Rembang, NU Online
Perjuangan perempuan pesisir dalam menggerakkan ekonomi keluarga melalui potensi lokal tercermin dari kiprah dua pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Rembang, Mustiah dan Jumasri. Keduanya berhasil mengembangkan inovasi produk olahan ikan dengan daya jual tinggi dan jangkauan pasar yang luas.
Mustiah, pelaku UMKM olahan bandeng, memanfaatkan melimpahnya hasil panen ikan di wilayahnya sebagai peluang usaha. Ia melihat bandeng sebagai komoditas yang mudah diperoleh dan tidak bergantung musim, sehingga potensial dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
“Menjadi ibu rumah tangga sekaligus pekerja adalah kebanggaan. Saya melihat potensi bandeng yang melimpah saat panen, sehingga memberanikan diri memulai usaha,” ujar Mustiah kepada NU Online, Kamis (16/4/2026).
Perjalanan usahanya dimulai tanpa modal finansial. Ia bermodalkan kepercayaan dengan menjual hasil panen bandeng milik tetangga ke luar daerah, menggunakan sistem pembayaran setelah barang terjual. Pola tersebut dijalaninya selama sekitar satu tahun hingga usahanya berkembang.
Seiring waktu, Mustiah mulai mengolah bandeng menjadi berbagai produk, seperti bandeng presto, otak-otak, bakso, hingga rolade bandeng dalam bentuk beku (frozen food). Usaha yang dirintis sejak 19 Juni 2016 itu kini telah berjalan hampir satu dekade.
Produk olahannya tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga menjangkau konsumen di luar daerah. Dalam pemasaran, ia memanfaatkan media sosial, khususnya WhatsApp, untuk memperluas jangkauan pasar.
Selain meningkatkan ekonomi keluarga, Mustiah juga memiliki tujuan jangka panjang. Dari hasil usahanya, ia bersama suami berhasil mendaftar ibadah haji tanpa harus menjual aset.
“Alhamdulillah, dari usaha ini kami bisa mendaftar haji,” ungkapnya.
Kiprahnya juga mendapat pengakuan profesional. Ia pernah menjadi juri dalam ajang memasak yang diselenggarakan perusahaan makanan serta telah mengantongi sertifikat kompetensi chef.
Sementara itu, Jumasri, pelaku UMKM lainnya, menunjukkan semangat serupa. Berangkat dari potensi hasil laut yang melimpah di wilayah pesisir, ia berupaya mengolahnya menjadi produk yang diminati pasar, khususnya wisatawan.
“Saya berpikir bagaimana memanfaatkan potensi sekitar menjadi produk inovatif yang diminati wisatawan Rembang,” tuturnya.
Dalam perjalanannya, Jumasri menghadapi berbagai tantangan, terutama saat pandemi Covid-19. Namun, ia tetap bertahan dengan terus berinovasi menyesuaikan kebutuhan pasar.
Awalnya, ia memproduksi peyek teri. Seiring perkembangan, ia beralih mengembangkan keripik ikan dan berbagai olahan lainnya yang cocok sebagai oleh-oleh khas daerah.
“Inovasi terus saya lakukan untuk meningkatkan omzet. Saat musim liburan, kebutuhan oleh-oleh meningkat, sehingga produk juga harus menyesuaikan,” ujarnya.
Kini, Jumasri juga mengembangkan produk olahan bandeng menjadi kerupuk serta aneka makanan beku (frozen food) untuk meningkatkan daya tarik konsumen.
Kisah Mustiah dan Jumasri menjadi inspirasi bagi perempuan pesisir untuk terus berinovasi dan mandiri secara ekonomi, sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar.





Comments are closed.