Mubadalah.id – Kondisi geopolitik dunia akhir-akhir ini makin memanas pasca serangan Amerika dan Israel ke negara Iran. Sebagai dampak, Iran mulai membatasi negara-negara yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan melewati selat Hormuz.
Selat Hormuz ialah jalur pelayaran maritim paling strategis dan vital di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selat sempit ini (lebarnya hanya sekitar 33-60 km) menjadi urat nadi utama bagi distribusi sekitar 20-25% pasokan minyak bumi dan LNG global.
Dampak Penutupan dan Pembatasan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberikan dampak besar bagi dunia. Selat ini merupakan jalur penting yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak global atau sekitar 20 juta barel per hari. Ketika jalur ini ditutup, pasokan minyak terganggu hingga 16–20 juta barel per hari yang tidak bisa digantikan dengan cepat.
Akibatnya, harga minyak melonjak drastis hingga di atas US$100 bahkan mencapai sekitar US$126 per barel. Kenaikan ini memicu inflasi global karena biaya transportasi dan produksi barang ikut naik. Banyak negara akhirnya mengalami tekanan ekonomi, di mana harga kebutuhan meningkat sementara pertumbuhan ekonomi melambat. Di sisi lain, investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman seperti emas, sementara sektor energi justru diuntungkan karena harga minyak yang tinggi.
Bagi Indonesia, dampaknya terasa lebih berat karena Indonesia merupakan negara pengimpor minyak. Kenaikan harga minyak membuat beban anggaran negara meningkat, terutama untuk subsidi energi yang bisa bertambah hingga ratusan triliun rupiah. Defisit anggaran pun berisiko melebar dari target awal 2,5% menjadi di atas 3% bahkan bisa lebih tinggi jika harga minyak terus naik.
Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit, yaitu menaikkan harga BBM yang bisa membebani masyarakat atau mempertahankan harga dengan risiko keuangan negara terganggu. Selain itu, kenaikan harga energi juga menyebabkan inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan melemahkan nilai rupiah.
Perempuan jadi Korban Paling Rentan
Kenaikan harga BBM akibat krisis global seperti penutupan Selat Hormuz membuat perempuan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Dalam banyak keluarga, perempuan memegang peran utama dalam mengatur konsumsi rumah tangga, mulai dari membeli bahan makanan hingga memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Ketika harga-harga melonjak sementara pendapatan tidak bertambah, tekanan ekonomi ini lebih dulu dirasakan oleh perempuan.
Mereka harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan dengan sumber daya yang terbatas, yang seringkali menimbulkan stres berkepanjangan. Dalam situasi tertentu, tekanan ini juga dapat memicu konflik dalam rumah tangga, bahkan meningkatkan risiko kekerasan terhadap perempuan karena mereka mendapatkan anggapan tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Dari perspektif gender, kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan struktural di mana beban krisis tidak terbagi secara adil. Selain menghadapi tekanan ekonomi, perempuan mengalami beban sosial dan emosional yang lebih besar karena peran domestik yang dilekatkan pada mereka.
Perempuan dan Anak-Anak Menjadi Korban Rentan di Daerah Konflik
Pada daerah konflik, perempuan dan anak-anak seringkali menjadi korban yang paling rentan. Dengan bahasa yang sederhana, hal ini dapat dijelaskan dengan alasan bahwa perempuan dan anak-anak memiliki keterbatasan perlindungan, akses sumber daya, serta posisi sosial yang lebih lemah.
Situasi konflik melemahkan sistem keamanan dan layanan publik sehingga kelompok yang memiliki kemampuan perlindungan diri terbatas menghadapi risiko lebih tinggi terhadap kekerasan, kehilangan tempat tinggal, dan kekurangan kebutuhan dasar. Banyak perempuan memikul tanggung jawab merawat anak dan anggota keluarga sehingga mobilitas menjadi terbatas ketika terjadi perpindahan.
Anak-anak menghadapi dampak konflik melalui kehilangan nyawa, kehilangan akses pendidikan, gangguan perkembangan psikologis, juga ketidakstabilan lingkungan hidup. Pengalaman hidup dalam situasi kekerasan mempengaruhi kondisi emosional serta proses belajar anak dalam jangka panjang. Perempuan juga menghadapi risiko kekerasan berbasis gender yang meningkat selama konflik karena lemahnya pengawasan sosial dan hukum.
Jika melihat permasalahan yang saat ini terjadi di Iran, anak-anak perempuan bahkan terenggut nyawanya ketika sedang memperoleh hak pendidikan. Jelas-jelas hal tersebut sangat menyalahi hukum hak asasi manusia. Seharusnya, hingga saat ini anak-anak perempuan di Iran tetap bisa mengenyam pendidikan dengan bahagia. Bukan malah terenggut nyawanya dan membuat hati para orang tua terpukul. Telah mati hak asasi manusia kita saat ini!
Tak Bersalah, Anak-anak Turut Menjadi Korban
Krisis energi global akibat konflik di sekitar Selat Hormuz mendorong sejumlah negara mengambil langkah cepat untuk menghemat penggunaan bahan bakar. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah bekerja dari rumah (work from home/WFH) yang juga berdampak pada sistem pendidikan.
Di Pakistan, pemerintah meminta sekitar 50% pegawai negeri bekerja dari rumah serta menutup sekolah selama dua minggu dan menggantinya dengan pembelajaran daring. Sementara itu, Thailand juga menerapkan kebijakan serupa bagi pegawai negeri sebagai bagian dari penghematan energi nasional.
Di Vietnam, pemerintah mendorong perusahaan untuk mengurangi aktivitas kerja di kantor dan beralih ke sistem kerja dari rumah guna menekan konsumsi bahan bakar. Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa tidak semua anak siap dengan sistem School From Home. Banyak yang kesulitan memahami pelajaran, kurang fokus, dan merasa jenuh karena belajar tanpa interaksi langsung dengan guru dan teman.
Selain itu, kebijakan school from home juga berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan, terutama bagi anak-anak di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Indonesia. Anak-anak dengan kondisi rentan seringkali menghadapi keterbatasan akses internet, sinyal yang lemah, hingga tidak memiliki perangkat seperti ponsel atau laptop untuk belajar.
Hal ini membuat proses belajar menjadi tidak efektif dan tidak merata. Meskipun kebijakan School From Home bertujuan baik untuk menghemat energi, pemerintah perlu mempertimbangkannya secara matang agar tetap inklusif dan tidak merugikan kelompok yang paling rentan, khususnya anak-anak yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.
Dunia Perlu Kembali Jadi tempat Aman bagi Perempuan dan Anak-Anak
Saya merasa perihatin melihat geopolitik dunia konflik yang terjadi antara Amerika Serikat, Israel, yang menyerang Iran. Serangan yang terjadi membuat situasi semakin tidak aman dan berdampak besar bagi masyarakat biasa.
Banyak orang yang tidak terlibat dalam perang justru menjadi korban. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersikap lebih tegas untuk menghentikan konflik dan melindungi warga sipil. Dunia tidak boleh membiarkan perang terjadi tanpa upaya serius untuk menghentikannya.
Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dalam situasi perang. Mereka sering kehilangan rumah, kesulitan mendapatkan makanan, pendidikan, dan hidup dalam ketakutan setiap hari. Di Iran, kondisi ini terasa langsung karena masyarakat menghadapi dampak perang secara nyata. Perempuan harus tetap mengurus keluarga di tengah keterbatasan, sementara anak-anak kehilangan kesempatan belajar dan tumbuh dengan aman. []





Comments are closed.