Kemarau panjang mulai memicu kekeringan di berbagai daerah, tak terkecuali di Kota Bandar Lampung, Lampung. Warga mulai kesulitan memenuhi keperluan air bersih untuk keperluan sehari-hari dari mandi, mencuci sampai untuk konsumsi. Tariah mesti bolak-balik ke bak penampungan air dari rumahnya yang berjarak 40 meter demi memenuhi kebutuhan esensial: air bersih. Perempuan 71 tahun ini tidak mengeluh meski harus memikul dua ember dengan sebilah batang kayu sekali jalan. Karena, saat itu, kampungnya mendapat bantuan air dari pemerintah. Ingatannya melayang dekade 1980-an dan 1990-an. Saat itu, air di Kampung Batu Suluh, Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung, melimpah. Sekarang, dia dan warga lain harus membayar Rp50.000 untuk mendapat 1.000 liter air. Jumlah itu hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya selama 3-4 hari. Sebulan, kebutuhan air bisa Rp400.000. Uang sebanyak itu hanya untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan kakus. Sumur sudah tidak lagi bisa dia andalkan. Tidak ada lagi air yang mengalir dari tanah mereka. Kekeringan di sana tidak harus menunggu kemarau. “Kalau tidak kemarau juga susah air,” katanya, 11 Agustus. Tetangganya, bahkan, baru saja membuat sumur bor. Penggalian sudah menembus lebih dari 100 meter ke dalam tanah tetapi tidak juga temukan air. Kekeringan di Batu Suluh mulai terasa beberapa dekade terakhir. Seiring dengan sejumlah titik perbukitan di sekitar kampung menjadi lokasi penambangan batu andesit. Bukit-bukit yang dahulu bagian dari lanskap kampung perlahan terkeruk. Sisi lain, kawasan hilir terus berkembang. Industri tumbuh makin pesat tidak jauh dari permukiman. Pabrik-pabrik berdiri dan aktivitas ekonomi semakin ramai. Tariah tidak tahu ke mana air di kampungnya…This article was originally published on Mongabay
Kota Bandar Lampung Mulai Krisis Air Bersih
Kota Bandar Lampung Mulai Krisis Air Bersih





Comments are closed.