Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Bukan Sekadar Film, “Di Balik Ilusi Tembakau” Memantik Kesadaran Baru tentang Rokok

Bukan Sekadar Film, “Di Balik Ilusi Tembakau” Memantik Kesadaran Baru tentang Rokok

bukan-sekadar-film,-“di-balik-ilusi-tembakau”-memantik-kesadaran-baru-tentang-rokok
Bukan Sekadar Film, “Di Balik Ilusi Tembakau” Memantik Kesadaran Baru tentang Rokok
service

Perjalanan “Di Balik Ilusi Tembakau” masih terus berlanjut. Film dokumenter besutan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta itu kembali menyapa publik dalam pemutaran keempatnya di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia (PSJ UI) Depok, Sabtu 25 Juli 2026.

Sebelumnya, film ini telah lebih dulu diputar di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya pada 19 Mei 2026, Hotel Mercure Pontianak pada 4 Juni 2026, serta Yogyakarta dalam rangkaian Djourno Fest pada 4 Juli 2026. Perjalanannya pun belum usai. Pada Agustus mendatang, “Di Balik Ilusi Tembakau” dijadwalkan kembali hadir di Yogyakarta sebagai salah satu film yang diputar dalam Festival Udin.

Setiap kota menghadirkan penonton dengan latar belakang berbeda, tetapi meninggalkan satu benang merah yang sama: lahirnya diskusi tentang sisi-sisi industri tembakau yang selama ini jarang dibicarakan. Film dokumenter ini mengajak penonton menelusuri bagaimana berbagai kepentingan bekerja membentuk narasi tentang tembakau, mulai dari citra rokok yang dibangun di ruang publik hingga dampaknya terhadap masyarakat.

Selama empat kali pemutaran, respons penonton dinilai beragam. Selain mendapat apresiasi karena mengangkat sisi yang jarang dibahas, film ini juga menuai pertanyaan mengenai tidak dihadirkannya perwakilan industri rokok sebagai narasumber. Sutradara “Di Balik Ilusi Tembakau” Irvan Imamsyah mengatakan film ini lebih memusatkan cerita pada pengalaman petani, pekerja, dan kelompok yang terdampak. Kata dia, dokumenter ini memang mengambil sudut pandang tertentu untuk memberi ruang lebih besar kepada suara-suara yang selama ini kurang terdengar.

“Kami sudah mengupayakan akses ke industri tembakau dan sangat sulit. Tapi kami punya subjektivitas di film ini untuk memilih siapa yang harus hadir. Jadi kita kasih privilege ke petani dan para korban rokok,” ujar Irvan saat ditemui Prohealth di pemutaran ke empat film tersebut.

Menariknya, sambutan positif justru datang dari pemutaran di kampus-kampus yang kultur merokok di kalangan mahasiswanya masih cukup tinggi. Irvan menyebut film tersebut mengajak penonton melihat persoalan tembakau dari sisi yang lebih luas. Mereka menilai ruang-ruang diskusi seperti kampus penting untuk menyeimbangkan narasi yang selama ini lebih banyak didominasi oleh industri.

“Seru ketika kita hadir di kampus-kampus yang banyak perokoknya cewek dan cowok. Sebetulnya kita tidak melarang, tapi ingin kasih tahu adanya fenomena rokok dan industri tembakau,” kata dia.

Menurut Irvan, dokumenter ini diharapkan makin memperluas pemahaman publik tentang industri tembakau. Film ini ingin mengajak penonton mendalami berbagai persoalan struktural di balik industri rokok, termasuk kondisi petani yang dinilai belum menikmati manfaat sebagaimana narasi yang selama ini dihembuskan industri tembakau.

“Merokok memang pilihan. Tapi sehat juga pilihan. Dan yang akan lebih sehat lagi kalau kita tahu misalnya bahwa ada tata niaga yang buruk dan ada petani yang dirugikan,” ujar Irvan.

Pemutaran tersebut merupakan bagian dari Djourno Fest 2026, festival film dokumenter jurnalistik yang diinisiasi Progresip bersama Watchdoc. Mengusung tema “Saling Silang Ketimpangan dan Demokrasi”, festival ini mempertemukan jurnalis, sineas, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta publik dalam ruang bersama untuk menyaksikan sekaligus mendiskusikan dokumenter-dokumenter yang mengangkat isu ketimpangan sosial, demokrasi, lingkungan, dan keadilan sosial.

