Mon,9 March 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Di Balik Runtuhnya Sebuah Pondok: Kisah, Luka, dan Tanggung Jawab yang Belum Usai

Di Balik Runtuhnya Sebuah Pondok: Kisah, Luka, dan Tanggung Jawab yang Belum Usai

featured
service

Oleh Redaksi Kabar Warga | Buduran, Sidoarjo


1. Hari Ketika Tanah Berguncang

Sore itu, langit Buduran sedang tenang. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan halaman Pondok Pesantren Al-Khoziny. Di dalam musala dua lantai, suara santri bergema, melafalkan bacaan salat Asar berjemaah. Tidak ada tanda apa pun bahwa sebentar lagi dunia mereka akan berubah.

Sekitar pukul tiga sore, lantai bagian atas musala bergetar. Beberapa santri mengira itu hanya suara cor beton yang baru dikerjakan pagi tadi. Namun getaran berubah menjadi gemuruh. Dalam hitungan detik, atap musala ambruk, menelan belasan santri yang sedang bersujud.

Teriakan memecah sore. Para pengajar dan warga sekitar berhamburan datang, menyingkirkan bata dan kayu dengan tangan kosong. Mereka tidak menunggu alat berat. Yang penting hanya satu: menyelamatkan siapa pun yang masih bernapas.


2. Antara Debu dan Doa

Satu jam pertama adalah kekacauan total. Sirine ambulans memecah keheningan, debu memenuhi udara, dan teriakan “Allahu Akbar” bersahut dengan isak tangis.
Sebuah ponsel merekam momen itu, dan dalam hitungan menit, video tragedi sudah menyebar di media sosial.

Malamnya, tagar #BuduranBerduka menempati posisi teratas di X dan TikTok. Ribuan komentar mengalir. Sebagian mendoakan, sebagian lagi menuding. Ada yang menyalahkan pengelola pondok, ada pula yang mempertanyakan kualitas bangunan. Tapi di antara semua komentar, sedikit sekali yang berbicara tentang mereka yang tertinggal di puing-puing — santri yang kehilangan sahabatnya, guru yang menyesali langkah, atau warga yang masih berjuang membersihkan reruntuhan.


An aerial view shows rescuers searching for victims at the Al Khoziny Islamic boarding school in Sidoarjo, East Java, on October 5, 2025, after a multi-story building at the school collapsed during prayers, killing at least 37 people, with 26 others still missing, according to an official. (Photo by Dicky Bisinglasi / AFP) (Photo by DICKY BISINGLASI/AFP via Getty Images)

3. Bangunan yang Berdiri dari Keikhlasan

Al-Khoziny bukan pondok besar dengan tembok marmer atau menara megah. Ia tumbuh dari semangat gotong royong, dibangun setapak demi setapak oleh dana jamaah dan sumbangan warga. Sebagian bahan bangunan didapat dari donatur lokal, sebagian lagi hasil kerja bakti para santri.

Seperti banyak pesantren lain di Jawa Timur, pondok ini beroperasi sebagai lembaga pendidikan sekaligus tempat tinggal. Namun, laporan pemerintah daerah menyebut bangunan musala tersebut belum memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Tak ada catatan perhitungan struktur, tak ada laporan konsultan teknik.
“Bangunan itu kemungkinan tidak dirancang untuk beban dua lantai,” ujar seorang pejabat teknis Pemkab Sidoarjo saat meninjau lokasi, seperti dikutip Detik.

Penyelidikan awal dari BNPB menunjukkan, lantai atas musala sedang dicor ketika tragedi terjadi. Artinya, struktur yang sudah menua menerima beban baru tanpa dukungan teknis yang memadai.


4. Antara Keikhlasan dan Kelalaian

Musibah ini membuka percakapan lebih luas: tentang cara kita membangun rumah ibadah dan lembaga pendidikan berbasis komunitas.
Pesantren sering kali lahir dari idealisme dan semangat keikhlasan, bukan dari cetak biru perencanaan bangunan. Dalam banyak kasus, keamanan struktural menjadi urusan “nanti saja”, karena dana terbatas.

Namun niat baik tak selalu sepadan dengan tanggung jawab keselamatan. Dalam kasus Buduran, semangat membangun tanpa perhitungan justru berakhir pada kehilangan yang tak terbayarkan.

