Tue,1 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Akademisi Unnes Sebut Kekerasan dan Hafalan Bukan Lagi Pola Pendidikan Modern

Akademisi Unnes Sebut Kekerasan dan Hafalan Bukan Lagi Pola Pendidikan Modern

akademisi-unnes-sebut-kekerasan-dan-hafalan-bukan-lagi-pola-pendidikan-modern
Akademisi Unnes Sebut Kekerasan dan Hafalan Bukan Lagi Pola Pendidikan Modern
service

Jakarta, NU Online

Praktik mendisiplinkan anak dengan cubitan, pukulan, atau lemparan kapur yang dahulu kerap dianggap wajar dinilai tidak lagi relevan dalam pendidikan modern saat ini. Pendekatan berbasis kekerasan dinilai bukan solusi dalam pembentukan karakter anak.

Akademisi sekaligus Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan, menilai metode pendidikan yang menempatkan kekerasan sebagai instrumen disiplin perlu ditinggalkan. Menurutnya, pendidikan guru saat ini justru dikembangkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis pemahaman psikologis anak.

“Pendidikan guru modern tidak lagi menempatkan kekerasan sebagai instrumen utama dalam membangun disiplin, melainkan mendorong pemahaman psikologis dan kebutuhan belajar anak,” ujar Edi lewat instagramnya. NU Online telah mendapat izin untuk mengutipnya.

Perdebatan serupa, lanjutnya, juga muncul dalam pembelajaran matematika, khususnya terkait perkalian. Di sejumlah ruang diskusi, muncul dorongan agar perkalian dijadikan hafalan wajib karena dianggap sebagai fondasi pembelajaran matematika.

Edi tidak menampik pentingnya penguasaan dasar matematika. Namun, ia mempertanyakan apakah solusi harus selalu ditempuh melalui hafalan semata. Dalam diskursus pendidikan di kampus keguruan, pembelajaran matematika lebih diarahkan pada pemahaman konsep dan penguatan logika berpikir.

“Tujuannya membangun alat pikir anak didik, bukan sekadar kemampuan mengingat. Perlu dipertanyakan juga sejauh mana anak perlu menghafal perkalian satu hingga seratus serta apa tujuan konkret dari tuntutan tersebut,” paparnya.

Metode ceramah juga menjadi bagian dari perdebatan. Banyak guru membandingkan efektivitas ceramah di masa lalu dengan kondisi saat ini. Namun, menurut Edi, perbandingan tersebut tidak sepenuhnya sebanding karena terdapat banyak variabel yang berubah, mulai dari lingkungan belajar hingga distraksi yang semakin kompleks.

Di sisi lain, guru kini dituntut menerapkan pembelajaran berdiferensiasi agar kebutuhan setiap siswa dapat terlayani secara optimal. Tuntutan tersebut datang bersamaan dengan penambahan berbagai muatan, seperti pendidikan karakter, literasi finansial, lingkungan hidup, coding, hingga kecerdasan artifisial.

“Ketika muatan baru masuk dan guru belum sepenuhnya siap, kondisi ini kerap memicu frustrasi,” ujarnya.

Integrasi kurikulum, lanjut Edi, bukan perkara mudah. Guru harus memahami keterkaitan materi secara vertikal dan horizontal, termasuk lintas mata pelajaran serta hubungannya dengan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Beban semakin berat ketika inovasi kebijakan terus berubah, sementara aspek administratif turut menyita energi.

Menurutnya, formalitas administrasi seperti perubahan dokumen, format laporan, hingga perangkat pembelajaran kerap membuat guru kehilangan waktu untuk refleksi dan pendampingan siswa secara substantif.

“Dalam kondisi frustrasi, guru kerap bernostalgia pada pengalaman belajar masa lalu dan menjadikannya acuan utama dalam praktik mengajar hari ini,” pungkasnya.

Ia mengingatkan bahwa konteks pendidikan telah berubah signifikan. Karena itu, pendekatan yang efektif di masa lalu belum tentu relevan untuk menjawab tantangan pendidikan saat ini.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.