Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Bukan Cuma Gizi, Fasilitas Sekolah Juga Menentukan Tumbuh Tumbuh Anak: Mengapa Demikian?

Bukan Cuma Gizi, Fasilitas Sekolah Juga Menentukan Tumbuh Tumbuh Anak: Mengapa Demikian?

bukan-cuma-gizi,-fasilitas-sekolah-juga-menentukan-tumbuh-tumbuh-anak:-mengapa-demikian?
Bukan Cuma Gizi, Fasilitas Sekolah Juga Menentukan Tumbuh Tumbuh Anak: Mengapa Demikian?
service

27 Juli 2026 22.38 WIB • 2 menit

Ilustrasi anak sekolahan | Unsplash/Husniati Salma


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak di berbagai daerah. Namun, keberhasilan intervensi kesehatan ini dinilai perlu diimbangi dengan pemerataan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Reaitanya, masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang memiliki fasilitas belajar mengajar minim, bahkan rusak. Ada yang atapnya roboh, ruang kelas yang kurang, atau bahkan jumlah guru yang sedikit.

Fasilitas sekolah sangat memengaruhi kegiatan belajar mengajar karena menentukan tingkat kenyamanan, kemudahan, dan semangat siswa serta guru di sekolah. Artinya, meskipun gizi anak sudah berusaha “dicukupi”, tapi jika kualitas fasilitas sekolahnya masih minim, tentu tetap dapat memengaruhi proses belajar.

Menyoroti Keseimbangan Kebijakan Pendidikan

Setiap kebijakan pendidikan idealnya berjalan secara terpadu agar dapat mengatasi berbagai tantangan di lapangan secara menyeluruh.

Dosen Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Rafi Aufa Mawardi S. Sos., M. Sos., dalam keterangannya di unair.ac.id, menilai bahwa alokasi anggaran dan perhatian pemerintah masih perlu diselaraskan dengan kebutuhan sarana dasar sekolah. Menurutnya, pembenahan fisik bangunan dan fasilitas penunjang sama pentingnya dengan program prioritas nasional.

Saat ini, distribusi anggaran pendidikan masih cenderung diarahkan ke program prioritas pemerintah. Di sisi lain, persoalan infrastruktur sekolah belum betul-betul mendapatkan perhatian yang proporsional.

“Potret tersebut menggambarkan anomali atau ketimpangan yang sistemik. Pemerintah hanya berfokus pada satu program, tetapi belum melihat persoalan pendidikan yang lebih besar, terutama terkait infrastruktur, fasilitas, dan sumber daya sosial yang menunjang proses belajar,” ujarnya.

Asupan Gizi dan Fasilitas Sekolah Harus Berjalan Beriringan

Lebih lanjut, Rafi menyebut jika asupan gizi yang terpenuhi secara optimal akan bekerja lebih efektif jika didukung oleh suasana kelas yang aman dan nyaman. Fasilitas sekolah yang memadai tidak hanya mendukung proses transfer ilmu, tetapi juga menjaga motivasi serta kondisi psikologis siswa. Kombinasi antara tubuh yang sehat dan lingkungan yang kondusif akan membuka peluang terbesar bagi anak-anak untuk berkembang.

Di sisi lain, fasilitas sekolah yang kurang layak bisa mengurangi kualitas pengalaman belajar siswa. Jika tidak segera dibenahi, bukan tak mungkin jika siswa akan mengalami penurunan motivasi belajar.

“Anak yang sehat secara fisik dan didukung lingkungan belajar yang kondusif akan lebih mudah mencapai hasil pendidikan yang diharapkan. Sebaliknya, ketika lingkungan belajarnya tidak mendukung, tujuan pendidikan sulit tercapai secara optimal,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar pembangunan dunia pendidikan yang berkelanjutan melibatkan sinergi serta dialog yang inklusif antara pemerintah, pendidik, dan akademisi. Pemenuhan gizi melalui program MBG disarankan berjalan selaras dengan perbaikan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, serta pemenuhan sarana belajar di seluruh daerah.

Rafi mengatakan, langkah integratif ini bisa menjadi investasi jangka panjang untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak pendidikan bermutu secara merata demi investasi masa depan bangsa.

“Pemerintah perlu membuka ruang dialog yang lebih luas dengan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan. Selain memastikan aspek gizi melalui MBG, perlu ada integrasi dengan perbaikan substansi kurikulum, pemerataan fasilitas, serta peningkatan kualitas guru. Dengan begitu, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas,” pungkasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.