Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Fikih Murunah: Ketika Tuhan Tak Menuntut Kesempurnaan Raga

Fikih Murunah: Ketika Tuhan Tak Menuntut Kesempurnaan Raga

fikih-murunah:-ketika-tuhan-tak-menuntut-kesempurnaan-raga
Fikih Murunah: Ketika Tuhan Tak Menuntut Kesempurnaan Raga
service

Mubadalah.id – Pernahkah Anda membayangkan berdiri di depan pintu masjid yang megah, namun tak bisa masuk karena tangga yang terlalu tinggi? Atau, pernahkah Anda berada di dalam shaf salat, namun merasa terasing karena khutbah khatib tak terjangkau oleh telinga yang sunyi, atau gerakan salat Anda dianggap “aneh” oleh jemaah sebelah hanya karena saraf motorik Anda bekerja dengan cara yang berbeda?

Bagi jutaan kawan difabel, ibadah sering kali bukan sekadar soal sujud dan doa, melainkan perjuangan menembus tembok pengabaian. Selama berabad-abad, kita terjebak dalam paradigma bahwa disabilitas adalah “masalah medis.” Sebuah kondisi tubuh yang rusak atau tidak normal yang harus “tersembuhkan” agar bisa beribadah dengan benar.

Disabilitas bukanlah produk medis. Ia muncul justru ketika lingkungan, sistem, dan cara pandang kita menciptakan hambatan yang menyebabkan hak asasi seseorang untuk menghamba kepada Tuhannya tidak terpenuhi. Inilah titik berangkat dari Fikih Murunah.

Melampaui Diagnosis Medis

Dalam perspektif hak asasi manusia dan keadilan hakiki, disabilitas tidak terletak pada kursi roda, tongkat, atau hambatan sensorik. Disabilitas lahir saat gedung fasilitas umum terbangun tanpa bidang miring. Ia muncul saat pengajian yang teman tuli ikutu terselenggara tanpa penerjemah bahasa isyarat atau typist, atau saat fikih diajarkan secara kaku, seolah-olah Allah menerima salat dari mereka yang tegak berdiri dan fasih melafalkan huruf dengan nilai penuh.

Fikih Murunah hadir untuk meruntuhkan “kesombongan ableisme” tersebut. Kata Murunah berarti elastisitas atau kelenturan. Ia adalah wajah Islam yang ramah, yang memahami bahwa setiap manusia tercipta dengan keragaman hayati yang tak terbatas. Jika Tuhan mendeklarasikan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286), lantas mengapa manusia menciptakan sistem yang justru memberatkan langkah sesama hamba menuju-Nya?

Menggeser Beban: Dari Individu ke Sistem

Selama ini, fikih tentang disabilitas sering kali terjebak dalam model santunan (charity model). Difabel kita pandang sebagai objek belas kasihan yang diberi “diskon” ibadah. Fokusnya selalu: “Apa yang boleh difabel lakukan agar ibadahnya sah?”

Fikih Murunah mengubah pertanyaan itu menjadi lebih sistemik: “Apa yang harus masyarakat dan negara lakukan agar setiap orang bisa beribadah dengan bermartabat?”

Dalam kerangka ini, inklusivitas adalah Fardhu Kifayah—kewajiban kolektif. Jika seorang difabel netra tidak bisa mengakses Al-Qur’an Braille, maka yang berdosa bukan ia yang tidak mengaji, melainkan komunitas Muslim di sekitarnya yang membiarkan akses tersebut tertutup.

Keadilan Hakiki dan Semangat Kesalingan

Menelaah hambatan ini memerlukan kacamata Keadilan Hakiki sebagaimana yang sering Nur Rofiah tekankan. Keadilan sejati bukan sekadar memberikan perlakuan yang sama (equal treatment), melainkan perlakuan yang mempertimbangkan pengalaman khas dan kondisi biologis subjek hukum. Fikih tidak boleh “buta”; ia harus lentur untuk memastikan beban ibadah tidak menjadi penderitaan.

Hal ini diperkuat dengan metodologi Mubadalah Kiai Faqihuddin Abdul Kodir. Relasi dalam Islam haruslah timbal balik. Jika penyandang disabilitas berikhtiar menyesuaikan tata cara ibadahnya sesuai kapasitas (wus’), maka masyarakat dan pengelola masjid wajib berikhtiar menyediakan aksesibilitas. Ibadah adalah ruang perjumpaan yang saling memudahkan, bukan menyulitkan.

Ibadah dalam Kelenturan: Fisik hingga Neurodiverse

Bagaimana Fikih Murunah bekerja dalam ritual harian? Ia membedakan antara “inti ibadah” (maqasid) dan “tata cara” (wasail).

Tujuan Bersuci: Adalah kesiapan spiritual. Jika air mustahil dijangkau, maka tayamum atau botol semprot bukan “pilihan kedua”, melainkan jalan utama yang sah dan mulia pada saat itu.

Kekhusyukan: Tidak memiliki bentuk tunggal. Bagi kawan dengan lumpuh total, isyarat adalah sujud yang paling paripurna karena Jiwa tidak pernah menyandang disabilitas.

Invisible Disabilities: Inovasi berani fikih ini adalah perhatiannya pada tantangan kognitif seperti Autisme atau ADHD. Anak yang “berbeda” di masjid sering dianggap mengganggu, padahal masjid seharusnya menjadi ruang aman (safe space). Standar khusyuk bagi individu neurodiverse tidak bisa kita paksakan sama dengan standar umum.

Penutup: Rumah Tuhan untuk Semua

Fikih Murunah bukanlah upaya menggampangkan agama (tasahul), melainkan upaya menegakkan keadilan yang paling hakiki. Membangun masjid ramah difabel atau menyediakan teks khutbah bahasa isyarat bukanlah soal tren arsitektur atau gaya-gayaan. Itu adalah mandat iman.

Kita harus menyadari bahwa di hadapan Tuhan, kita semua adalah hamba yang memiliki keterbatasan. “Kenormalan” hanyalah konstruksi sosial yang rapuh; usia atau musibah bisa menjadikan siapa pun di antara kita difabel esok hari.

Mari kita landaikan tangga-tangga tinggi ego kita dan hancurkan tembok stigma dalam pikiran. Jadikan agama sebagai ruang luas bagi setiap jiwa untuk terbang menemui Penciptanya. Karena ketika kita memberikan jalan bagi kawan difabel untuk beribadah dengan bermartabat, di situlah kita sedang menyelamatkan kemanusiaan kita sendiri. Sebab, rumah Tuhan tidak terbangun dari semen dan batu, melainkan dari keadilan dan kasih sayang yang tidak menyisakan seorang pun di belakang. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.