Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Banjir Bukan Budaya, Jakarta Perlu Strategi Pengelolaan Air Menyeluruh

Banjir Bukan Budaya, Jakarta Perlu Strategi Pengelolaan Air Menyeluruh

banjir-bukan-budaya,-jakarta-perlu-strategi-pengelolaan-air-menyeluruh
Banjir Bukan Budaya, Jakarta Perlu Strategi Pengelolaan Air Menyeluruh
service

Jakarta, NU Online

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Tantan Hermansyah menekankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta perlu mengupayakan strategi pengelolaan air yang menyeluruh. 

“Banjir di Jakarta tidak boleh menjadi kebudayaan. Kebudayaan itu misalnya disampaikan pemerintah, ‘Ya kan kita biasa banjir.’ Seharusnya, karena sudah biasa banjir, pemerintah Jakarta membangun perspektif pengelolaan air, penataan air dari hulu sampai hilir, jangan hanya menyalahkan banjir kiriman dan lain sebagainya, karena itu tidak menyelesaikan masalah,” katanya kepada NU Online pada Jumat (23/1/2026).

Tantan melihat, banjir di Jakarta tidak bisa hanya dilihat sebagai kesalahan parsial, tetapi secara geografis wilayah tersebut memang berada di dataran rendah yang juga menerima kiriman air dari daerah di atasnya, seperti Bogor, Jawa Barat.

“Warga Jakarta, saya yakin, sangat menginginkan pendekatan yang jauh lebih komprehensif, holistik, multidisiplin, dan multidimensi, sehingga manfaatnya dirasakan secara langsung oleh warga Jakarta,” jelasnya.

Menurutnya, selain diberlakukannya program pembinaan dan sosialisasi yang massif dari level atas, tetapi perlu dicanangkan pula agenda insentif dan disinsentif kepada masyarakat di Jakarta.

“Jadi, jika ada orang yang bisa memelihara lingkungan dengan sangat baik, mereka mendapat beasiswa, tunjangan bulanan, dan lain sebagainya,” katanya.

“Sebaliknya, jika ada orang yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sehingga boros air, lingkungan menjadi keruh dan rusak, jalanan tidak bagus itu akan mendapat disinsentif yang keras, sehingga orang takut melakukan pelanggaran lingkungan,” sambungnya.

Tidak hanya itu, kata Tantan, Pemprov Jakarta harus berkomunikasi intens dan melakukan negosiasi dengan wilayah-wilayah sekitar, supaya tidak hanya menyumbang air, tetapi juga melakukan pengendalian secara mandiri.

“Mungkin Jakarta perlu memberikan insentif kepada pemerintah sekitar Jakarta, entah masyarakat atau pemdanya, supaya air yang mengalir ke Jakarta tidak terlalu deras,” katanya.

Di Jakarta sendiri, lanjutnya, permasalahan air rob dari laut juga harus melakukan pendekatan yang jauh lebih masif dan komprehensif. 

Lebih lanjut, Tantan menginginkan agar Pemprov Jakarta juga membuat pori-pori bumi raksasa, sehingga air dari sisa-sisa hujan tidak langsung mengalir ke laut dan sisanya baru mengalir ke aliran lain.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.