Jakarta, Arina.id—Save the Children Indonesia mengungkapkan temuan terbaru yang menunjukkan bahwa anak Indonesia semakin melek digital, namun pada saat yang sama menghadapi risiko serius terhadap kesehatan mental karena tidak diimbangi dengan kemampuan menghadapi ancaman di ruang digital.
“Temuan lapangan menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan digital, semakin buruk kondisi kesehatan mental anak,” kata Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia dalam diskusi media Catatan Hak Anak : Refleksi 2025 Agenda Prioritas 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Berdasarkan studi Save the Children tahun 2025 tentang Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak, yang melibatkan 500 responden anak SMP ditemukan 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu antara 3 hingga 6 jam per hari di depan gawai.
Sementara itu puncak penggunaan perangkat digital terpantau terjadi pada malam hari, yakni pukul 18.00 hingga 21.00.
Studi ini juga menemukan bahwa anak perempuan cenderung memiliki waktu layar ( screen time ) yang lebih lama dibandingkan anak laki-laki. Ironisnya, peningkatan literasi digital pada anak ternyata tidak berdampak positif pada kesehatan mental mereka.
Meski anak-anak umumnya sudah memahami risiko seperti penipuan, peretasan, hingga perundungan siber ( cyberbullying ), mereka ditemukan belum memiliki keterampilan praktis untuk merespons ancaman tersebut.
“Anak-anak tahu risiko di ruang digital, tapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan penguasaan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai,” kata Dessy.
Bahkan 76,9 persen anak belum pernah mendengar dukungan psikologis awal ketika ancaman-ancaman yang datang. Temuan lain, saat bermasalah di dunia digital, anak-anak lebih nyaman curhat ke teman bukan ke orang tua.
“Bagi kami ini sebenarnya masalah yang besar karena kalau bicara soal anak kita bersandarnya ke orang tua karena itu menjadi acuan bagi anak-anak. Kalau mereka bertanya pada teman-temannya belum tentu positif,” katanya.
Studi ini juga menggarisbawahi bahwa budaya patriarki menghalangi anak laki-laki untuk mencari bantuan. Pandangan bahwa laki-laki harus kuat menyebabkan mereka cenderung menutup diri saat menghadapi masalah di ruang digital.
“Anak laki-laki banyak memilih untuk tidak mencari bantuan sama sekali, melihat budaya patriarki bahwa anak laki-laki harus kuat, tangguh membuat mereka memilih menutup masalah yang dihadapi,” kata Dessy.




Comments are closed.