Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Daftar Terbaru Pemegang Sahamnya GOTO Setelah Danantara Masuk

Daftar Terbaru Pemegang Sahamnya GOTO Setelah Danantara Masuk

daftar-terbaru-pemegang-sahamnya-goto-setelah-danantara-masuk
Daftar Terbaru Pemegang Sahamnya GOTO Setelah Danantara Masuk
service

KABARBURSA.COM Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengonfirmasi telah mengakuisisi sebagian saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai komposisi terbaru pemegang saham perusahaan teknologi tersebut.

Berdasarkan data RTI Business, struktur kepemilikan saham GOTO masih didominasi oleh investor publik dengan porsi terbesar. Sebanyak 76,61 persen saham tercatat berada di tangan masyarakat dalam bentuk non-warkat atau scripless.

Di posisi berikutnya, SVF GT Subco Pte. Ltd. menjadi pemegang saham institusi terbesar dengan kepemilikan 7,65 persen. Sementara itu, Taobao China Holding Limited menguasai 7,43 persen saham GOTO.

Di antara pemegang saham lainnya, terdapat sejumlah perusahaan besar yang memiliki porsi di bawah 5 persen. Termasuk entitas dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan multinasional.

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk), tercatat memiliki 1,99 persen saham atau sekitar 23,7 miliar lembar saham. Sementara PT Astra International Tbk (PT Astra International Tbk) menggenggam 1,56 persen atau sekitar 18,2 miliar saham. Danantara sendiri disebut memiliki porsi kepemilikan di bawah 1 persen.

Risiko Danantara Miliki Saham di Ojol

Diberitakan sebelumnya, ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan adanya risiko besar jika Danantara membeli saham perusahaan ojek online (online) tanpa desain yang matang.

“Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah langkah ini benar-benar akan memperbaiki nasib pengemudi (driver), atau justru membuka jalan bagi konsentrasi kekuasaan pasar yang lebih besar,” ujar Achmad dalam pernyataan tertulis Selasa, 5 Mei 2026

Ia menilai bahwa selama ini pengemudi ojol berada dalam posisi lemah karena harus menanggung berbagai biaya operasional, mulai dari bensin, cicilan kendaraan, hingga risiko kerja, sementara platform mengambil komisi yang relatif besar.

Wacana pemangkasan komisi menjadi 8 persen memang terlihat pro-pengemudi, tetapi belum tentu meningkatkan kesejahteraan secara nyata.

Achmad menjelaskan bahwa dalam ekosistem digital, tekanan biaya tidak hilang ketika komisi diturunkan secara drastis. Beban tersebut hanya akan berpindah ke komponen lain dalam sistem

“Jika satu katup ditutup mendadak, tekanan akan mencari jalan keluar lain. Bisa melalui kenaikan biaya layanan kepada konsumen, pengurangan bonus pengemudi, hilangnya promo, atau penurunan kualitas layanan,” katanya.

Menurutnya, platform ojol memiliki struktur biaya kompleks karena tidak hanya menjadi perantara, tetapi juga mengelola teknologi, pembayaran, layanan pelanggan, hingga keamanan transaksi. Oleh karena itu, penurunan komisi yang terlalu tajam berisiko mengganggu keberlanjutan bisnis.

Ia juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan kebijakan bukan pada angka potongan, melainkan pendapatan bersih yang diterima pengemudi.

“Yang harus dihitung bukan hanya besaran potongan, tetapi pendapatan bersih pengemudi setelah dikurangi bensin, cicilan, perawatan, waktu tunggu, dan risiko kerja,” ujarnya.

Lebih jauh, Achmad menyoroti potensi konsolidasi industri jika Danantara benar-benar masuk sebagai pemegang saham. Ia mengaitkan hal ini dengan kemungkinan merger dua pemain besar yang bisa mengarah pada dominasi pasar.

“Jika Grab dan Gojek bergabung, pengemudi akan kehilangan alternatif. Konsumen juga kehilangan pilihan,” kata dia.

Menurutnya, monopoli tidak selalu berdampak langsung, tetapi bekerja secara perlahan melalui pengurangan promo, kenaikan tarif, hingga penurunan insentif.

“Monopoli tidak selalu langsung menaikkan harga. Ia sering bekerja perlahan,” ujarnya.

Achmad menegaskan bahwa pemerintah perlu berhati-hati agar kebijakan yang bertujuan melindungi pengemudi tidak justru menciptakan kekuatan pasar yang lebih besar. “Membela pengemudi tidak boleh dilakukan dengan membunuh persaingan,” katanya.

Wacana penurunan potongan tarif ojol di bawah 10 persen pertama kali disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Monumen Nasional (Monas). Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mendorong agar komisi platform dapat ditekan demi meningkatkan kesejahteraan pengemudi.

Seiring dengan itu, muncul pula isu di ruang publik bahwa Danantara masuk ke perusahaan ojek online, yang kemudian dikaitkan dengan upaya penataan ulang industri.(*)

Daftar Pemegang Saham GOTO

Berikut daftar terbaru pemegang saham GOTO di bawah 5 persen:

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk – 3,14 persen 

UBS AG Hong Kong – 2,68  persen

Tencent Mobility Limited – 2,48  persen

Google Asia Pacific Pte. Ltd. – 2,48  persen

Peak XV Partners GoTo Investment Holdings – 2,42  persen

GoTo Peopleverse Fund – 2,39  persen

PT Saham Anak Bangsa – 2,26  persen

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) – 1,99 persen 

Capret (SG) Pte. Ltd. – 1,98  persen

PT Astra International Tbk – 1,56  persen

Peak XV Partners Investments IV – 1,53 persen

WP Investments VI B.V. – 1,46  persen

Citibank Hong Kong S/A Bhinneka Holdings Limited – 1,43 persen

Platinum Orchid B 2018 RSC Limited – 1,28  persen

PT Provident Capital Indonesia – 1,25  persen

William Tanuwijaya – 1,24  persen

Morgan Stanley & Co International Plc – 1,22  persen

CGS International Securities Singapore Pte. Ltd. – 1,09  persen. (*)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.