KABARBURSA.COM — Upaya negara-negara Barat mencari cara melindungi jalur pelayaran energi di Selat Hormuz kini menghadapi kenyataan pahit. Pengalaman serupa di Laut Merah sebelumnya justru berakhir mahal dan gagal, meski sudah menghabiskan miliaran dolar.
Operasi di Laut Merah sejak 2023 memang berhasil menembak jatuh ratusan drone dan rudal. Tapi hasil akhirnya jauh dari kata sukses. Empat kapal tetap tenggelam, lebih dari USD1 miliar (Rp16,9 triliun) senjata dihabiskan, dan jalur pelayaran itu kini masih dihindari banyak perusahaan kapal.
Pengalaman itu kini membayangi Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Bedanya, kali ini yang dihadapi bukan kelompok Houthi, melainkan Iran dengan kekuatan militer yang jauh lebih canggih.
Ketegangan meningkat setelah Iran memblokade jalur tersebut dan menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk. Dampaknya langsung terasa ke pasar global. Harga minyak melonjak tajam hingga sempat melampaui USD100 per barel sehingga memicu gangguan pasokan energi yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah.
Jika jalur ini tidak segera dibuka yang akan menyulut krisis lebih lebar. Selain energi, harga pangan dan barang lain ikut terancam naik.
“Tidak ada pengganti Selat Hormuz. Ini adalah selat dunia, di bawah hukum internasional dan realitas praktis,” kata CEO Kuwait Petroleum Sheikh Nawaf Saud Al-Sabah dalam konferensi energi di Houston, dikutip dari Reuters, Rabu 25 Maret 2026.
Di tengah situasi itu, Dewan Keamanan PBB mulai membahas langkah perlindungan jalur tersebut. Sejumlah negara bahkan mendorong opsi keras, termasuk penggunaan “semua cara yang diperlukan” yang bisa berarti kekuatan militer.
Namun tantangan di lapangan jauh lebih kompleks. Para analis keamanan menyebut Iran memiliki persenjataan lengkap, mulai dari drone murah, ranjau laut, hingga rudal. Ditambah lagi posisi geografisnya yang menguntungkan di sepanjang garis pantai berbukit dan sempit.
“Melindungi operasi konvoi di Selat Hormuz jauh lebih sulit dibandingkan di Laut Merah,” kata mantan Laksamana Muda Mark Montgomery.
Situasi ini juga jadi tekanan politik di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menghadapi tekanan dari pemilih yang sudah lelah dengan inflasi, apalagi harga bensin kini mendekati USD4 per galon (Rp67.600). Lonjakan harga energi diperkirakan tidak akan turun sebelum jalur tersebut benar-benar dibuka kembali.
Di sisi lain, sikap Amerika masih belum jelas. Awalnya menyatakan siap mengawal kapal, tapi belakangan justru mendorong negara lain, khususnya Eropa, untuk memimpin operasi. Iran sendiri dilaporkan mempertimbangkan kebijakan baru dengan mengenakan biaya bagi kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz.
Masalahnya, menjaga jalur ini bukan perkara mudah. Dibutuhkan hingga belasan kapal perang besar, dukungan jet tempur, drone, dan helikopter. Bahkan itu pun belum cukup. “Kapal perusak bisa mencegat rudal, tetapi tidak bisa sekaligus menyapu ranjau, menghadapi serangan drone dari berbagai arah, dan mengatasi gangguan GPS,” kata analis SSY.
Ancaman juga datang dari darat. Iran diduga menyimpan persenjataan di gua dan bangunan sepanjang garis pantai. Dalam kondisi tertentu, drone bisa menyerang kapal hanya dalam waktu lima hingga 10 menit. “Ada rudal balistik, drone, ranjau laut, dan bahkan operasi bunuh diri,” kata Direktur European Institute Adel Bakawan.
Risiko terburuknya bahkan lebih besar. Jika satu kapal perang Amerika tenggelam, dampaknya bukan hanya militer, tapi juga politik global. “Jika mereka kehilangan satu kapal perusak, itu akan mengubah segalanya. Itu 300 orang,” kata mantan komandan Angkatan Laut Inggris Tom Sharpe.
Meski begitu, belum ada bukti pasti Iran telah menanam ranjau di selat tersebut. Namun laporan menyebut setidaknya ada belasan ranjau yang telah disiapkan. Sejumlah analis menilai kombinasi pembersihan ranjau, pengawalan militer, dan patroli udara bisa membuka kembali jalur itu. Tapi prosesnya tidak akan cepat.
“Mungkin butuh berbulan-bulan sebelum ancaman benar-benar berkurang,” kata analis Hudson Institute Bryan Clark.
Di tengah semua itu, satu hal mulai terlihat jelas. Jika Laut Merah saja gagal diamankan, Selat Hormuz bisa menjadi penyebab krisis yang jauh lebih besar.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.