Kepolisian kini telah memeriksa beberapa pihak terkait pembangunan. Termasuk tukang bangunan, pengawas lapangan, dan pengelola pondok. Pemerintah daerah menjanjikan audit menyeluruh terhadap bangunan pesantren di wilayah Sidoarjo.


Relatives of a missing student react after seeing their child’s body in the morgue at Bhayangkara Hospital in Surabaya, East Java, on October 5, 2025, following the collapse of a multi-storey building at the Al Khoziny Islamic boarding school in Sidoarjo during prayers, which killed at least 37 people, with 26 others still missing, according to an official. (Photo by JUNI KRISWANTO / AFP) (Photo by JUNI KRISWANTO/AFP via Getty Images)

5. Ketika Dunia Maya Tak Memberi Ruang untuk Berduka

Di linimasa, perdebatan terus berlanjut.
Banyak warganet yang, alih-alih mengirim doa, memilih melempar tuduhan. Ada yang menulis tentang “perbudakan santri”, “pesantren tak manusiawi”, hingga “agama yang salah arah”. Narasi-narasi ini berputar cepat, sebagian tanpa dasar fakta, tapi cepat menyalakan api.

Padahal, di lapangan, warga justru bergotong royong membersihkan puing. Para relawan medis menenangkan anak-anak yang trauma. Para guru menangis di sudut musala yang kini tinggal separuh.
Dunia maya dan dunia nyata seolah hidup di dua dimensi yang berbeda: satu penuh opini, satu penuh peluh.

Seorang relawan berkata pelan, “Kadang yang paling menyakitkan bukan puing-puing ini, tapi komentar yang menyalahkan tanpa tahu apa-apa.”


People and family members pray for a student killed in the building collapse at the Al Khoziny Islamic boarding school, at Bhayangkara Hospital in Surabaya, East Java province, on October 5, 2025, following the collapse of a multi-storey building at the Al Khoziny Islamic boarding school in Sidoarjo during prayers, which killed at least 37 people, with 26 others still missing, according to an official. (Photo by JUNI KRISWANTO / AFP) (Photo by JUNI KRISWANTO/AFP via Getty Images)

6. Luka yang Menjadi Cermin

Tragedi Buduran bukan pertama, dan semoga yang terakhir. Tapi ia menyingkap luka lama: tentang bagaimana regulasi, pengawasan, dan kesadaran teknis sering kali tertinggal di belakang semangat beribadah.

Ada ribuan pesantren di Indonesia yang tumbuh dari kemandirian masyarakat, tanpa pengawasan struktural negara. Banyak di antaranya berdiri di atas lahan wakaf, dengan bangunan seadanya.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah tentang pengawasan bangunan pendidikan nonformal belum benar-benar menjangkau mereka.

Kita sering kali baru bicara tentang standar keselamatan ketika bencana sudah terjadi. Padahal, nyawa tidak boleh menjadi harga dari keterbatasan dana dan keikhlasan.


7. Harapan dari Reruntuhan

Beberapa hari setelah kejadian, halaman pondok kembali ramai. Santri-santri yang selamat duduk melingkar, membaca Yasin untuk teman-teman mereka yang tak sempat keluar dari musala.
Warga membangun tenda darurat, tempat pengajian sementara. Di antara reruntuhan bata dan besi, mereka menyalakan lilin, membaca doa, dan berjanji untuk membangun kembali.

Namun kali ini, mereka ingin membangun dengan lebih bijak — bukan hanya dengan semangat, tapi dengan pengetahuan.


8. Epilog: Setelah Semua Reda

Musibah di Buduran meninggalkan luka yang dalam. Tapi di baliknya, ada panggilan untuk berubah — bagi pemerintah, bagi pesantren, bagi masyarakat, dan bagi kita semua.

Agar tidak lagi ada bangunan yang roboh karena kelalaian. Agar tidak lagi ada santri yang menjadi korban karena kealpaan kita memahami risiko. Dan agar setiap orang yang membaca berita duka tidak tergoda untuk menuding, tapi terdorong untuk belajar dan berempati.

Sebab seperti puing-puing yang perlahan dibersihkan, empati juga bisa kita bangun kembali — pelan, tapi pasti.


🕊️ Kabar Warga
Tulisan ini merupakan bagian dari liputan khusus tentang keselamatan bangunan pendidikan dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat keagamaan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.