersebut, pemandangan itu sempat mengundang pertanyaan.
Namun, semakin lama berada di sana, saya belajar bahwa dakwah juga membutuhkan kemampuan untuk membedakan antara sesuatu yang merupakan bagian dari nilai kesederhanaan dan sesuatu yang memang masih menjadi kebutuhan yang perlu diperhatikan.
Saya juga menemukan bahwa persoalan pendidikan di pesantren tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca atau kebiasaan belajar santri. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan pembelajaran, baik diniah maupun umum, juga tidak selalu berlangsung sebagaimana yang diharapkan.
Temuan-temuan itu membuat saya menyadari bahwa sebuah pesantren tidak hanya dibangun oleh gedung, masjid, kitab, atau jadwal kegiatan. Pesantren juga dibangun oleh kultur, kebiasaan, kehadiran guru, perhatian kepada santri, serta proses panjang dalam menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu.
Namun, saya dan Rif’atus Syamsiyah tidak ingin datang hanya untuk mencatat apa saja yang masih menjadi pekerjaan rumah. Dua pekan berada di Nurul Jadid tentu belum cukup untuk memahami seluruh persoalan yang ada, apalagi memberikan penilaian menyeluruh terhadap sebuah lembaga pendidikan.
Kami datang sebagai orang yang ditugaskan untuk berdakwah. Karena itu, yang dapat kami lakukan adalah hadir, berinteraksi, belajar memahami, dan mencoba memberikan sekecil-kecilnya yang mampu kami berikan.
Bagi saya, justru di situlah makna pesan Abah perlahan menemukan bentuknya. “Apa pun ilmu yang kita punya, maka sampaikan.”
Ilmu ternyata tidak selalu harus disampaikan melalui forum besar, pengajian atau ceramah. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: menemani seorang anak mengeja, mengajarkan satu bacaan, mengingatkan seorang santri untuk bangun Subuh, atau mengajak seseorang memperlakukan buku dan kitab dengan lebih baik.
Dua pekan pertama di Nurul Jadid belum membuat saya merasa telah memberikan perubahan besar. Enam bulan atau satu tahun pun belum tentu akan cukup. Bahkan, semakin lama tinggal di sana, semakin saya menyadari betapa banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan.
Namun, saya akan terus mengingatkan diri bahwa dakwah bukan hanya tentang membawa ilmu ke suatu tempat. Dakwah juga tentang memastikan bahwa ilmu itu menemukan jalan untuk sampai kepada mereka yang membutuhkannya.
Barangkali, itulah mengapa Abah tidak terlalu mempersoalkan siapa yang paling expert di antara kami. Sebab pada akhirnya, ilmu yang hanya berhenti pada diri sendiri tidak akan banyak berarti.
Apa pun yang Allah titipkan kepada kita, sekecil apa pun, selama ada yang membutuhkannya, maka tugas kita adalah menyampaikannya.
Putri Milenia Gusdian, Dai Penggerak 3T dengan penugasan ke Singkut, Jambi.
Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.
