Ada remaja laki-laki biasa berusia 13 tahun, pendiam, tidak populer, dan juga bukan pembuat onar. Jamie namanya. Tak disangka, ia kedapatan membunuh teman perempuannya. Apa yang terjadi? Premis inilah yang melandasi serial ‘Adolescence’ di Netflix.
‘Adolescence’ bukan sekadar cerita kriminal remaja. Ia adalah potret tentang anak laki-laki yang tumbuh dalam dunia maskulinitas yang rapuh. Juga tentang figur ayah yang “merasa sudah baik” dan justru menjadi bagian dari luka anaknya. Sang ayah mengira cukup dengan menjadi “man of the house“. Tapi ia lupa, dunia anak laki-lakinya jauh lebih kompleks dari hal yang bisa ditangani dengan otot.
Serial 4 episode yang disutradarai oleh Philip Barantini ini membawa kita menyusuri kehidupan keluarga Jamie (diperankan Owen Cooper). Ini adalah tipikal sebuah rumah tangga kelas menengah yang di permukaannya tampak harmonis. Namun sebenarnya retak oleh ketidakhadiran emosional, kesenjangan dunia orang tua dan anak, serta role model maskulinitas yang dominan.
Menurut saya, serial ini akan menyentuh hati para remaja dan membuat orang tua memikirkan ulang hubungannya dengan anak. Menampilkan dunia remaja yang didominasi oleh internet. Sebuah lingkungan yang sulit dipahami atau dikendalikan oleh orang tua, meskipun sudah berusaha sebaik mungkin.
‘Adolescence’, Maskulinitas Beracun, dan Luka Anak yang Gagal Dipahami Ayah
Alkisah, suatu malam, Jamie ditemukan sebagai pelaku pembunuhan terhadap teman perempuannya. Ini sebuah tindak kekerasan yang sulit diterima keluarganya. Bagaimana Jamie, anak yang tampaknya “baik-baik saja”, bisa berubah menjadi pembunuh?
Sementara itu, ayah Jamie (Stephen Graham) mewakili figur laki-laki tradisional yang merasa dirinya telah cukup. Ia tidak pernah memukul anaknya. Mendaftarkan anaknya ke klub sepak bola dan tinju, memastikan Jamie tidak menjadi “lemah”. Ia bekerja keras sebagai pencari nafkah utama, dan membuat semua keputusan besar dalam keluarga.
Baginya, semua itu sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah ayah yang baik. Tapi, benarkah itu cukup? Ternyata ia tidak benar-benar memahami anaknya.
Dalam sesi wawancara dengan psikolog, Jamie mengatakan ayahnya tidak kasar secara fisik. Tapi ia ingat ketika ayahnya mengamuk, menghancurkan barang-barang di gudang.
Ini adalah bentuk kekerasan tanpa nama tapi membentuk atmosfer ketakutan dan ketidaknyamanan, yang bisa ditiru anak. Ayahnya juga menjadi sumber mood keluarga. Jika ayah sedang marah, maka anggota keluarga lain akan diam dan ketakutan.
Baca Juga: Membuka ‘Topeng’ Maskulinitas Toksik, Upaya Merobohkan Ilusi Kejantanan
Sang ayah mengambil seluruh kendali. Ia memilihkan kegiatan untuk Jamie, seperti olahraga dan bela diri, padahal Jamie tidak menyukainya. Ayahnya pikir, itu bentuk cinta dan tanggung jawab. Tapi yang ia tanamkan bukan kehangatan, melainkan beban menjadi “laki-laki sejati”. Tanpa sadar, ia menciptakan anak laki-laki yang kesepian, bingung, dan haus validasi.
Momen ketika Jamie mengompol saat polisi bersenjata menyerbu masuk rumahnya menjadi salah satu adegan paling menyentuh sekaligus mengganggu dalam serial ‘Adolescence’. Menggambarkan ketakutan dan kerentanan anak laki-laki.
