
Keselamatan anak saat pergi dan pulang sekolah seharusnya tidak menjadi kekhawatiran setiap orang tua. Namun, di Kabupaten Magelang, persoalan itu sekaligus menjadi peluang untuk menghidupkan kembali angkutan pedesaan yang mulai kehilangan penumpang.
Melalui program Angkutan Pelajar Aman (APA), Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Dinas Perhubungan menyediakan layanan angkutan sekolah gratis bagi siswa SMP. Menariknya, program ini tidak membeli armada baru, tetapi memanfaatkan angkutan pedesaan yang sudah beroperasi.
Siswa mendapatkan layanan gratis pada pagi hari ketika berangkat sekolah dan siang hari saat pulang. Setelah tugas antar-jemput selesai, angkutan kembali melayani masyarakat umum sesuai trayeknya.
Kebijakan ini menjadi solusi dua masalah sekaligus: meningkatkan keselamatan dan akses pendidikan pelajar, serta menjaga keberlangsungan angkutan pedesaan.
Bukan Sekadar Angkot Gratis, Tapi Jaring Pengaman Pelajar
Program APA lahir dari persoalan keselamatan lalu lintas yang cukup serius. Data Satlantas Polres Kabupaten Magelang tahun 2025 menunjukkan kelompok usia pelajar 10–19 tahun menyumbang 19 persen korban kecelakaan lalu lintas di daerah tersebut, atau sekitar 240 korban dari total 1.256 kejadian.
Secara nasional, kelompok usia yang sama bahkan menyumbang 23 persen korban.
Karena itu, keberadaan transportasi sekolah gratis bukan sekadar memberikan kemudahan. Program ini juga menjadi upaya mengurangi ketergantungan pelajar terhadap sepeda motor.
“Program Angkutan Pelajar Aman telah membuktikan bahwa transportasi gratis mampu memberikan ketenangan bagi orang tua, efisiensi bagi pelajar, sekaligus kepastian pendapatan bagi para sopir angkutan.” ujar Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasehat MTI.
Program yang mulai berjalan pada pertengahan 2025 itu awalnya hanya melayani tiga rute dengan 15 armada melalui dukungan CSR Bank Jateng sebesar Rp98 juta. Hingga akhir 2025, cakupannya berkembang menjadi sembilan rute dan 59 armada dengan dukungan APBD Rp772 juta.
Pada 2026, layanan kembali diperluas menjadi 12 rute dengan 78 armada dan anggaran sekitar Rp2,4 miliar.
Pengembangannya bahkan dirancang hingga 2030. Targetnya mencapai 29 rute dengan 178 armada dan anggaran sekitar Rp8 miliar.
Bagi pengemudi, program ini juga memberikan kepastian. Mereka memperoleh insentif Rp135.000 per hari selama lima hari kerja. Pada 2026, empat koperasi telah menjadi operator angkutan pelajar, yakni Koperasi Mekar Abadi Sentosa, Rukun Mulyo, Karter, dan Sekar Langit Raharja.
Ada Masalah: Armada Kurang, Penumpang Malah Berdesakan
Meski memberikan dampak positif, evaluasi Laboratorium Transportasi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata pada 2026 menemukan sejumlah catatan penting.
Salah satunya adalah kapasitas angkutan. Rata-rata satu armada mengangkut 17 siswa, sementara kapasitas resminya hanya 12 penumpang. Artinya, sekitar 83,3 persen operasional mengalami kondisi kelebihan muatan.
Tak heran jika penambahan armada menjadi kebutuhan utama.
Dari sisi pengguna, 87,10 persen siswa mengaku tidak pernah terlambat sekolah. Waktu tunggu juga relatif singkat, dengan 53 persen siswa menunggu sekitar 5–10 menit.
Namun, kenyamanan masih menjadi pekerjaan rumah. Sekitar 37 persen siswa merasa kurang nyaman karena kondisi kendaraan yang berdesakan dan sikap pengemudi yang dinilai kurang ramah.
Harapan siswa pun jelas: tambah armada, perluas layanan hingga Sabtu, dan tingkatkan keramahan pengemudi.
Dampaknya bagi orang tua juga terasa nyata. Sebanyak 86,67 persen siswa menyatakan harus kembali diantar menggunakan sepeda motor oleh orang tua jika program APA dihentikan. Sementara itu, 100 persen orang tua menilai program ini mampu mengurangi beban waktu antar-jemput sekaligus memberikan rasa aman.
Program APA akhirnya bukan cuma soal naik angkot tanpa bayar. Di satu sisi, anak-anak mendapatkan akses transportasi yang lebih aman. Di sisi lain, sopir memperoleh kepastian pendapatan dan angkutan pedesaan tetap hidup.
Dengan perbaikan kapasitas, kenyamanan, keramahan layanan, serta penambahan rute dan armada, APA berpotensi menjadi model transportasi pelajar yang tidak hanya menyelamatkan mobilitas siswa, tetapi juga menyelamatkan masa depan angkutan pedesaan Kabupaten Magelang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor





Comments are closed.