Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Jejak jalur dagang ‘ilegal’ Palembang – Singapura, membantu Indonesia di awal kemerdekaan

Jejak jalur dagang ‘ilegal’ Palembang – Singapura, membantu Indonesia di awal kemerdekaan

jejak-jalur-dagang-‘ilegal’-palembang-–-singapura,-membantu-indonesia-di-awal-kemerdekaan
Jejak jalur dagang ‘ilegal’ Palembang – Singapura, membantu Indonesia di awal kemerdekaan
service

● Penyelundupan menjadi strategi ekonomi Indonesia di tengah blokade Belanda.

● Perdagangan informal tak terpisahkan dari kehidupan ekonomi kawasan Sumatra – Singapura.

● Perdagangan ini menjadi salah satu sumber pemasukan bagi Indonesia di awal kemerdekaan.


“Saya Adalah penyelundup terbesar di Asia”, ujar Adnan Kapau Gani, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia (1946-1948), kepada sebuah media di Australia tahun 1947.

wawancara adnan kapau gani penyelundup terbesar di asia

Artikel koran The Sun edisi 8 Desember 1947 yang mengulas aktivitas penyelundupan oleh Adnan Kapau Gani. (The Sun/Trove), CC BY

Pernyataan itu rupanya bukan guyonan. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, perdagangan gelap memang berlangsung dalam skala besar. Barang dari Indonesia dibawa ke luar melalui jalur yang dianggap ilegal oleh Belanda, sementara dari luar masuk berbagai kebutuhan penting bagi Indonesia.

Narasi Revolusi Indonesia selama ini lebih banyak didominasi cerita politik, diplomasi, dan militer, terutama yang berpusat di Jawa. Padahal, di luar Jawa berlangsung perjuangan ekonomi yang tidak kalah penting.

Salah satu kawasan “penyelundupan” terpenting berada di pantai timur Sumatra yang terhubung dengan Singapura, yang pada masa awal hingga pasca-Perang Dunia II menjadi salah satu pusat black market terbesar di Asia Tenggara.

Menyelamatkan ekonomi di awal kemerdekaan

Di Sumatra Selatan, dengan Palembang sebagai salah satu pusat politik dan ekonomi, kemerdekaan bukan hanya soal membentuk pemerintahan baru, tetapi juga bagaimana membiayai pemerintahan dan perjuangan.

Gani piawai menghubungkan kepentingan ekonomi dan militer, yang keuntungannya dimanfaatkan untuk membiayai kemerdekaan.

Sosok Dr. AK. Gani tahun 1947, ketika menjadi Menteri Kemakmuran Republik Indonesia. Fotograaf Onbekend/DLC, CC BY

A.K. Gani menjadi salah satu tokoh penting. Ia tidak hanya seorang dokter dan politisi, tetapi juga tokoh militer dan pernah menjadi aktor. Setelah membantu pembentukan pemerintahan dan badan militer di daerah, Gani terlihat piawai menghubungkan kepentingan ekonomi dan militer dengan mengendalikan berbagai sumber daya, mulai dari karet, minyak bumi, hingga batu bara di Sumatra Selatan yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda dan pihak asing lainnya.

Gani seakan “membagi-bagi kue” agar tidak terjadi konflik di antara kelompok tadi. Mereka akhirnya tunduk dengan Gani yang segera menggerakkan mereka dalam garis komando kepemimpinannya, sehingga aset-aset ekonomi yang dikuasai tadi bisa diambil juga keuntungannya untuk membiayai perjuangan.

Langkah ini membuat Belanda geram. Sebagian aset ekonomi tersebut sebelumnya berada di bawah penguasaan perusahaan Belanda dan asing. Namun setelah Jepang menyerah, Indonesia menganggap sumber daya di wilayahnya penting bagi kelangsungan negara baru.

Kepentingan tersebut berbenturan dengan upaya Belanda mengembalikan kontrol ekonomi kolonial, salah satunya melalui blokade di pantai timur Sumatra.

Namun, menguasai komoditas saja tidak cukup. Indonesia membutuhkan pembeli, dan di sinilah Singapura berperan penting.

Reaktivasi jalur yang sudah ada

Hubungan dagang antara pantai timur Sumatra dan Singapura sebenarnya sudah berlangsung sejak abad ke-19. Setelah Singapura berkembang menjadi pelabuhan bebas, kota tersebut tumbuh sebagai simpul perdagangan regional.

Pada awal abad ke-20, Singapura bahkan menjadi pelabuhan ekspor karet terbesar di Asia Tenggara. Sementara Palembang dan wilayah lain di Sumatra menjadi pemasoknya. Pedagang Singapura juga menanamkan modal di perusahaan lokal Palembang, termasuk bisnis pelayaran.

