KABARBURSA.COM – Tekanan jual investor asing makin deras menghantam saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan sejumlah emiten grup Barito dari indeks globalnya.
Pada perdagangan Selasa, 13 Mei 2026, asing tercatat menarik dana sekitar Rp129,24 miliar dari saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Aksi jual tersebut berlangsung bersamaan dengan koreksi tajam harga saham ketiga emiten, di tengah reposisi portofolio investor global menjelang implementasi rebalancing MSCI.
Saham CUAN menjadi salah satu yang paling terpukul. Berdasarkan data perdagangan Stockbit yang dihimpun Kabarbursa.com, saham CUAN ditutup melemah 95 poin atau turun 10,05 persen ke level 850 pada perdagangan Selasa, 13 Mei 2026.
Nilai transaksi saham CUAN mencapai Rp458,34 miliar dengan volume perdagangan sekitar 5,41 juta lot dan frekuensi transaksi mencapai 53,78 ribu kali.
Saham dibuka di level 825, sempat menyentuh level tertinggi 885, lalu kembali tertekan hingga ditutup di area 850 dengan harga rata-rata transaksi 847.
Data foreign flow menunjukkan investor asing membukukan pembelian Rp163,33 miliar. Namun tekanan distribusi lebih besar dengan nilai penjualan mencapai Rp210,87 miliar sehingga menghasilkan net foreign sell sebesar Rp47,54 miliar.
Aktivitas investor domestik justru terlihat lebih dominan pada saham CUAN. Dari sisi nilai transaksi, investor domestik mencatat pembelian Rp295,01 miliar dan penjualan Rp247,47 miliar.
Komposisi transaksi memperlihatkan investor domestik menguasai sekitar 59,18 persen total nilai transaksi, sementara investor asing berada di kisaran 40,82 persen.
Dari sisi volume, investor asing membukukan pembelian sekitar 192,30 juta saham dan penjualan 247,98 juta saham. Investor domestik mencatat pembelian 348,53 juta saham dan penjualan 292,86 juta saham.
Frekuensi transaksi juga menunjukkan dominasi investor domestik. Investor domestik mencatat frekuensi beli 43,99 ribu kali dan frekuensi jual 33,73 ribu kali. Sedangkan investor asing mencatat frekuensi beli 9,79 ribu kali dan frekuensi jual 20,05 ribu kali.
Broker summary foreign regular net menunjukkan distribusi asing di saham CUAN berlangsung agresif. Kelompok lima broker asing teratas membukukan net sell sebesar 533,88 ribu lot atau sekitar Rp45,4 miliar dengan kategori “big distribution”.
Rata-rata broker asing mencatat distribusi sekitar 373,8 ribu lot senilai Rp31,8 miliar di harga rata-rata 851.
Broker ZP menjadi pembeli asing terbesar dengan nilai transaksi Rp35 miliar di harga rata-rata 847. Broker AK juga mencatat pembelian Rp17,4 miliar dan BK sekitar Rp5,5 miliar.
Namun tekanan jual lebih besar datang dari broker TP yang melepas Rp33,3 miliar saham CUAN. Broker YU tercatat menjual Rp26,7 miliar, sedangkan broker KZ melepas Rp24,7 miliar.
Di sisi domestik, pola transaksi justru menunjukkan akumulasi cukup kuat. Kelompok Top 5 broker domestik mencatat net buy sebesar 336,6 ribu lot atau sekitar Rp28,4 miliar dengan status “big accumulation”.
Broker NI menjadi pembeli domestik terbesar dengan nilai Rp26,2 miliar di harga rata-rata 850. Disusul broker MG sebesar Rp7,5 miliar, OD Rp6,2 miliar, serta XL dan SQ yang masing-masing mencatat pembelian sekitar Rp6 miliar dan Rp5,9 miliar.
Meski begitu, tekanan distribusi domestik tetap muncul dari beberapa broker besar. Broker YB tercatat menjual Rp9,1 miliar saham CUAN, sementara broker ZP dan AZ juga melakukan distribusi.
Sebelumnya, saham BREN tercatat ambruk 11,36 persen ke level 3.200 dengan net foreign sell mencapai Rp59,69 miliar. Sementara TPIA turun 14,85 persen ke level 4.300 dengan net foreign sell sekitar Rp22,01 miliar.
Jika digabungkan, total dana asing yang keluar dari saham TPIA, BREN, dan CUAN mencapai sekitar Rp129,24 miliar hanya dalam satu hari perdagangan.
Tekanan tersebut muncul setelah MSCI resmi mengeluarkan saham-saham grup Prajogo Pangestu dari indeks globalnya.
Rebalancing MSCI biasanya memicu penyesuaian portofolio investor institusi global sehingga saham yang keluar dari indeks rawan mengalami tekanan jual dalam jangka pendek.
Volatilitas saham grup Prajogo Pangestu pun meningkat tajam dalam beberapa sesi terakhir seiring derasnya distribusi asing dan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap perubahan komposisi indeks global.(*)





Comments are closed.