Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama

Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama

kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama
Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama
service

Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis. Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera tertawa, maka bisa memicu tawa individu lain. Sama seperti yang dijumpai pada manusia. Di mata peneliti, ini bukan fenomena biasa. Evolusi morfologi memang bisa dilacak dari fosil yang disingkap dari dalam tanah. Tapi bagaimana melacak asal-usul vokal, ucapan, dan bahasa manusia? Kita jelas tidak mungkin mengamati secara langsung keterampilan vokal nenek moyang manusia, karena mereka sudah punah. “Studi komparatif tentang perilaku kera besar (non-manusia) -kerabat terdekat kita yang masih hidup- memberikan satu-satunya model yang masih ada dari kapasitas vokal dan fungsi adaptif yang punah milik nenek moyang manusia,” tulis Chiara De Gregorio, mewakili tim peneliti di artikel sebuah jurnal. Dia adalah doktor yang berafiliasi dengan Departemen Psikologi, Universitas Warwick, Coventry, Inggris. Penelitian mereka ingin menjawab hal itu. Laporannya kemudian diterbitkan di jurnal Nature Communications Biology, Juni 2026, berjudul “Rhythm and timing in laughter reveal that human vocal plasticity falls on a hominid continuum.” “Bertentangan dengan gagasan klasik bahwa manusia pertama tiba-tiba memperoleh kapasitas kontrol vokal yang sangat berbeda dari pendahulunya. Evolusi tawa memberi tahu kita bahwa manusia terletak pada kontinum, perpanjangan kapasitas kontrol vokal yang sudah diasah secara kumulatif selama 15 juta tahun,” ungkap Adriano Lameria, peneliti lain rekan De Gregorio dari universitas yang sama,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.