Sun,2 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Gak Boleh Asbun! Pakar Ingatkan Pentingnya Diksi dan Empati Pejabat Publik

Gak Boleh Asbun! Pakar Ingatkan Pentingnya Diksi dan Empati Pejabat Publik

gak-boleh-asbun!-pakar-ingatkan-pentingnya-diksi-dan-empati-pejabat-publik
Gak Boleh Asbun! Pakar Ingatkan Pentingnya Diksi dan Empati Pejabat Publik
service

Presiden Prabowo saat berpidato | BPMI Setpres


Di era teknologi digital, pemilihan diksi dalam pernyataan pemimpin berpeluang menjadi konsumsi publik. Masyarakat dapat dengan mudah mengakses dan mengomentari pernyataan pejabat dengan kekuatan media sosial yang begitu masif saat ini.

Oleh karena itu, substansi pesan bukan satu-satunya faktor. Pejabat harus cermat dalam memilih dan menyusun kata sebeum disampaikan ke khalayak luas. Hal ini sangat penting karena diksi ikut menentukan terbangunnya kepercayaan masyarakat.

Dosen FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., menegaskan bahwa diksi dalam komunikasi publik bukan sekadar gaya berbicara. Pilihan kata yang kurang tepat atau bisa disebut dengan asbun (asal bunyi) berpotensi memicu kontroversi sekaligus menggeser perhatian publik dari substansi kebijakan.

“Kontroversi sering muncul bukan hanya karena isi pesannya, tetapi karena pilihan kata yang dianggap tidak tepat, multitafsir, atau kurang sensitif terhadap konteks. Karena itu, setiap pejabat publik perlu menyadari bahwa ucapannya memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan komunikasi personal,” ucapnya dilansir dari unair.ac.id.

Pejabat, Simbol Negara yang Harus Jaga Marwah Bangsa

Ketika tampil di ruang publik, seorang pejabat negara tidak lagi berbicara atas nama pribadi. Setiap ucapan membawa marwah institusi dan negara. Hal ini jelas menunjukkan tanggung jawab etis yang jauh lebih besar.

Langkah komunikasi yang tidak terukur berisiko menurunkan kepercayaan masyarakat. Hal ini dapat mengalihkan fokus publik dari pembahasan kebijakan menjadi polemik akibat pilihan kata semata.

“Komunikasi yang tidak terukur dapat menurunkan kepercayaan publik dan menggeser perhatian dari substansi kebijakan ke kontroversi pernyataan. Baik dalam pergaulan internasional maupun domestik, ada etika yang harus dijaga,” ungkapnya.

Suko menambahkan, karakteristik komunikasi pejabat juga ikut memengaruhi citra negara. Pesan yang disampaikan dengan diksi dan bahasa beretika akan lebih mudah diterima. Sementara itu, komunikasi impulsif justru berisiko merusak penilaian terhadap tata kelola pemerintahan.

Sebagai figur milik masyarakat, gaya komunikasi pejabat tidak akan pernah lepas dari sorotan publik. Oleh karena itu, komunikasi publik idealnya mengedepankan kejelasan, keakuratan, kesantunan, berbasis fakta, bersifat inklusif, serta berorientasi pada kepentingan umum.

Hal senada disampaikan oleh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yanti Amiliani, S.I.P., M.I.Kom. Menurut Amilia, pejabat selaku pembuat kebijakan wajib memiliki empati, sehingga masyarakat ikut bisa merasakan keberpihakan pemerintah.

Pentingnya Empati dan Kejujuran

Masyarakat bukan hanya mendengar isi pesan. Mereka sebetulnya juga ikut menangkap sikap yang tercermin dari pilihan kata, intonasi, maupun cara penyampaian seorang pejabat publik.

Menurut Amilia, kejujuran menjadi karakter penting yang wajib dimiliki pejabat. Informasi yang disampaikan ke publik wajib berdasarkan fakta dan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Pesan yang jujur akan melahirkan konsistensi. Apalagi sekarang semua pernyataan terdokumentasi di media sosial. Publik sangat mudah membandingkan antara apa yang pernah diucapkan dengan apa yang dilakukan,” katanya dikutip dari ums.ac.id.

Lebih lanjut, Amilia mengatakan jika tujuan komunikasi pemerintah sebetulnya adalah untuk menyampaikan informasi sekaligus membangun rasa aman serta kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, saat pernyataan pejabat terlanjur menimbulkan polemik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengakui kekeliruan.

“Setelah meminta maaf, pemerintah juga perlu meluruskan maksud dari pernyataan tersebut dengan informasi yang benar dan berdasarkan fakta agar kepercayaan publik dapat dipulihkan,” paparnya.

Kepercayaan merupakan modal yang tidak bisa dibangun hanya dengan pencapaian program. Cara pejabat publik untuk menjelaskan suatu kebijakan ikut menentukan bagaimana program tersebut bisa berjalan baik berkat dukungan masyatakat. Komunikasi publik menjadi faktor penting yang menentukan penerimaan masyarakat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.