Ditulis oleh Pramirvan Datu •
KABARBURSA.COM – Bank investasi global Goldman Sachs merevisi ke atas proyeksi harga tembaga untuk akhir 2026, seiring semakin ketatnya keseimbangan pasar dunia akibat pertumbuhan pasokan yang tidak memenuhi ekspektasi serta meningkatnya kebutuhan impor dari Amerika Serikat.
Dalam laporan yang dikutip Reuters dari Bengaluru dikutip Selasa 1 Juni 2026, Goldman Sachs memperkirakan harga tembaga akan menembus level USD13.735 per metrik ton pada penghujung 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya yang berada di kisaran USD12.465 per ton.
Lembaga keuangan itu menilai tekanan pasokan global kini lebih intens dibandingkan proyeksi terdahulu. Khususnya di pasar luar Amerika Serikat, produksi tembaga belum menunjukkan akselerasi yang cukup untuk mengimbangi kebutuhan yang terus meningkat. Di saat bersamaan, lonjakan impor AS menyerap porsi pasokan yang lebih besar dari pasar internasional, sehingga mempersempit ketersediaan logam tersebut di berbagai kawasan.
Tidak hanya untuk 2026, Goldman Sachs juga memperbarui pandangan jangka panjangnya terhadap komoditas tersebut. Proyeksi harga rata-rata tembaga pada 2027 dinaikkan menjadi USD13.800 per ton, melonjak dari perkiraan sebelumnya yang berada pada level USD12.150 per ton.
Revisi ini mencerminkan optimisme yang semakin kuat terhadap fundamental pasar tembaga global. Menurut analisis bank tersebut, kondisi pasokan yang terbatas berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan awal. Sementara itu, permintaan tetap memperoleh dukungan dari berbagai sektor strategis, mulai dari industri manufaktur, pembangunan infrastruktur, hingga percepatan elektrifikasi yang membutuhkan tembaga sebagai komponen vital.
Pandangan positif tersebut juga didorong oleh transformasi ekonomi global yang semakin bergantung pada teknologi berbasis energi bersih. Pembangunan jaringan transmisi listrik, ekspansi kendaraan listrik, pertumbuhan pusat data, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan menjadi faktor yang memperbesar konsumsi tembaga dalam skala signifikan.
Dalam lanskap tersebut, tembaga kian dipandang sebagai komoditas esensial bagi era modern. Keterbatasan ekspansi produksi yang berhadapan dengan laju permintaan yang terus meningkat menciptakan potensi defisit pasokan yang lebih dalam.
Dengan dinamika tersebut, Goldman Sachs meyakini pasar tembaga akan memasuki fase yang lebih ketat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Situasi itu diperkirakan menjadi penopang utama bagi harga logam merah tersebut, menjaga pergerakannya tetap berada pada level tinggi dalam horizon jangka menengah hingga panjang.(*)





Comments are closed.