Universitas Indonesia (UI) kembali membubuhkan sumbangsih penting bagi dunia kedokteran melalui penelitian inovatif di bidang respirasi. Dalam sidang promosi doktor Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran (FKUI) yang diselenggarakan pada Jumat, 8 Mei 2026, di Auditorium Lantai 3 Gedung IMERI-FKUI, Fanny Fachrucha, berhasil mempertahankan disertasinya.
Ia mengembangkan pendekatan precision medicine untuk mendeteksi risiko fibrosis paru pascatuberkulosis. Penelitian ini menjadi tonggak penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien tuberkulosis (TB) di Indonesia.
Fanny mengatakan penyakit tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat kedua jumlah kasus TB terbanyak. Meski pengobatan TB mampu menyembuhkan infeksi, tidak sedikit pasien tetap mengalami kerusakan paru setelah selesai pengobatan.
Salah satu bentuk kerusakan tersebut, ucap dia, adalah fibrosis paru, yaitu kondisi ketika jaringan paru mengalami pembentukan jaringan parut sehingga paru menjadi kaku dan sulit berfungsi secara normal. “Kondisi ini sering kali tidak disadari, namun berdampak besar terhadap penurunan fungsi paru dan kualitas hidup jangka panjang,” katanya.
Dalam disertasinya yang berjudul “Hubungan Faktor Biologis dengan Kejadian Fibrosis Paru Pasca-Tuberkulosis: Kajian terhadap Panjang Telomer dan Kadar TNF-α, IL-10, TGF-β, MMP-9,” Fanny menekankan pentingnya pendekatan precision medicine yang menyesuaikan penanganan berdasarkan kondisi biologis masing-masing individu.
Penelitian ini menemukan panjang telomer, bagian pelindung di ujung materi genetik dalam sel, berperan penting dalam kerentanan terhadap fibrosis paru. Pasien dengan fibrosis paru terbukti memiliki telomer lebih pendek dibandingkan pasien tanpa fibrosis.
Selain itu, penelitiannya juga menyoroti peran penanda inflamasi seperti TNF-α dan TGF-β. Rasio TNF-α/TGF-β yang lebih tinggi menunjukkan adanya ketidakseimbangan proses inflamasi yang mendorong pembentukan jaringan fibrotik pada paru.
Menariknya, ucap dia, kombinasi antara panjang telomer dan penanda inflamasi terbukti lebih efektif dalam mengidentifikasi risiko fibrosis paru pasca-TB dibandingkan hanya menilai satu faktor biologis saja.
Temuan ini membuka peluang baru dalam penanganan pasien TB. Dengan mengetahui pasien yang memiliki risiko tinggi sejak awal, dokter dapat melakukan pemantauan lebih ketat dan intervensi lebih dini sebelum kerusakan paru menjadi permanen. Harapannya, pendekatan ini juga dapat mendukung pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran untuk mencegah atau memperlambat terjadinya fibrosis paru.
“Dengan demikian, ke depannya pendekatan berbasis panjang telomer dan penanda inflamasi memungkinkan untuk dilakukannya personalized medicine untuk deteksi dini fibrosis paru pasca-tuberkulosis,” ujar Fanny.
Dekan FKUI, Anna Rozaliyani, menyampaikan apresiasi atas kontribusi penelitian ini. Menurut dia, temuan ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi pengembangan deteksi dini, dan pemantauan yang lebih terarah.
Ia menyatakan temuan ini menunjukkan intervensi yang lebih personal dan tepat sasaran dalam penanganan pasien tuberkulosis pasca-pengobatan. Ini, kata dia, sekaligus menjadi langkah penting dalam penerapan precision medicine di bidang kesehatan paru di Indonesia.
Anna turut menambahkan hasil penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi inovasi aplikatif dalam deteksi dini, stratifikasi risiko, dan tata laksana pasien tuberkulosis pasca pengobatan berbasis bukti ilmiah. “Ini sekaligus memperkuat budaya riset translasional di lingkungan akademik dan pelayanan kesehatan,” katanya.





Comments are closed.