KABARBURSA.COM — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menutup Mei 2026 dengan tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Saham emiten panas bumi milik Pertamina itu berakhir di level Rp860 per saham, turun 3,91 persen, sementara investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih hampir sepanjang bulan.
Data aktivitas investor Bursa Efek Indonesia menunjukkan asing membukukan net sell Rp40,95 miliar di pasar reguler selama periode 1-31 Mei 2026. Nilai pembelian asing tercatat Rp113,40 miliar, sedangkan penjualannya mencapai Rp154,35 miliar.
Menariknya, tekanan jual pada PGEO sepanjang Mei tidak berasal dari seluruh investor asing di pasar, melainkan dari kelompok broker asing berkapital besar yang masing-masing mencatat nilai transaksi di atas Rp1 triliun. Kelompok ini mencakup UBS Sekuritas Indonesia (AK), Macquarie Sekuritas Indonesia (RX), Maybank Sekuritas Indonesia (ZP), CGS International Sekuritas Indonesia (YU), CLSA Sekuritas Indonesia (KZ), J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK), Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP), OCBC Sekuritas Indonesia (TP), dan KB Valbury Sekuritas (CP).
Data agregat sembilan broker tersebut menunjukkan aksi distribusi berlangsung cukup konsisten sepanjang Mei 2026. Mereka tercatat membukukan net sell pada 11 hari perdagangan dengan akumulasi penjualan bersih mencapai Rp50 miliar pada harga rata-rata Rp991.
Tekanan terbesar terjadi pada 19 Mei dengan nilai net sell Rp11,2 miliar, disusul 20 Mei sebesar Rp12,2 miliar dan 21 Mei sebesar Rp9,5 miliar. Aksi jual juga muncul pada 4 Mei sebesar Rp1,2 miliar, 7 Mei Rp8,3 miliar, 12 Mei Rp5,5 miliar, dan 13 Mei Rp3,6 miliar.
Di tengah dominasi tekanan jual tersebut, momen akumulasi hanya terjadi beberapa kali. Kelompok broker asing itu tercatat melakukan net buy pada 5 Mei sebesar Rp1,5 miliar, 6 Mei sebesar Rp 6,4 miliar, 18 Mei sebesar Rp2,4 miliar, 26 Mei Rp282 juta, dan 29 Mei Rp76 juta. Pola ini menunjukkan bahwa sepanjang Mei, kecenderungan utama pelaku institusi asing masih mengarah pada pengurangan posisi di saham PGEO ketimbang melakukan akumulasi.
Ketika investor asing melepas saham, investor domestik justru mengambil posisi sebaliknya. Data orderbook menunjukkan investor domestik membukukan pembelian senilai Rp290,65 miliar sepanjang Mei. Di sisi lain, nilai penjualan domestik tercatat Rp249,69 miliar.
Artinya, investor domestik mencatat net buy sekitar Rp40,96 miliar, hampir identik dengan nilai net sell asing sebesar Rp40,95 miliar. Fenomena ini menunjukkan adanya perpindahan kepemilikan saham dari investor asing ke investor domestik.
Dengan kata lain, setiap saham yang dilepas investor asing selama Mei praktis diserap oleh pelaku pasar dalam negeri. Pertanyaannya, mengapa asing memilih keluar ketika investor lokal justru masuk?
Mengapa Asing Menjual?
Belum ada indikasi bahwa aksi jual tersebut dipicu oleh perubahan fundamental perusahaan dalam jangka pendek. Kinerja PGEO masih ditopang bisnis panas bumi yang relatif stabil, sementara sektor energi terbarukan tetap menjadi bagian penting dari agenda transisi energi nasional.
Karena itu, ada kemungkinan aksi jual lebih dipengaruhi faktor portofolio global dibanding persoalan fundamental perusahaan.
Selain itu, PGEO masih bergerak dalam tren koreksi sejak awal tahun sehingga sebagian investor asing kemungkinan memilih mengurangi posisi sambil menunggu katalis baru.
Pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026 pukul 14.25 WIB, saham PGEO kembali tertekan ke level Rp855 atau turun 4,47 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Pergerakan intraday menunjukkan pola yang kurang menggembirakan. Sejak dibuka di kisaran Rp895-Rp900, harga bergerak turun secara bertahap sepanjang sesi perdagangan tanpa menunjukkan upaya pemulihan yang berarti. Grafik intraday memperlihatkan tekanan jual berlangsung hampir sepanjang hari hingga saham menyentuh area terendahnya di Rp855.
Jika ditarik ke periode satu minggu terakhir, kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung sebelumnya. Dalam sepekan, saham PGEO telah terkoreksi sekitar 5 persen dari area Rp900 hingga turun ke Rp855.
Dari sisi teknikal, saham PGEO mulai menunjukkan upaya pemulihan setelah sempat menyentuh area terendah di kisaran Rp840-Rp845. Beberapa candlestick hijau beruntun muncul di akhir sesi pengamatan, disertai kenaikan harga kembali ke area Rp850-Rp855.
Meski demikian, sinyal pembalikan arah tren belum terkonfirmasi. Posisi harga masih berada di bawah MA20, MA100, dan garis tengah Bollinger Band, sehingga setiap kenaikan saat ini masih lebih tepat dikategorikan sebagai technical rebound dibanding perubahan tren yang sesungguhnya.
Area Rp840-Rp845 menjadi support terdekat yang berhasil dipertahankan pasar pada perdagangan hari ini. Sementara itu, area Rp865-Rp875 menjadi resistance awal yang perlu ditembus apabila PGEO ingin keluar dari tekanan turun jangka pendek.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.