Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Nyai Rubai’ah, Obor Mlangi yang Menyalakan Generasi Pecinta Al-Qur’an

Nyai Rubai’ah, Obor Mlangi yang Menyalakan Generasi Pecinta Al-Qur’an

nyai-rubai’ah,-obor-mlangi-yang-menyalakan-generasi-pecinta-al-qur’an
Nyai Rubai’ah, Obor Mlangi yang Menyalakan Generasi Pecinta Al-Qur’an
service

Mubadalah.id – Di tengah kehidupan yang sering mengukur keberhasilan dari popularitas dan pengakuan, sosok Nyai Hj. Rubai’ah Shofia Jamilah menghadirkan teladan yang berbeda. Beliau tidak terkenal karena gemerlap dunia, tetapi karena ketulusannya menjaga Al-Qur’an dan menghidupkan ilmu di tengah masyarakat. Dari tangan beliau lahir generasi-generasi pecinta Qur’an yang terus menebarkan manfaat hingga hari ini.

Kisah perjuangan beliau diangkat dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #4 yang tergelar secara daring pada 6 Mei 2026. Nyai Hj Aida Fahmi yang berkesempatan untuk menuturkan biografinya. Dari kisah hidup beliau, kita bisa belajar bahwa, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ilmu, membangun masyarakat, dan menerangi peradaban melalui jalan pengabdian.

Hakikatnya, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab menghadirkan kemaslahatan. Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan sosial dan keagamaan, tetapi juga subjek penting dalam membangun tradisi keilmuan Islam.

Menjaga Sanad, Menjaga Adab

Nyai Rub begitulah beliau akrab kita sapa, adalah putri K.H. Shidiq Zarkasyi dan merupakan istri dari K.H. R. Zamruddin. Sejak usia 18 tahun, beliau telah hafal Al-Qur’an. Sanad keilmuan beliau tersambung hingga Rasulullah SAW melalui para masyayikh seperti Romo Qadir Krapyak, K.H. Ma’shoem Lasem, dan Nyai Nuriyah Ma’shoem Lasem.

Keteguhan beliau dalam menjaga sanad menunjukkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga harus terjaga dengan adab dan penghormatan kepada guru. Di era serba instan seperti sekarang, pesan mengenai menjaga sanad keilmuan, menjaadi terasa sangat penting. Karena ilmu yang berkah, lahir dari kesungguhan, kerendahan hati, dan ketulusan dalam belajar. Adapun menjaga sanad keilmuan, bagian dari adab dan penghormatan kepada guru.

Mubadalah mengajarkan spirit kesalingan, bahwa relasi dalam pendidikan terbangun atas dasar penghormatan dan kerja sama. Guru memuliakan murid dengan ilmu, sementara murid menghormati guru dengan adab. Nilai ini tampak hidup dalam perjalanan Nyai Rub dengan sanad keilmuannya.

Nyai Rubai’ah terkenal sebagai sosok yang lembut, sederhana, penuh kasih, dan tawadhu’. Kelembutan beliau bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang membuat banyak orang merasa dekat dan nyaman. Dari sikap beliau, masyarakat belajar bahwa dakwah yang berdampak tidak selalu hadir dengan suara keras, tetapi juga melalui kasih sayang dan keteladanan hidup.

Nilai kasih sayang menjadi fondasi relasi sosial yang belaiu terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau memiliki pandangan, perempuan maupun laki-laki sama-sama dipanggil untuk menghadirkan kelembutan yang menguatkan, bukan saling merendahkan. Sosok Nyai Rub, menunjukkan jika perempuan dapat menjadi pusat keteduhan sekaligus penggerak perubahan sosial.

Dari Pesantren Perempuan untuk Perubahan Masyarakat

Saat datang ke Mlangi pada tahun 1963, Nyai Rub mendirikan pesantren perempuan di tengah kondisi yang tentu tidak mudah. Bahkan saat itu, K.H. Ma’shoem Lasem pernah dawuh, bahwa beliau akan menjadi “obor” bagi masyarakat Mlangi.

Dawuh tersebut pun terbukti benar adanya. Dari ruang sederhana pesantren perempuan yang beliau dirikan, lahirlah cahaya ilmu yang terus menyala hingga hari ini. Mlangi yang dahulu dikenal sebagai kampung saudagar batik, kini juga sekaligus dikenal sebagai kampung tahfidz dengan banyak pesantren berbasis Tahfidzul Qur’an.

