KABARBURSA.COM — PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan memasuki fase kinerja yang lebih stabil pada 2026 setelah menghadapi tekanan non-operasional sepanjang 2025. Sejumlah katalis mulai terbentuk, khususnya dari segmen emas dan nikel yang menjadi penopang utama.
Tim Riset Stockbit Sekuritas menilai kinerja ANTM ke depan masih memiliki ruang penguatan meski realisasi tahun lalu belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar. “Kami menilai pencapaian kinerja positif ANTM selama 2025 akan terus berlanjut pada 2026,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas dalam laporannya yang dikutip Ahad, 12 April 2026.
Sepanjang 2025, ANTM membukukan laba bersih sebesar Rp7,2 triliun atau tumbuh 98 persen secara tahunan. Namun, capaian tersebut hanya memenuhi sekitar 94 persen dari estimasi konsensus. Hal ini mencerminkan adanya tekanan di kuartal akhir tahun.
Pada kuartal IV 2025, laba bersih tercatat Rp1,2 triliun, turun 3 persen secara kuartalan dan 15 persen secara tahunan. Tekanan ini tidak sepenuhnya berasal dari operasional, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah komponen non-berulang atau one-off.
Stockbit mencatat beban bersih dari one-off items mencapai Rp750 miliar pada periode tersebut. Komponen terbesar berasal dari impairment aset tetap sebesar Rp951 miliar, yang diduga berkaitan dengan smelter PT Feni Haltim. Di sisi lain, terdapat keuntungan dari pembalikan provisi kasus emas batangan sebesar Rp1,43 triliun.
Selain itu, terdapat biaya regulasi sebesar Rp1,1 triliun yang diperkirakan terkait pencadangan potensi sanksi kawasan hutan, serta beban lain seperti imbalan kontinjensi Rp620 miliar dan lonjakan beban umum dan administrasi hingga Rp892 miliar dari sebelumnya Rp106 miliar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi laba lebih banyak dipengaruhi faktor non-operasional, sementara fondasi bisnis inti relatif tetap berjalan.
Emas Mulai Pulih, Target Kembali ke Level Tertinggi
Dari sisi operasional, segmen emas menjadi salah satu fokus utama perbaikan kinerja. Sepanjang 2025, volume penjualan emas tercatat sekitar 37,4 ton, turun dari 43,8 ton pada 2024. Penurunan ini dipicu oleh gangguan pasokan dari Freeport Indonesia akibat force majeure di tambang Grasberg.
Namun, manajemen melihat tren pemulihan mulai terjadi pada awal 2026. Volume penjualan hingga Maret disebut berada dalam jalur yang sesuai target.
“Volume penjualan emas yang sempat terganggu selama 2H25 telah menunjukan arah perbaikan dan berpotensi menyamai atau melampaui level all–time high 2024 di 1,4 juta oz,” tulis Stockbit.
Selain itu, struktur pasokan juga mulai bergeser. Ketergantungan terhadap impor diproyeksikan menurun seiring meningkatnya pasokan domestik.
Pada 2025, sekitar 60 persen pasokan emas masih berasal dari impor dan hanya 40 persen dari domestik. Namun pada 2026, pasokan domestik ditargetkan meningkat menjadi 50 hingga 60 persen, didorong oleh produksi dari Amman Mineral, Merdeka Gold, dan Freeport.
Nikel Lebih Stabil dengan Kuota Produksi Penuh
Di segmen nikel, ANTM mendapatkan kepastian produksi yang lebih kuat melalui kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). “ANTM mendapatkan kuota RKAB nikel secara penuh,” tulis Stockbit.
Untuk 2026, kuota produksi bijih nikel ditetapkan sebesar 18,1 juta wet metric ton, meningkat dari 16,4 juta ton pada 2025. Dengan kuota penuh ini, perusahaan tidak perlu agresif menambah produksi dalam revisi tengah tahun.
Dari sisi biaya, manajemen menargetkan cash cost berada di kisaran USD21 hingga USD24 per ton, relatif stabil dibandingkan realisasi 2025 sekitar USD21,5 per ton.
Stockbit juga mencatat bahwa potensi perubahan kebijakan seperti kenaikan harga patokan mineral atau wacana bea ekspor tidak diperkirakan berdampak signifikan terhadap harga jual.
Risiko Non-Operasional Mulai Mereda
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah potensi keberlanjutan beban non-operasional. Namun, manajemen memberikan sinyal bahwa risiko tersebut mulai terkendali.
“Penjelasan manajemen atas beberapa one–off items yang sudah dibukukan pada 2025 memperkecil risiko terjadinya impairment lanjutan pada 2026,” tulis Stockbit.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi pada 2025 bersifat temporer dan tidak mencerminkan kondisi operasional jangka panjang.
Dari sisi keuangan, ANTM berada dalam posisi likuiditas yang relatif solid dengan kas sekitar Rp8 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun dialokasikan sebagai modal kerja untuk bisnis emas.
Untuk mendukung ekspansi, perusahaan menyiapkan belanja modal sebesar Rp7 triliun pada 2026. Sekitar Rp3,3 triliun di antaranya dialokasikan untuk Project Dragon, sementara sisanya digunakan untuk pengembangan fasilitas refinery logam mulia di Gresik dan commissioning proyek Feni Haltim.
Di sisi lain, perusahaan belum memberikan indikasi terkait besaran dividen, dengan keputusan yang akan ditentukan oleh pemegang saham.
Proyek Hilirisasi Jadi Penopang Jangka Menengah
Di luar kinerja jangka pendek, ANTM juga tengah mendorong sejumlah proyek strategis yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan jangka menengah.
Project Dragon ditargetkan mencapai finalisasi kerangka kerja joint venture pada akhir 2026, dengan kebutuhan tambahan pasokan bijih saprolit dan limonit dalam jumlah besar pada periode 2027–2028.
Selain itu, proyek RKEF Haltim dengan kapasitas 88 ribu ton nikel pig iron ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2027. Sementara proyek HPAL Haltim yang memproduksi mixed hydroxide precipitate dijadwalkan memasuki tahap keputusan investasi pada 2026.
Pengembangan rantai pasok baterai juga terus berjalan melalui proyek precursor di Karawang serta rencana pengembangan cathode active material di Halmahera Timur.
Dengan kombinasi pemulihan di segmen emas, kepastian produksi nikel, serta meredanya risiko non-operasional, arah kinerja ANTM mulai menunjukkan struktur yang lebih jelas.
Katalis yang terbentuk pada 2026 tidak hanya berasal dari perbaikan operasional, tetapi juga dari kepastian proyek dan stabilitas biaya, yang secara keseluruhan memperkuat visibilitas pertumbuhan ke depan.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.