Kapal jenis ini adalah satu dari beberapa jenis kapal yang dipakai pedagang Sumatra-Singapura pada awal kemerdekaan Indonesia

Salah satu kapal yang tertangkap oleh Belanda dalam aksi blokade perairan Sumatra tahun 1947. CC BY

Perdagangan informal dan penyelundupan bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi kawasan ini. Pendudukan Jepang pada 1942–1945 memang memperketat arus perdagangan. Namun, setelah Jepang menyerah, jalur tersebut kembali digunakan.

Para pedagang dan pelaut Sumatra juga memiliki pengetahuan geografis yang sulit ditandingi Angkatan Laut Belanda. Mereka memahami jalur laut menuju Singapura sekaligus sungai dan selat yang menghubungkan pelabuhan dengan pedalaman sehingga dapat menghindari kapal-kapal patroli. Kondisi pesisir yang penuh sungai, pulau, dan jalur alternatif membuat Belanda tidak pernah sepenuhnya mampu menghentikan lalu lintas perdagangan.

Uang dan senjata ilegal

Dalam konteks revolusi, batas antara legal dan ilegal menjadi tidak sumir.

Komoditas dari Sumatra diperoleh dari berbagai sumber. Mayoritas perkebunan karet di Sumatra Selatan, misalnya, merupakan perkebunan rakyat.

perkebunan karet di sumsel era kolonial wikimedia

Foto udara perkebunan karet di Wai Lima, Sumatra Selatan sekitar 1930 – 1940an. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons), CC BY

Untuk minyak bumi, tidak semua sumber berada di bawah penguasaan Belanda. Minyak-minyak yang diselundupkan merupakan minyak mentah, bukan hasil kilang.

Secara umum, senjata biasanya didapatkan dari pasar gelap, dan uang yang digunakan berasal dari komoditas yang diselundupkan. Dalam beberapa kasus, barang komoditas langsung dibarter dengan senjata. Komoditas tersebut sebagian keluar masuk tanpa dokumen dan tanpa membayar pajak pada otoritas tertentu.

Batas laut Indonesia – Singapura juga belum jelas. Saat itu, Belanda masih mengacu pada aturan kolonial 1939 yang membatasi kekuasaan laut sejauh tiga mil dari masing-masing pulau, sebelum Deklarasi Djuanda 1957.

Di sisi lain, Selat Malaka telah lama menjadi ruang lalu-lalang manusia dan perdagangan yang melampaui batas politik saat itu.

Laksamana John Lie menjalankan operasi perdagangan dan penyelundupan untuk membawa komoditas keluar dan memasukkan perlengkapan yang dibutuhkan Indonesia.

Sosok Laksamana John Lie, tokoh kunci dalam penyelundupan senjata dari Singapura ke Indonesia. (Angkatan Laut Republik Indonesia/Wikimedia Commons), CC BY

Dalam situasi tersebut, Gani menjadi semacam perpanjangan tangan negara. Operasi perdagangan dilakukan secara rahasia, tetapi ia melaporkannya kepada Presiden Sukarno dan mendapat restu. Komoditas dari Sumatra dijual ke Singapura, sementara barang yang dibutuhkan Indonesia, terutama senjata, dibawa kembali.

Pun, tidak ada resistensi dari pedagang Singapura dan pemerintah Inggris yang menguasainya. Mungkin inilah yang disebut sebagai “good deal” (bisnis yang menguntungkan). Toh, komoditas dari Sumatra menguntungkan semua pihak di Singapura.

Selain A.K. Gani, tokoh lainnya yang kemudian dikenal dalam operasi semacam ini adalah Laksamana John Lie, pelaut sekaligus eks pegawai perusahaan pelayaran Belanda. John menjalankan perdagangan dan penyelundupan untuk membawa komoditas keluar serta memasukkan perlengkapan yang dibutuhkan Indonesia.

Ruang abu-abu ekonomi Revolusi

Menurut Gani, nilai barang yang diselundupkan ke Singapura mencapai 150 juta straits dollar (setara Rp20 – 25 triliun saat ini). Keuntungannya kemudian ke Indonesia.

Presiden Sukarno juga mengakui bahwa aksi tersebut sangat membantu pemerintah Indonesia.

Para pedagang pun berperan penting. Sebagian bahkan ditawari menjual barangnya kepada Belanda, tetapi mereka memilih Singapura.

Hubungan dagang Indonesia – Singapura menunjukkan sisi lain ekonomi Indonesia pada masa awal kemerdekaan: perdagangan yang dianggap ilegal oleh Belanda justru menjadi salah satu sumber pemasukan bagi negara yang baru berdiri.

Namun, pola tersebut terutama berlangsung selama revolusi. Setelah revolusi berakhir setidak-tidaknya setelah pengakuan kemerdekaan Indonesia, pemerintah semakin memperketat aturan ekspor-impor.

Apa yang sebelumnya berada dalam ruang abu-abu era Revolusi kemudian benar-benar menjadi perdagangan ilegal.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.