Perjuangan Nyai Rubai’ah menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk menjadi penggerak pendidikan. Dalam spirit mubadalah, ruang pendidikan tidak boleh dibatasi hanya untuk satu jenis kelamin. Ketika perempuan diberi ruang belajar dan mengajar, maka lahirlah generasi yang kuat secara spiritual maupun intelektual, seperti yang telah dipraktikkan oleh Nyai Rub.

Membangun Budaya Qur’ani di Tengah Masyarakat

Yang menarik, Nyai Rub tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an sebagai hafalan, tetapi juga membangun budaya Qur’ani dalam kehidupan sosial masyarakat. Beliau mendirikan Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) di Mlangi yang hingga kini istiqamah berjalan selama puluhan tahun. Selain itu, beliau juga menghidupkan berbagai majelis pengajian, tasmi’ Al-Qur’an, dan shalawatan.

Dari sini kita belajar bahwa, dakwah tidak selalu harus dikemas dalam ceramah, tetapi juga bisa dihadirkan menjadi ruang tumbuh bersama bagi masyarakat. Sebagaimana nilai-nilai mubadalah mengajarkan, bahwa kemaslahatan harus dirasakan bersama, baik oleh laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, di tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan yang membawa kemaslahatan.

Pesantren yang Nyai Rub bangun menjadi ruang aman bagi perempuan untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Salah satu hal yang paling menginspirasi dari Nyai Rub adalah keteguhan beliau dalam mengabdi. Bahkan dalam kondisi sakit, beliau tetap membimbing santri hingga wisuda Al-Qur’an ke-52. Beliau menunjukkan khidmahnya, bukan tentang mencari pujian manusia, tetapi bentuk cinta kepada Allah dan Al-Qur’an.

Ada pesan beliau yang sangat masyhur. “Menjaga Al-Qur’an adalah keharusan. Jangan pernah mengkhawatirkan nasib hidup, Allah SWT tidak akan menghinakan orang yang menjaga Al-Qur’an,” kata Nyai Rub.

Pesan itu menjadi penguat bagi banyak orang, terutama generasi muda yang sering dihantui kecemasan masa depan ketika menghafal Al-Qur’an. Nyai Rub mengajarkan, jika jalan ilmu dan pengabdian tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah SWT.

Jejak Ulama Perempuan

Kisah hidup Nyai Rub menunjukkan, jika perempuan dapat menjadi penjaga peradaban melalui ilmu, kasih sayang, dan pengabdian. Beliau tidak hanya melahirkan generasi penghafal Qur’an, tetapi juga melahirkan penerus dakwah dan pendidikan Islam yang terus membawa manfaat bagi masyarakat.

Beliau mengajarkan hakikat perjuangan perempuan bukan untuk menyaingi laki-laki, tetapi berjalan bersama menghadirkan kebaikan dan keadilan. Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga ilmu, memuliakan manusia, dan membangun kemaslahatan bersama.

Nyai Rub menghadirkan wajah Islam yang teduh. Islam yang memuliakan perempuan, mencintai ilmu, menjaga tradisi, dan menebarkan kasih sayang.

Jejak khidmah Nyai Hj. Rubai’ah Shofia Jamilah akan terus hidup dalam hati para santri, masyarakat, dan generasi pecinta Al-Qur’an. Dari sosok beliau, kita belajar bahwa cahaya peradaban sering lahir dari hati yang tulus dalam mengabdi.

Atas teladan yang telah ditunjukkan Nyai Hj. Rub dalam sepanjang hidupnya, semoga semakin banyak perempuan yang berani menempuh jalan ilmu, menghidupkan nilai-nilai Qur’ani, dan menjadi penerang bagi masyarakat di sekitarnya.

Sebab dari perempuan penjaga ilmu seperti Nyai Rub, telah terbukti mampu melahirkan generasi yang tidak hanya hafal ayat-ayat Allah, tetapi juga mampu menghadirkan nilai kasih sayang, keadilan, dan kemaslahatan dalam kehidupan sehari-hari. Dan saatnya, perempuan-perempuan muda, terus melanjutkan jejaknya untuk menjadi cahaya ilmu yang terus menyala, hingga di akhir hayatnya. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.