Dengarkan artikel ini:
Audio dibuat menggunakan AI.
Kenapa Gen Z bisa lebih menikmati musik dari zaman yang bahkan tidak pernah mereka alami, dan kapan kenikmatan itu diam-diam berubah jadi romantisasi rezim?
Playlist Gen Z hari ini penuh anomali: Beatles, Fleetwood Mac, sampai Chrisye dan katalog “City Pop” lokal nangkring berdampingan dengan rilisan minggu ini.
Fenomena ini bahkan punya data pendukung: musik lawas kini menguasai mayoritas pasar streaming musik dunia, jauh melampaui rilisan baru.
Tapi ini bukan sekadar soal algoritma yang kebetulan mendorong lagu lama ke permukaan.
Menurut teoretikus budaya Fredric Jameson, ada kerinduan yang bukan pada satu periode sejarah tertentu, melainkan pada sebuah gaya atau mode estetik itu sendiri: inilah yang disebut nostalgia postmodern.
Gen Z yang lahir jauh setelah tahun 1980-an tidak benar-benar merindukan Indonesia di bawah Soeharto, mereka merindukan rasa dari suaranya: hangat, analog, dan sederhana.
Masalahnya, rasa itu tidak lahir dari ruang kosong.
“Gaya” yang mereka nikmati hari ini adalah produk dari salah satu babak politik paling represif dalam sejarah Indonesia modern.
Kalau nostalgia ini murni soal estetika, apakah sejarah di baliknya masih relevan untuk didengar?
Atau justru semakin nyaman telinga dengan suara itu, semakin mudah juga menelan cerita tentang zamannya begitu saja?
Rindu pada Rasa, Bukan pada Zamannya
Nostalgia postmodern ala Jameson menjelaskan kenapa telinga Gen Z gampang jatuh cinta pada tekstur lagu lama tanpa harus tahu detail sejarahnya sama sekali.
Synth yang hangat, gitar yang tidak diproduksi berlebihan, dan lirik cinta yang lugas terasa seperti antitesis dari pop hari ini yang serba dipoles demi algoritma.
Riset industri musik di Amerika Serikat mencatat lagu-lagu “katalog” (rilisan berusia lebih dari 18 bulan) kini menguasai lebih dari tiga perempat total streaming musik di sana.
Tapi “gaya” yang dinikmati Gen Z hari ini bukan gaya yang lahir dari ruang netral secara politik.
Katalog “Pop Kreatif” (yang belakangan dijuluki ulang sebagai “Indonesian City Pop“) tumbuh spesifik pada era 1980-an, tahun-tahun yang sering disebut sebagai puncak kejayaan pembangunan Orde Baru dan lahirnya kelas menengah urban baru.
Musik ala Barat semacam ini sebelumnya sempat benar-benar dilarang negara.
Presiden Sukarno menyebut rock and roll ala The Beatles sebagai “ngak-ngik-ngok”, simbol imperialisme budaya yang harus ditolak generasi muda saat itu.
Pada 1963, Sukarno menerbitkan aturan yang melarang lagu-lagu berbau Barat dinyanyikan di Indonesia.
Grup musik Koes Bersaudara (yang kelak dikenal sebagai Koes Plus) ditangkap dan dipenjara sekitar tiga bulan pada 1965 karena memainkan lagu-lagu The Beatles di sebuah acara makan malam pribadi.
Piringan hitam The Beatles, Rolling Stones, dan The Shadows dirazia aparat yang dibantu pemuda berafiliasi Lekra, lalu dihancurkan di depan umum.
Barulah setelah Soeharto naik dan Orde Baru berdiri, keran musik Barat yang sempat ditutup rapat itu dibuka kembali.
Sampai di titik ini, riwayat Beatles murni soal sensor yang berakhir, bukan soal musiknya dipakai sebagai alat kekuasaan.
Cerita yang berbeda justru ada pada genre yang lahir belakangan: Angkatan Darat lewat orkes BKS-Kostrad memainkan musik pop dan rock secara umum di berbagai kota untuk mendekatkan citra rezim baru ke rakyatnya, bukan sekadar membiarkannya beredar bebas.
Televisi swasta yang muncul sejak akhir 1980-an makin menyuburkan budaya pop ala Barat itu menjadi industri hiburan besar.