Adegan itu sangat kontras jika dibandingkan dengan sisi lain Jamie yang muncul di sepanjang serial. Jamie yang menusuk Katie dengan brutal hingga tewas. Jamie yang menghajar temannya di dalam sel tahanan. Pun Jamie yang meneriaki psikolog sambil memukul kaca ruangan interogasi.
Bagi Jamie, kekerasan bukanlah penyimpangan. Ia melihat kemarahan sebagai ekspresi yang biasa. Saat ia bercerita bahwa ayahnya menghancurkan barang di gudang ketika marah, ia mengatakannya seperti sesuatu yang wajar. “Dia cuma marah. Kita semua pernah marah,” ujarnya tanpa beban. Seolah kemarahan yang merusak adalah cara ekspresi laki-laki.
Namun saat ditanya, “Apakah ayahmu penyayang?” Jamie menjawab, “Tidak. Itu aneh.” Bagi Jamie, figur ayah yang ideal bukanlah sosok yang hangat atau terbuka. Melainkan yang kuat, galak, dan mengatur segalanya. Ini adalah potret dari maskulinitas tradisional yang tak pernah benar-benar memberi ruang bagi perasaan, kecuali kemarahan.
Jamie tidak melihat kekerasan sebagai kejahatan; ia melihatnya sebagai saluran. Sebab ia tidak tahu cara menangis tanpa malu, ia membentak. Karena ia tidak tahu cara minta tolong, ia menyerang. Ia tidak tahu bahwa rasa takut bisa dibicarakan, maka ia menutupinya dengan pukulan. Semua ini berakar dari pelajaran diam-diam yang dia dapat sejak kecil. Bahwa menjadi laki-laki berarti menahan, mengendalikan, dan kalau perlu, meledak.
Baca Juga: Maskulinitas Toksik Bikin Lelaki Cemas dengan Tubuhnya
Laki-laki sendiri yang menciptakan standar maskulinitas: kuat, tangguh, tak boleh rapuh. Tapi mereka juga yang akhirnya kewalahan memenuhinya. Senjata makan tuan. Dirancang untuk gagah-gagahan, berakhir jadi beban.
Ketika Jamie menjadi tersangka pembunuhan, sang ayah menyembunyikan kebenaran dari istrinya. Ia terlihat ingin “melindungi” sang istri. Tapi pada kenyataannya, ia menolak untuk berbagi beban. Baginya, istrinya tidak cukup kuat untuk tahu. Tidak cukup rasional untuk diajak berpikir bersama.
Ini bukan hanya tentang seorang ayah. Tapi tentang budaya patriarki yang menjadikan laki-laki sebagai satu-satunya pusat kendali dalam rumah. Feminis seperti bell hooks sejak lama mengkritik ketimpangan ini. Laki-laki percaya bahwa cinta berarti perlindungan, dan perlindungan berarti kontrol. Sementara itu, perempuan dipersepsi hanya menjadi penerima keputusan, bukan partner sejajar dalam pengasuhan.
Penolakan dan Krisis Harga Diri Remaja
Jamie bukan anak laki-laki yang jago olahraga. Ia tidak populer, tidak pintar-pintar amat dalam pelajaran, dan diam-diam suka menggambar. Tapi dunia di sekitarnya tidak memberi ruang untuk itu.
Ia dirundung sebagai incel (singkatan dari involuntary celibate, komunitas laki-laki yang merasa terasing secara seksual dan sering menyalahkan perempuan atas ketidakmampuan mereka menjalin hubungan). Menjadi sasaran olok-olok online. Dan pelan-pelan tenggelam dalam forum-forum misoginis ala manosphere (kumpulan forum online yang berisi pandangan antifeminis, tempat sebagian laki-laki berbagi kemarahan terhadap perempuan dan gagasan maskulinitas toksik).
