Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Ikan Sapu-Sapu Kuasai Ciliwung jadi Sinyal Darurat Kondisi Air Sedang Sekarat

Ikan Sapu-Sapu Kuasai Ciliwung jadi Sinyal Darurat Kondisi Air Sedang Sekarat

ikan-sapu-sapu-kuasai-ciliwung-jadi-sinyal-darurat-kondisi-air-sedang-sekarat
Ikan Sapu-Sapu Kuasai Ciliwung jadi Sinyal Darurat Kondisi Air Sedang Sekarat
service

Sungai Ciliwung yang dahulu jernih dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta, sekarang airnya sudah berwarna cokelat dan berbau. Di kuartal pertama tahun 2026, ekosistem Sungai Ciliwung semakin parah. Sepanjang bantaran sungai dari Kalibata hingga Cililitan yang sebelumnya menjadi ruang hidup ikan asli, sekarang dipenuhi punggung-punggung hitam keras dari ikan sapu-sapu (Loricariidae).

Kondisi ini lebih dari ledakan populasi biasa, tapi sudah menjadi gejala klinis dari ekosistem yang sedang sekarat. Dominasi ikan sapu-sapu yang mencapai lebih dari 60 persen di dalam ekosistem Ciliwung menjadi bukti tak terbantahkan, kualitas air telah terdegradasi secara sistemik.

“Melimpahnya ikan sapu-sapu di Ciliwung bukanlah tanda ekosistem yang kaya, melainkan indikasi kuat bahwa sungai tersebut sedang sakit. Seolah-olah sungai tersebut memang miliknya. Dominasi ini menyebabkan hilangnya keragaman ikan air tawar lokal yang sebelumnya dikenal tinggi di sungai-sungai di Jawa,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Yusli Wardiatno.

Menurut Prof. Yusli, kondisi ini tercipta karena beban limbah domestik dan industri yang melampaui kemampuan sungai untuk memurnikan dirinya sendiri secara alami atau self-purification.

Berdasarkan data pemantauan dari sistem Online Monitoring (ONLIMO) milik KLHK pada Semester I 2025, mutu air Sungai Ciliwung tercatat telah tercemar hingga 95,5 persen. Artinya, hanya tersisa 4,5 persen bagian sungai yang masih memenuhi ambang batas baku mutu minimal.

Melimpahnya kandungan amonia, hidrogen sulfida, dan deterjen menciptakan lingkungan hipoksia yang mematikan bagi ikan-ikan lokal, sekaligus menjadi surga bagi ikan sapu-sapu.

Armor Biologis di Perairan Tanpa Oksigen

Kemampuan adaptasi biologis yang luar biasa memungkinkan ikan sapu-sapu bisa berjaya di tempat ikan lain mati. Ikan asal Amerika Selatan ini memiliki sistem pernapasan tambahan berupa labirin dan modifikasi saluran pencernaan, sehingga dapat mengambil oksigen langsung dari udara saat kadar oksigen terlarut di air mendekati nol.

Selain itu, ikan ini memiliki daya tahan terhadap variasi lingkungan yang ekstrem. Tubuh mereka dilapisi oleh sisik keras yang termodifikasi menjadi pelindung tulang atau scutes, yang berfungsi layaknya baju zirah terhadap predator alami.

Sapu-sapu juga mampu melakukan reproduksi dengan sangat masif. Satu induk dapat menghasilkan ribuan telur dalam satu siklus. Pembasmian ikan ini seperti mengendalikan nyamuk, meski setiap hari diambil puluhan kilo, populasinya seolah tidak pernah habis.

Jejak Kepunahan 172 Spesies Ikan Asli

Sejarah mencatat Sungai Ciliwung pernah menjadi rumah yang ramah bagi keanekaragaman hayati. Data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, sekarang BRIN) menunjukkan, pada awal abad ke-20 terdapat sekitar 187 spesies ikan yang menghuni DAS Ciliwung. Narasi itu kini berubah menjadi catatan kehilangan.

Hingga tahun 2026, diperkirakan sekitar 85-90 persen spesies ikan asli Ciliwung telah menghilang atau punah. Nama-nama lokal seperti Belida, Putak (Notopterus notopterus), Berukung (Barbichthys laevis), dan Ikan Hitam (Labeo chrysopekadion) sekarang hanya bisa ditemukan di buku-buku sejarah perikanan..

Kehilangan ini menjadi gambaran runtuhnya mata rantai ekosistem di Sungai Ciliwung. Ikan sapu-sapu memangsa telur-telur ikan asli, secara langsung memutus siklus regenerasi biota lokal.

Krisis ini diperparah dengan temuan mikroplastik di 14 titik pengamatan Ciliwung, dengan rata-rata kelimpahan 4,55 partikel per liter air, yang merusak sistem pencernaan dan reproduksi biota yang tersisa.

Ancaman Tersembunyi dalam Olahan

Meskipun ikan sapu-sapu sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan olahan pangan, para ahli memberikan peringatan keras. Sebagai ikan demersal yang memakan detritus di dasar sungai, ikan sapu-sapu menjadi penyerap logam berat yang sangat efektif.

Penelitian toksikologi pada tahun 2024-2026 menemukan kandungan Timbal (Pb) pada daging ikan sapu-sapu Ciliwung mencapai 2,2 mg/kg, jauh melampaui batas aman BPOM sebesar 0,20 mg/kg. Logam berat lainnya seperti Kadmium (Cd) dan Merkuri (Hg) juga ditemukan pada level yang mengkhawatirkan.

Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, saat memimpin aksi pengendalian di kawasan Cililitan baru-baru ini, dengan tegas melarang warganya mengonsumsi ikan sapu-sapu. Hasil uji laboratorium menunjukkan ikan ini mengandung partikel merkuri yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Kami meminta masyarakat untuk tidak mengonsumsi atau mengolahnya menjadi produk makanan,” tegas Munjirin.

Meski tidak dikelola menjadi makanan, olahan ikan sapu-sapu untuk produk nonpangan juga tetap berbahaya. Prof. Yusli memperingatkan pemanfaatan ikan sapu-sapu harus disertai pengawasan ketat, mulai dari lokasi penangkapan, cara pengolahan, hingga jaminan keamanan produk akhir.

“Risiko kesehatan juga tetap ada meskipun ikan diolah menjadi produk nonpangan seperti pakan, pupuk, atau bahan industri. Logam berat berpotensi kembali masuk ke rantai makanan atau terserap tanaman melalui pupuk jika proses pengolahannya tidak benar-benar bersih,” jelasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.