Matahari di ufuk timur saat beberapa perempuan berjalan beriringan menuju kebun. Di kiri-kanan jalan terlihat pohon kakao dan durian. Ada juga pinus di kejauhan. Pagi itu, langit cerah. Udara segar. Para perempuan itu adalah warga Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka tergabung dalam Komunitas Tobine Mohintuhu. Tobine Mohintuhu, berasal dari Bahasa Uma, berarti perempuan bersatu. Komunitas ini dari anggota sampai pengurus adalah perempuan. Kebun itu juga berisi ladang jagung, posisi tertinggi dibanding lahan sekitar. Ada pondok kayu di tengah-tengah lahan yang mereka sebut pampa. “Bahasa kampung sudah itu,” kata Elna Hadajuga juga Kominas Tobine kepada Mongabay, Kamis (7/5/26). Pampa merujuk kepada kebun dengan tanaman apa saja, termasuk pohon kayu keras seperti kopi, durian, atau kakao. “Iya, pampa semua.” Tanaman kakao di pampa perempuan Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia Selain pampa komunitas, setiap keluarga biasa punya pampa sendiri-sendiri. Setiap pampa itu para perempuan yang mengelolanya. Elda bilang, pampa di sana biasa tanam jagung, padi, sayur mayur, durian, kopi, hingga kakao. “Biasanya jagung, kalau (lahan) baru buka, buka jagung dulu,” kata Elna. Warga Desa Lonca biasa buka lahan di sekitar mereka, tidak jauh dari pemukiman. Saat ke lahan, mereka biasa bekerja gotong royong atau mereka sebut mapalus. Sayur mayur seperti sawi, terung, tomat, cabai, hasil dari pampa biasa mereka konsumsi untuk keluarga, kalaupun jual, kepada tetangga dekat mereka saja. Untuk mata pencarian, mereka lebih bergantung kepada tanaman cokelat, durian, getah pinus atau madu hutan. Kalau jagung mereka jadikan pakan ternak, kadang jual.…This article was originally published on Mongabay
Cerita Kedaulatan Pangan Para Perempuan dari Lonca
Cerita Kedaulatan Pangan Para Perempuan dari Lonca





Comments are closed.