Jakarta, Arina.id—Benua Eropa baru-baru ini dilanda fenomena gelombang terburuk yang pernah tercatat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa setidaknya 1.300 kematian berlebih telah terjadi di seluruh Eropa akibat kondisi cuaca ekstrem ini.
Suhu mematikan ini memecahkan rekor di berbagai negara, Jerman mencatat suhu hingga 41,7°C dan Polandia mencapai 40,5°C.
“Fenomena ini menjadi alarm peringatan bagi seluruh dunia tentang ancaman krisis iklim yang semakin nyata,” tulis BMKG dalam keterangan resminya dikutip Kamis (2/7).
Para ahli menjelaskan bahwa suhu ekstrem ini dipicu oleh fenomena kubah panas (heat dome), di mana udara yang turun terkompresi dan memanas, sehingga mencegah terbentuknya awan.
“Kondisi ini sering kali ditopang oleh pola cuaca omega block yang mengunci sistem udara panas di satu wilayah selama berhari-hari,” tulis BMKG.
Selain suhu itu sendiri, tingginya angka kematian di Eropa sangat dipengaruhi oleh kerentanan demografis dan infrastruktur.
Seperti desain bangunan dan minimnya AC. Mayoritas bangunan tua di Eropa dirancang untuk menahan panas guna menghadapi musim dingin yang panjang.
“Diperkirakan hanya sekitar 19% rumah di Eropa yang dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC), berbanding jauh dengan Amerika Serikat. Saat gelombang panas menerjang, rumah-rumah ini berubah menjadi oven,” jelasnya.
Selain itu, populasi lansia sekitar 22% populasi di Uni Eropa adalah warga berusia 65 tahun ke atas, kelompok yang paling rentan terhadap serangan panas fatal (heatstroke).
Udara yang lembap dari perairan di sekitar laut Eropa dapat membuat suhu terasa 5 hingga 10 derajat Celcius lebih panas daripada angka di termometer. Lebih buruk lagi, suhu malam hari sering kali tidak kunjung turun (bertahan di 26-28°C di Prancis), sehingga tubuh kehilangan kesempatan penting untuk beristirahat dan mendinginkan diri.
Cuaca ekstrem global saat ini juga memicu bencana ekologis. Di Eropa, suhu panas daratan diiringi oleh gelombang panas laut (marine heatwave) di Mediterania, dengan suhu permukaan laut mencapai 8°C di atas rata-rata.
Sementara itu, wilayah Amerika Serikat Barat kini tengah berjuang menghadapi ancaman kebakaran hutan masif yang menghanguskan jutaan hektar lahan akibat kondisi yang kering dan berangin.
BMKG terus memperingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi ancaman puncak kemarau dan potensi El Niño guna memastikan ketersediaan pasokan air.
“Jika kekeringan ekstrem dan suhu harian yang sangat tinggi berlangsung lama di Indonesia, dampak ekologis utamanya akan mirip dengan Amerika dan Eropa namun dengan konsekuensi tropis,” terangnya.
Suhu yang tinggi berpotensi besar memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan dan melepaskan emisi karbon masif.
Di lautan, naiknya suhu perairan ekuator berisiko tinggi memicu fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal yang mengancam keanekaragaman hayati terumbu karang.
Langkah Mitigasi dan Adaptasi Menyikapi eskalasi krisis ini, Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan agar negara-negara tidak bergantung semata pada AC konvensional, karena hal tersebut mengonsumsi banyak energi dan menggunakan gas refrigeran yang justru memperparah pemanasan global.
Solusi mendasar harus bertumpu pada “pendinginan pasif”, seperti memperbanyak penanaman pohon, membangun ruang perlindungan iklim, serta menerapkan tata kota yang mendinginkan (mendisipasi) panas.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh saat beraktivitas di cuaca yang terik,” tulis BMKG.





Comments are closed.