Medio Juni lalu, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki kedalaman 16 km, dengan episenter darat 42 km arah tenggara Palu, tepatnya di Torue, Parigi Moutong. Ini jenis gempa dangkal karena aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Sesar ini masih terbilang minim kajian. “Hasil analisis BMKG mencatat, guncangan gempa bumi ini melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah dengan tingkat intensitas yang bervariasi,” kata Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, dikutip dari rilis BMKG. Warga di Palolo, Sigi merasakan guncangan paling kuat pada skala VII MMI, sedang wilayah Torue dan Parigi Selatan menghadapi intensitas VI–VII MMI. Selain itu, guncangan berskala V–VI MMI meluas hingga ke Kota Sigi Biromaru dan Kota Palu, sedangkan Kota Poso, Donggala, serta Pasangkayu, merasakan getaran skala IV–V MMI. Data BNPB per 18 Juni, sedikitnya ada 2.012 keluarga atau 6.458 jiwa terdampak. Dari jumlah itu, 1.991 keluarga atau 6.418 jiwa berada di Sigi, 21 keluarga atau 40 jiwa di Parigi Moutong. Tercatat tiga orang meninggal dunia di Sigi. Ada 15 korban luka berat dan 64 luka ringan. Gempa di Sulteng medio Juni lalu. Foto: BNPB Sesar yang jarang jadi sorotan Selama ini, ketika orang membicarakan ancaman gempa di Sulawesi Tengah, nama yang paling sering muncul adalah Sesar Palu-Koro—patahan aktif yang melintasi langsung Kota Palu dan pernah memicu gempa dahsyat disertai tsunami serta likuefaksi pada 2018. Namun gempa kali ini punya biang keladi berbeda. Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika…This article was originally published on Mongabay
Gempa Sulawesi Tengah, Sesar Sausu Masih Minim Kajian
Gempa Sulawesi Tengah, Sesar Sausu Masih Minim Kajian





Comments are closed.