“Di Balik Ilusi Tembakau” menjadi salah satu dari delapan film yang terpilih untuk diputar dalam Djourno Fest 2026. Film berdurasi 47 menit ini lolos dari proses kurasi yang melibatkan penilaian ketat terhadap 42 karya dokumenter yang masuk. Program Manager Watchdoc Documentary Muhammad Sridipo saat pembukaan Djourno Fest 2026 di Jakarta mengatakan tim juri menyeleksi setiap film secara cermat untuk menentukan karya-karya yang paling kuat dari sisi jurnalistik sekaligus relevan dengan tema festival.

“Benih-benih film dokumenter jurnalisme ini sebenarnya banyak peminatnya. Tapi memang ekosistemnya perlu ditumbuhkan. Djourno Fest 2026 ini adalah upaya bersama menghidupkan ekosistem dokumenter jurnalisme Indonesia supaya lebih powerful,” kata Dipo.

“Di Balik Ilusi Tembakau” menjadi film pembuka Djourno Fest 2026 di Jakarta. Suasana pemutaran film pun berlangsung hangat. Puluhan pengunjung yang didominasi mahasiswa ini tampak menonton dengan tenang hingga film berakhir.

Film tersebut juga memantik refleksi dari penonton. Salah seorang pengunjung, Fitri mengaku selama ini menganggap isu rokok sebagai sesuatu yang biasa karena tidak ada anggota keluarganya yang merokok. Namun, setelah menyaksikan dokumenter tersebut, ia menyadari bahwa dampak industri tembakau tidak hanya menyasar perokok, melainkan juga masyarakat luas melalui berbagai persoalan yang saling berkaitan.

“Selama ini saya normalisasi saja soal merokok meski tidak merokok. Tapi setelah nonton film ini, baru sadar dampaknya besar. Ternyata panjang sekali runtutan masalahnya,” kata Mahasiswa Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) itu kepada Prohealth.

Sebagai desainer grafis, Fitri juga menyoroti soal kemasan rokok yang kini kian inovatif lewat pendekatan visual yang menarik. “Kalau dari packaging yang sangat menarik, aku lihat ini upaya marketing industri rokok itu ngaruh banget, sengaja begitu strateginya,” kata dia.

Film itu, ujarnya, menimbulkan kekhawatiran tentang dampak jangka panjang promosi rokok terhadap generasi muda. “Dari film itu makin keliatan kalau semua orang bisa jadi korban rokok, tidak hanya perokok saja dan itu membahayakan generasi ke depan,” kata Fitri.

Pandangan serupa juga disampaikan penonton lain. Erma mengaku pernah mencoba rokok elektronik (vape), tetapi memutuskan berhenti setelah merasakan efek pusing dan jantung berdebar. Pengalaman itu membuatnya semakin mudah memahami pesan yang disampaikan “Di Balik Ilusi Tembakau”. Ia juga menyoroti ketimpangan kuasa antara industri rokok dan kelompok masyarakat yang terdampak.

“Memang ada pemasukan ke negara lewat cukai rokok, tapi dampaknya kan ke kesehatan. Apalagi karena masifnya iklan rokok yang menyasar anak-anak,” ujar pekerja lepas yang berdomisili di Jakarta ini.

Kekhawatiran itu semakin kuat ketika ia berkaca pada pengalaman keluarganya sendiri. Sang ayah, yang menghabiskan hingga dua bungkus rokok setiap hari, membuat anggota keluarga lain ikut terdampak sebagai perokok pasif. Berangkat dari pengalaman tersebut, Erma berharap pemerintah mengambil langkah yang lebih tegas, salah satunya dengan menaikkan harga rokok.

“Supaya rokok semakin sulit dibeli karena kalau mahal jadi lebih susah dijangkau. Masa tiap ada yang merokok harus selalu saya yang menghindari asapnya?” kata dia.

Keikutsertaan “Di Balik Ilusi Tembakau” dalam rangkaian festival film ini menunjukkan bahwa dokumenter jurnalistik tidak hanya berfungsi sebagai medium penyampai informasi. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk menguji berbagai narasi yang berkembang di masyarakat sekaligus memantik percakapan yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Sepanjang penyelenggaraannya, Djourno Fest 2026 yang digelar di Yogyakarta dan Jakarta ini menghadirkan delapan film dokumenter dalam program Sinema Berdaya, pemutaran khusus dan diskusi bersama WALHI mengenai perjuangan masyarakat mempertahankan ruang hidup, serta Sinema Bicara Progresip x Watchdoc yang membahas proses kreatif produksi film dokumenter dan peran jurnalisme dalam menghadirkan cerita-cerita yang berdampak bagi publik.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.