Masih dalam semangat peringatan Hari Anak Nasional 2026, lebih dari 1.670 orang mengikuti Run for Equality 2026 yang diselenggarakan Plan Indonesia di Senayan Park, Jakarta, untuk mengampanyekan kesetaraan dan pemenuhan hak anak-anak, termasuk penyandang disabilitas, untuk bermain, berpartisipasi, dan tumbuh tanpa diskriminasi.
Run for Equality 2026 diikuti anak-anak, keluarga, komunitas lari, penyandang disabilitas, institusi pendidikan, serta korporasi. Para peserta dapat memilih kategori 3K, 5K, atau 10K, menjadikan ajang ini sebagai ruang olahraga yang terbuka bagi semua untuk bergerak bersama dalam semangat kesetaraan.
Mengusung tema ‘Equal Steps, Equal Play’, Run for Equality 2026 menjadi pengingat bahwa kesetaraan dapat diwujudkan secara sederhana dari ruang-ruang publik yang memungkinkan anak-anak termasuk penyandang disabilitas, berpartisipasi tanpa diskriminasi, untuk bermain, belajar, berinteraksi, dan mengembangkan potensinya.
Tema ini makin relevan di tengah masih besarnya tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas di Indonesia. Meski Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 telah menjamin hak-hak penyandang disabilitas, data tahun 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menunjukkan bahwa hanya 17,2 persen penyandang disabilitas usia produktif yang mengakses pendidikan formal.
Selain itu, lebih dari separuh penyandang disabilitas masih menghadapi hambatan dalam mengakses layanan dasar. Ini mulai dari pendidikan, kesehatan, pekerjaan, hingga ruang publik yang aman dan inklusif.
Dini Widiastusi, Direktur Eksekutif Plan Indonesia, menyatakan ingin mendorong terciptanya ruang olahraga dan ruang publik yang lebih inklusif agar setiap anak dan kaum muda. Termasuk anak penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, bermain, dan berkembang tanpa diskriminasi.
“Sebab, kesetaraan berarti memastikan setiap anak merasa diterima, dihargai, dan memiliki ruang untuk menunjukkan potensinya,” kata Dini.
Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND), Jonna Aman Damanik, juga menegaskan inklusivitas harus diwujudkan melalui pengalaman nyata, termasuk dalam aktivitas olahraga. Ia mengatakan olah raga adalah hak semua orang.
Menurut dia, inklusivitas juga harus diwujudkan dengan cara memastikan anak-anak penyandang disabilitas dapat berpartisipasi secara bermakna, aman, dan setara. “Inisiatif seperti Run for Equality menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran bahwa ruang publik harus dapat diakses oleh semua,” kata Jonna.
Makna inklusi juga dirasakan langsung oleh Zahra (16 tahun), peserta penyandang disabilitas yang mengikuti kategori 3K. Ia mengatakan sangat senang bisa ikut Run for Equality tahun ini. Ia merasa diterima dan tidak dipandang berbeda.
Menurut Zahra, penyandang disabilitas juga ingin berolahraga, bersosialisasi, dan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang sama jika diberikan kesempatan. “Semoga semakin banyak kegiatan dan ruang publik yang benar-benar inklusif, sehingga lebih banyak teman-teman disabilitas berani keluar, berpartisipasi, dan menunjukkan potensi terbaik mereka,” ungkapnya.
Run for Equality 2026 juga mendapat dukungan dari puluhan relawan muda yang tergabung dalam PlaNet (Plan Indonesia Network), serta sejumlah figur publik yang hadir sebagai running buddy untuk mendampingi anak-anak penyandang disabilitas pada kategori 3K.
Mereka di antaranya Wulan Guritno, Shalom Razade, Kenes Andari, Park Nam, Julie, Mika dan Milo Taslim, Amanda dan Janna Soekasah, Gerin Nathanael, Ida Rhijnsburger, serta Natrio Catra Yososha, kreator konten yang aktif menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas.
Wulan menuturkan sebagai seorang ibu, saya percaya setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk bermain, bergerak, dan merasakan kebahagiaan bersama teman-temannya. Ia juga melihat bagaimana para orang tua dan caregiver dengan penuh cinta terus mendampingi anak-anak penyandang disabilitas agar berani mencoba, berkembang, dan menikmati setiap langkah mereka.
“Semoga semakin banyak ruang olahraga dan ruang publik yang inklusif, sehingga setiap anak dan keluarga dapat merasa diterima, didukung, dan menjadi bagian dari masyarakat tanpa diskriminasi,” tutur Wulan.
Selain Wulan Guritno, influencer asal Korea Selatan, Park Nam, juga menyatakan dukungannya. Di dunia lari, kata dia, setiap orang punya ritmenya masing-masing dan semua layak diapresiasi. Menjadi running buddy, lanjutnya, membuat ia percaya bahwa olahraga bisa menjadi ruang yang menyatukan semua orang.
“Semoga semakin banyak orang yang ikut menciptakan lingkungan yang inklusif, agar setiap anak punya kesempatan yang sama untuk bergerak, bermain, dan berkembang.”
Run for Equality 2026 juga mengajak masyarakat memperluas dampak melalui semangat gotong royong dengan menginisiasi penggalangan dana. Hal ini untuk mendukung penyediaan alat bantu dan fasilitas pendukung bagi anak-anak penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Timur.
Gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai mitra. Di antaranya UEFA Foundation for Children, UNIQLO, FIF Group, dan Turkish Airlines. Selain itu, memberikan perlindungan asuransi dari SalingJaga kepada seluruh peserta selama kegiatan berlangsung.





Comments are closed.