Di titik pertemuan itulah “Pop Kreatif” tumbuh: genre yang secara estetika mewarisi bunyi Barat yang dulu dilarang, tapi kali ini dipakai aktif sebagai penanda modernitas dan legitimasi rezim yang membukanya.
Perlu dicatat, keterbukaan Orde Baru terhadap budaya Barat ini bukan kebebasan tanpa syarat: riset sejarah menunjukkan pemerintah tetap represif terhadap karya seni yang secara terang-terangan mengkritik kekuasaan.
Jadi kalau ditarik ke belakang, ada dua residu berbeda yang menempel pada “gaya” yang disukai Gen Z hari ini: kisah sensor yang berakhir soal Beatles, dan kisah budaya yang dipakai aktif untuk citra soal Pop Kreatif.
Apakah rekam jejak represif semacam ini otomatis membuat kenikmatan estetika hari ini jadi bermasalah secara moral?
Atau adakah cara menikmati suaranya tanpa ikut menelan mentah-mentah cerita “pembebasan” yang dijual rezim yang membukanya?
Batas Tipis Antara Rindu dan Romantisasi
Sejarawan budaya Svetlana Boym membedakan dua jenis nostalgia: nostalgia reflektif, yang menikmati suasana masa lalu tanpa mengklaimnya sebagai kebenaran mutlak, dan nostalgia restoratif, yang justru ingin membangun ulang serta mengembalikan masa itu sebagai kondisi ideal.
Sejauh ini, kerinduan Gen Z pada Beatles dan Chrisye masih berada di ranah reflektif: soal rasa, bukan keinginan literal kembali ke tahun 1980-an.
Tapi Indonesia sudah punya preseden ketika nostalgia estetik semacam ini berbelok arah menjadi restoratif.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto pada November 2025 memicu perdebatan publik soal pelanggaran HAM berat yang coba dikubur narasi pembangunan.
Frasa “Piye Kabare, Enak Jamanku Toh?” yang identik dengan wajah tersenyum Soeharto lama dipakai membangkitkan rindu pada stabilitas harga dan rasa aman era Orde Baru, bahkan jadi materi kampanye partai bentukan keluarga Soeharto.
Tapi riset soal siapa yang benar-benar memakai frasa itu justru menunjukkan pola menarik: nostalgia restoratif jenis ini terkonsentrasi di kalangan Baby Boomer dan Gen X yang benar-benar hidup di era Orde Baru.
Budaya meme politik Gen Z soal Soeharto sendiri justru condong kritis, lebih banyak menyoroti pelanggaran HAM ketimbang merindukannya.
Justru di sinilah bahayanya: bukan karena Gen Z organik bergeser jadi restoratif lewat musik, tapi karena mereka tak punya ingatan hidup yang membekali konteks kritis.
Kekosongan itu membuat kecintaan estetika pada “gaya” tahun 80-an jadi pintu masuk bagi narasi “Piye Kabare” yang sudah lama dipolitisasi aktor Orde Baru.
Pola serupa terjadi di banyak negara lain.
Di Filipina, riset akademis menemukan nostalgia terhadap “masa keemasan” darurat militer Marcos dibentuk sengaja lewat narasi media sosial selektif, menonjolkan kisah “damai dan makmur” sambil menghapus catatan kekerasan negara.
Di bekas Jerman Timur, fenomena bernama Ostalgie membuat sebagian orang merindukan produk dan jaminan sosial era sosialis sambil melupakan pengawasan represif Stasi, sementara Yugonostalgia di bekas Yugoslavia merindukan stabilitas dan kejayaan olahraga era Tito minus sistem satu partai otoriter yang menopangnya.
Benang merah ketiganya sama: nostalgia menempel pada tekstur hidup sehari-hari, sementara mesin politik yang menciptakan tekstur itu diam-diam menghilang dari ingatan kolektif.
Risiko yang sama mengintai musik “lagu jadul” di Indonesia bukan sebagai pergeseran selera alami, tapi sebagai celah bagi narasi “dulu lebih tertib, lebih murah, lebih enak” yang sudah lama beredar dan tinggal mencari pembawa baru.
Menikmati Beatles dan Chrisye tidak harus berarti mewarisi citra diri yang dulu dijual Orde Baru, asal kecintaannya dibarengi ingatan soal sensor yang membungkam Koes Bersaudara dan represi yang menyertai kejayaan Pop Kreatif, bukan sekadar estetika tanpa konteks. (R100)
