Di teras rumah kayu di Wonokromo, seorang perempuan berdiri dengan dagu tegak. Perempuan itu bernama asli Sanikem.
Dia adalah perempuan Indonesia yang dijadikan sebagai ‘Gundik’, sebutan untuk perempuan yang menjadi simpanan tuan Belanda di masa kolonial. Sanikem dijual ayahnya demi jabatan dan uang.
Di tengah kultur patriarki dan kolonialisme masa itu, Sanikem mendobrak konstruksi gender yang membatasi dan mengatur bahwa perempuan harus diam dan tak punya hak bersuara. Sebaliknya, Sanikem tampil dengan kemandirian dan agensinya yang menolak perempuan hanya sebagai objek.
Sanikem itulah yang kita kenal kemudian sebagai Nyai Ontosoroh dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer.
Baginya, menjadi Nyai bukan berarti harus pasrah pada nasib begitu saja, melainkan ketika hukum kolonial Belanda berusaha merampas perusahaan, harta benda, bahkan anak kandungnya, ia tidak memilih meratapi. Melainkan melawannya dengan sekuat tenaga meski dengan segala kerentanannya sebagai Nyai di masa itu.
Satu hal yang membuat Ontosoroh luar biasa adalah ketika ia menyadari pentingnya intelektualitas. Di tengah kurungan tembok rumah, ia belajar membaca, menulis, dan memahami hukum bangsa kulit putih.
Baca Juga: 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, Mengingat Tulisannya Tentang Perempuan Revolusioner Sampai Pelarangan Buku
Nyai Ontosoroh paham, ketika ingin melawan Kolonialisme ia harus paham akan bahasa dan aturan main sang kolonialisme. Ia mendidik dirinya sendiri, kemudian mendidik seorang pemuda Jawa bernama Minke yang penuh dengan keraguan, untuk menjadi manusia merdeka sejak dalam pemikiran.
Sosok Ontosoroh adalah pengingat bahwasanya tubuh perempuan sering kali menjadi medan tempur politik dan ekonomi. Menunjukkan sebuah potret pahit betapa patriarki begitu kejam. Namun, Ontosoroh berjuang untuk mengambil kembali hak atas hidupnya.
Dengan mengelola perusahaan Boerderij Buintenzorg dari ‘tangan besi’ yang cerdas, hal ini menunjukkan bahwa kompetensi tidak mengenal warna kulit ataupun gender.
Kalimat ikonik dalam buku atau film karya Pramodya Ananta toer yakni, “Kita telah melawan, Nak Nyo, Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” tetap relevan hingga saat ini.
Meskipun pada akhirnya Ontosoroh harus mengalami kekalahan dalam pengadilan kolonialisme yang rasis. Ia mengalami kekalahan, namun menurutnya hal itu merupakan kemenangan dalam hal moral. Ontosoroh mengajarkan kita bahwa hasil akhir tidak selalu berbuah manis, namun keberanian untuk melawan dan bersuara atas ketidakadilan menjadi sebuah kewajiban.
Nyai Ontosoroh bukan hanya tokoh fiktif. Ia adalah sebuah representasi dari ribuan perempuan Indonesia yang hingga kini masih berjuang melawan stigma, kekerasan seksual, dan sistem yang berusaha membungkam langkah mereka.
Ontosoroh sadar bahwa tanpa kekuatan finansial, posisinya sebagai perempuan pribumi cukup rentan. Ia tidak hanya belajar bahasa Belanda untuk sekadar berbahasa, tetapi juga menguasai pembukuan, strategi pasar, dan manajemen ternak.
Baca Juga: Sosok Perempuan dalam Novel Pramoedya Ananta Toer: Kuat, Pendobrak, Revolusioner
Ia membuktikan bahwa efisiensi dan ketegasan dalam memimpin perusahaan adalah bentuk agensi perempuan yang paling nyata. Saat Herman Mellema (tuannya) tenggelam dalam depresi dan alkohol, Ontosoroh-lah yang menjaga roda ekonomi perusahaan tetap berputar kencang.
Ketangguhan ekonominya bukan untuk kekayaan semata, melainkan untuk membeli “martabat” di mata hukum kolonial yang rasis. Dengan kekayaannya, ia mampu menyewa pengacara terbaik dan memberikan pendidikan berkualitas bagi anaknya, Annelies, serta menjadi mentor bagi Minke. Ia memahami bahwa di dunia yang dikuasai patriarki dan kolonialisme, uang adalah alat tawar-menawar agar suara perempuan tidak mudah diabaikan.
Puncak perjuangannya adalah saat pengadilan Belanda berusaha merampas perusahaan dan hak asuh Annelies. Di sini Ontosoroh memperlihatkan betapa ironisnya, meskipun Ontosoroh yang membangun bisnis tersebut dari nol dengan keringatnya sendiri, hukum kolonial menganggapnya tidak ada secara legal karena statusnya sebagai gundik.
Dalam setiap langkah perlawanannya, Nyai Ontosoroh tidak hanya menggunakan emosi, tetapi juga logika hukum dan ekonomi yang tajam. Berikut adalah tiga pilar perlawanannya yang diabadikan melalui kutipan ikonik dalam Bumi Manusia
1. Literasi sebagai Kunci Kemerdekaan
Ontosoroh sadar bahwa ketertindasan bermula dari ketidaktahuan. Ia mendidik dirinya sendiri untuk memahami dunia luar yang rasis dan patriarki. Kepada Minke, ia menegaskan pentingnya belajar:
“Jangan sebut aku perempuan terpelajar bila aku tak tahu setidak-tidaknya satu hukum kolonial yang menyangkut diriku.”
Bagi Ontosoroh, ini adalah pesan kuat tentang pentingnya literasi hukum bagi perempuan. Tanpa memahami hukum, perempuan akan terus menjadi objek yang dimanipulasi oleh sistem.
2. Kedaulatan Berpikir
Ia menolak tunduk pada fatalisme. Baginya, manusia didefinisikan oleh keberaniannya untuk berpikir dan bertindak mandiri.
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa Ontosoroh memahami betul kekuatan narasi. Ia mendorong Minke dan kita semua untuk terus menulis dan berani bersuara, karena itulah cara abadi untuk melawan penindasan.
3. Kekalahan yang Terhormat
Di akhir perjuangannya dalam melawan pengadilan kolonial yang merampas hak asuh Annelies, Ontosoroh memberikan kalimat yang paling menggetarkan sanubari kepada setiap aktivis kemanusiaan
“Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Kalimat ini menegaskan bahwasanya kemenangan bukan selalu soal hasil akhir di pengadilan, melainkan keberanian untuk tidak menyerah pada ketidakadilan. Melawan adalah kemenangan itu sendiri.
Sosok Nyai Ontosoroh mengingatkan perempuan tertindas bahwa kebaya dan konde bukanlah simbol kelemahan. Melainkan di balik keanggunan tersebut, tersimpan kemandirian ekonomi, bentuk kecerdasan hukum, dan nyali seorang Nyai yang tak kunjung padam.
Ontosoroh bisa dikatakan sebagai moyang dari gerakan feminisme Indonesia yang mengajarkan kita untuk merdeka setidaknya dalam pikiran dan sebelum merdeka dalam tindakan.
(Editor: Nurul Nur Azizah)
(sumber foto: Falcon Pictures)





Comments are closed.