Merawat Bumi tidak selalu dimulai dari aksi besar. Bagi anak-anak, proses merawat bumi dapat dimulai dari hal yang paling dekat dengan mereka. Misalnya, anak bisa melihat bagaimana air digunakan di sekolah, memperhatikan sampah di sekitar, atau bertanya banyak hal terkait berbagai pengetahuan di lingkungan rumah atau sekolah mereka.
Namun, melihat atau bertanya saja mungkin tidak cukup. Anak perlu dibantu memahami apa yang mereka lihat dan memiliki ruang untuk menyampaikan pertanyaan maupun hasil pengamatan. Di sinilah guru berperan penting. Ruang kelas bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi juga ruang bagi guru dan murid untuk belajar bersama memahami lingkungan di sekitar mereka.
Pendidikan lingkungan sering hadir melalui ajakan sederhana seperti menghemat air, membuang sampah pada tempatnya, atau menjaga kebersihan sekolah. Kebiasaan tersebut memang penting, tetapi anak juga perlu memahami alasannya.
Ketika diajak mengamati dan bertanya, anak dapat melihat bahwa persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri. Penggunaan air, aktivitas daur ulang sampah, hingga kegiatan menanam berbagai tumbuhan dapat saling berkaitan dan dekat dengan kehidupan mereka.
Pendekatan ini menjadi bagian dari program Generasi Cerdas Lingkungan (Gencerling) dari lembaga Collective for Climate, Environment, and Sustainability (CEST) yang telah berlangsung dari 2024 sampai 2025. Program Gencerling memperkuat literasi lingkungan, edukasi air, serta keterampilan anak di sekolah dalam mengamati dan menyampaikan isu lingkungan. Program ini juga membekali guru dengan pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan bersama anak di sekolah.
Ketika Citizen Journalism menjadi cara anak dan guru memahami lingkungan
Pengamatan lingkungan tersebut tidak cukup berhenti sebagai aktivitas di kelas, anak-anak juga perlu belajar bagaimana menyusun pertanyaan, mencari informasi, dan menceritakan apa yang mereka temukan. Di sinilah praktik citizen journalism dapat menjadi bagian dari pembelajaran lingkungan. Anak belajar mengubah rasa ingin tahunya menjadi proses untuk mengamati, memahami, dan menyampaikan informasi secara aktual dan informatif.
Untuk membantu anak mengubah pengamatan menjadi cerita, praktik citizen journalism kemudian diperkenalkan dalam program Gencerling. The Conversation Indonesia (TCID) mendampingi CEST dan perwakilan pembuat kurikulum Gencerling dalam memperkenalkan praktik citizen journalism yang berfokus kepada lingkungan. Mereka nantinya bertanggung jawab mengajarkan kembali konsep citizen journalism kepada guru dan anak-anak di sekolah.
Sementara itu, melalui pelatihan dan konsultasi modul, guru diperkenalkan pada dasar jurnalisme warga, etika peliputan, 5W1H, serta cara sederhana mengumpulkan dan mengemas informasi. Materi kemudian disesuaikan agar ramah anak, dengan memperhatikan privasi, consent, orisinalitas karya, serta keterbatasan perangkat di sejumlah sekolah.

Pengalaman guru dalam program Gencerling menunjukkan bagaimana pembelajaran tersebut dapat dikaitkan dengan keseharian anak-anak di sekolah. Rosiyanti, guru SDN Cipete Selatan 05 Pagi, salah satu guru peserta program Gencerling, melihat pembelajaran mengenai air sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan lingkungan lainnya.
“Sangat bagus bagi pengetahuan anak-anak mengenai kebutuhan air yang kita sudah mulai tercemar oleh limbah,” ujarnya.
Menurut Rosiyanti, pembelajaran tentang air juga dapat dikaitkan dengan pengelolaan sampah dan penghijauan. Dengan cara ini, anak dapat mulai memahami bahwa satu persoalan lingkungan dapat berhubungan dengan persoalan lainnya.
Hal serupa dirasakan Mahniar Sinaga, guru UPT SDN 068008 Medan. Baginya, pembelajaran tentang air menjadi lebih bermakna ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kesehatan tubuh.
“Program ini sangat berkesan sebab memberikan pengalaman belajar menyenangkan bagi murid dalam mendalami tentang pentingnya air bagi kehidupan dan dampak bagi kesehatan tubuh mereka,” ujar Mahniar.
Pembelajaran seperti ini membuat isu lingkungan tidak berhenti sebagai pengetahuan di dalam buku. Guru dapat mengajak anak di sekolah melihat apa yang terjadi di sekitar, mengajukan pertanyaan, dan mencari tahu jawabannya bersama. Dari sana, anak juga dapat belajar menyampaikan apa yang mereka temukan.
Pada akhirnya, anak tidak harus menunggu dewasa untuk mulai peduli terhadap bumi. Mereka dapat memulainya dari lingkungan rumah, sekolah, maupun tempat bermain.
Dengan pendampingan guru, anak dapat belajar melihat, bertanya, memahami, dan kemudian menceritakan apa yang mereka temukan dari lingkungan sekitar. Dari proses sederhana tersebut, guru tidak hanya dapat membantu anak memahami persoalan lingkungan, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan apa yang mereka lihat dan pikirkan.
Dari sinilah anak belajar bahwa suara dan tindakan mereka juga dapat menjadi bagian dari upaya merawat Bumi.




Comments are closed.