Saat ia mendekati Katie, seorang perempuan yang foto intimnya tersebar di internet, Jamie mengira ia bisa menjadi penyelamat. Berpikir bahwa karena gadis itu sedang rapuh, ajakan kencannya akan disambut. Tapi Katie menolak, dengan mengatakan: “Aku nggak se-desperate itu.”
Baca Juga: Di Balik Romantis Film Ancika, Ada Bad Boy dan Maskulinitas Toksik
Penolakan ini bukan hanya menyakiti hatinya. Itu meruntuhkan harga dirinya sebagai laki-laki. Jamie bukan hanya merasa ditolak, tapi juga dihina. Dan dalam dunia ketika laki-laki tidak diajarkan mengelola penolakan, luka itu berubah menjadi kekerasan.
Dalam percakapan dengan psikolog, Jamie tanpa sadar menunjukkan kebutuhan validasinya.
“Apakah kamu menyukaiku?”
“Seharusnya kau bilang aku tidak jelek (saat Jamie mengatakan dirinya jelek).”
Begitulah ucapan Jamie kepada psikolog dalam episode 3. Itu mengungkap cara anak laki-laki ini mengukur harga diri mereka. Terpaku pada penanda maskulinitas dan validasi sosial yang dangkal seperti olahraga, status, sampai jumlah like Instagram. Ucapan Jamie juga menunjukkan betapa anak laki-laki pun merindukan pengakuan, pengertian, dan cinta. Namun tidak tahu cara memintanya.
Internet: Guru Baru Anak-Anak Kita
Jamie dibentuk banyak hal. Role model keluarga, narasi incel di internet, hingga perundungan di sekolah, yang tidak dimengerti orangtuanya.
Kebingungan ini bukan hanya milik orang tua Jamie. Seorang polisi yang menyelidiki kasus ini tampak kebingungan ketika anaknya yang satu sekolah dengan Jamie menjelaskan soal istilah incel dan manosphere. Sang anak, dengan frustrasi, akhirnya memberikan “kursus kilat” tentang dunia daring yang ia tinggali.
Banyak orang tua tertinggal jauh dari kehidupan daring anak-anak mereka. Serial ini dengan tajam menunjukkan bahwa bahkan orang dewasa pun sering kali tidak mengerti dunia anak-anak yang sedang dibentuk oleh internet.
Orang tua sering kali berasumsi bahwa selama anak mereka ada di rumah, mereka aman. Sementara anak menyendiri di kamar, menatap layar, menyerap ideologi berbahaya secara diam-diam. Kesenjangan ini tidak bisa dianggap sepele. Anak-anak yang sedang membentuk identitas diri, yang belum selesai mengenali siapa mereka, bisa dengan mudah memercayai pandangan tertentu. Misalnya bahwa mereka tidak cukup baik, bahwa dunia tidak adil terhadap mereka, bahwa perempuan adalah musuh. Mereka belum punya alat berpikir untuk mencerna konten-konten misoginis dengan bertanya ulang, “Apa ini masuk akal?” atau “Apa ini sehat buatku?”
Baca Juga: Agresif di Media Sosial, Ini Bentuk Maskulinitas Toksik?
Di sinilah letak kegentingannya. Saat orang dewasa gagal hadir secara emosional, internet dengan senang hati mengambil alih peran sebagai guru, teman, bahkan panutan. Algoritma tidak peduli jika anak itu sedang bingung, kesepian, atau butuh kasih sayang. Yang penting adalah klik dan engagement. Dan tanpa bimbingan yang cukup, anak laki-laki pun mulai memaknai dunia melalui kacamata yang sempit, penuh kemarahan dan kebencian.
Jika kita ingin mencegah kekerasan, kita harus mulai lebih awal. Bukan dengan menakuti anak laki-laki agar jadi “jantan”. Tapi dengan mengajarkan mereka bahwa menjadi manusia itu boleh takut, boleh sedih, boleh gagal, dan tetap layak dicintai.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(Sumber foto: Netflix)





Comments are closed.