Tiap hari, Junaedi bekerja sebagai penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur. Sapu, topi caping, sarung tangan dan masker kain menjadi bekal hariannya untuk melindungi diri dari debu dan polusi kendaraan yang padat. Dia menjadi satu dari banyak kelompok rentan di Jakarta yang terpapar polusi udara karena pekerjaannya. “Kalau batuk sering, paling minum obat warung,” kata Junaedi ditemui saat bekerja Sabtu, (9/6/26). Hal yang sama juga dirasakan Yatno, juga petugas pasukan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Jakarta. Dia sering mengalami gangguan pernapasan ketika bekerja harian di jalan sebagai penyapu jalanan. Baik Junaedi dan Yatno, mengatakan, mereka kerap kali merasakan intensitas penyakit batuk saat musim kemarau. Meski begitu, mereka tak pernah memeriksakan penyakitnya, obat warung menjadi andalan. Gaji Yatno, biasa untuk kebutuhan sehari-hari, sementara itu mereka tak pernah mendapatkan akses pemeriksaan rutin soal kesehatannya. Pengendara menggunakan masker sebagai upaya mitigasi agar tidak terpapar polusi. Hingga kini, polusi udara masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di DKI Jakarta. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Junaedi dan Yatno, hanya dua dari jutaan warga Jakarta yang terdampak polusi udara Jakarta. Pencemaran udatra di ibukota negara Indonesia ini seakan jadi keseharian. Udara segar dan aman jadi barang langka bagi warga Jakarta. Perkiraan kemarau panjang atau El-Nino Godzilla tahun ini berisiko membuat kondisi udara Jakarta lebih buruk lagi. Berdasarkan data Stasiun Pemantau Kualitas Udara DKI04 Lubang Buaya, Jakarta Timur menyebutkan, rata-rata indeks kualitas udara PM2.5 pada Sabtu (6/6/26) menyentuh angka 125,25 dengan indikator tidak sehat. Sejak awal Juni, berdasarkan analisa data IQAir di Jakarta, Indonesia masuk dalam…This article was originally published on Mongabay
El Nino Godzilla Berisiko Perburuk Polusi Udara Jakarta
El Nino Godzilla Berisiko Perburuk Polusi Udara Jakarta





Comments are closed.