Sat,16 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Gerbang Digital Rp2,5 Juta di Gandaria: Cara Warga Lawan Curanmor Tanpa Satpam

Gerbang Digital Rp2,5 Juta di Gandaria: Cara Warga Lawan Curanmor Tanpa Satpam

gerbang-digital-rp2,5-juta-di-gandaria:-cara-warga-lawan-curanmor-tanpa-satpam
Gerbang Digital Rp2,5 Juta di Gandaria: Cara Warga Lawan Curanmor Tanpa Satpam
service

Gerbang Digital Rp2,5 Juta di Gandaria: Cara Warga Lawan Curanmor Tanpa Satpam


“Jadi, latar belakangnya kemarin ada di lingkungan sebelah ya, ada kejadian aksi curanmor… wilayah Jakarta Selatan ini… dianggapnya itu zona merah untuk kasus curanmor,” kata Ketua RT 11, Imam Basori, dikutip dari Kompas.com (4/3/2026).

Kasus pencurian motor marak terjadi, apalagi di kota-kota besar. Tanpa sistem keamanan yang canggih, para komplotan ini dapat dengan mudah membobol motor dengan pola yang selama ini mereka ketahui.

Peristiwa ini yang mendorong ketua RT dan masyarakat di Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan gagas sistem pengamanan lingkunan yang ketat. Mereka membangun sistem keamanan digital mandiri. Tak tanggung-tanggung, sistem yang dibangun bahkan mencakup dua lapis, yakni luar dan dalam.

Sistem pertama, warga punya gerbang berbasis kartu sebagai aksea masuk. Sistem kedua adalah pengaplikasian GPS pada motor warga.

“Berawal dari kegelisahan masyarakat karena banyaknya aksi curanmor. Dari situ kami kumpulkan aspirasi warga setiap bulan hingga tercetus ide membuat gerbang berbasis teknologi,” katanya.

Teknologi dalam hal ini dinilai sangat penting untuk mendukung keamanan. Sebab, portal manual dengan rantai, menurut Ibas—sapaan akrab Ima Bustomi—tidak lagi efektif.

“Masa kita masih menggunakan sistem pola lama yang konvensional… yang enggak efektif sekali,” katanya.

Di sinilah muncul ide untuk menerapkan sistem akses dengan kartu seperti di gedung perkantoran. Gerbang dipasang di dua titik perbatasan RT. Setiap kepala keluarga (KK) mendapat satu kartu akses. Untuk masuk, warga cukup menempelkan kartu ke mesin pemindai.

Masyarakat menamai sistem keamanan itu sebagai e-Gate 11. Secara teknis, sistem ini dikenal sebagai RFID (Radio Frequency Identification).

RFID adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio. Kartu yang dibawa warga memiliki chip kecil. Saat ditempelkan ke alat pemindai, sistem akan mengenali kode unik dan membuka gerbang secara otomatis.

Teknologi ini sebenarnya sudah lama dipakai di kantor, hotel, dan parkiran modern. Yang menarik, warga RT 11 berhasil menurunkannya ke level permukiman dengan biaya minim.

“Dari biaya operasional Rp 2.500.000 sudah ter-cover,” kata Ibas.

Swadaya Masyarakat adalah Kunci Utama

Hal yang menjadi kesuksesan proyek ini bukan teknologinya, tapi cara pengadaannya. Warga sepakat untuk menerapkan sistem keamanan berlapis tanpa merasa kerepotan. Bahkan, mereka secara swadaya melakukan instalasi. Mereka membeli material secara daring, lalu memasangnya bersama-sama.

Memang, pemberlakuan e-Gate 11 ini tidak diterapkan sepanjang hari. Gerbang ini dibatasi aksesnya dari pukul 00.00 hingga 06.30 WIB. Di jam-jam rawan itulah, kontrol diperketat.

e-Gate 11 tidak hanya berdiri di satu titik. Ada empat akses keluar-masuk lingkungan. Tiga di antaranya sudah aktif menggunakan sistem ini. Untuk memperkuat pengawasan, warga juga memasang CCTV di titik strategis.

Nah, menariknya lagi, smart gate ini sudah mulai menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya).

Harapannya, saat listrik padam, sistem tetap bisa berjalan.

“Sudah ada PLTS saya pasang untuk meng-cover kalau lampu mati… itu masih bisa buka,” jelas Ibas, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Dari Gerbang ke GPS: Cara RT 11 Gandaria Bangun Sistem Keamanan Dua Lapis untuk Lawan Curanmor

“Klaster luarnya itu gerbang. Nah klaster masuk rumah ya ini GPS, program lanjutan untuk antisipasi pencegahan curanmor.”

Setelah gerbang, Ibas menambahkan satu inovasi lagi, yakni GPS untuk motor warga.

Program ini dilakukan bertahap dan menyesuaikan anggaran. Harga satu alat GPS berkisar Rp350 ribu hingga Rp400 ribu. Dana yang digunakan berasal dari operasional RT sebesar Rp2,5 juta.

“Jadi kami berikan ke masing-masing KK untuk satu motor. Tapi enggak mengakomodir semua sih, setidaknya ini bagian upaya kita untuk mencegah,” kata Ibas, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, 14/4/2026.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.