Sat,22 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Jejak Perjumpaan Budaya dalam Roti Cane, Sajian Khas Ramadhan di Aceh

Jejak Perjumpaan Budaya dalam Roti Cane, Sajian Khas Ramadhan di Aceh

jejak-perjumpaan-budaya-dalam-roti-cane,-sajian-khas-ramadhan-di-aceh
Jejak Perjumpaan Budaya dalam Roti Cane, Sajian Khas Ramadhan di Aceh
service

Banda Aceh, NU Online

Di antara aneka kuliner khas Tanah Rencong, roti cane memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Terlebih saat bulan Ramadhan, roti ini hampir selalu hadir di meja berbuka maupun sahur. Teksturnya yang renyah di luar dan lembut di dalam, berpadu dengan kuah kari kaya rempah atau taburan gula manis, menjadikannya sajian sederhana yang sarat makna.

Roti cane diyakini berasal dari tradisi kuliner India yang dibawa para pedagang ke pesisir Aceh berabad-abad silam. Seiring waktu, masyarakat Aceh tidak hanya mengadopsinya, tetapi juga mengolah dan menyesuaikannya dengan karakter lokal. Dari proses panjang itu lahirlah roti cane dengan cita rasa khas Aceh, lebih berani dalam rempah dan lebih variatif dalam penyajian.

Tgk Iswadi, yang akrab disapa Abah Iswadi, penggiat budaya dan sosial keagamaan asal UNISAI Samalanga, menilai roti cane merupakan simbol konkret akulturasi budaya yang berlangsung harmonis.

“Roti cane menjadi bukti bahwa Aceh sejak dulu adalah wilayah terbuka. Pengaruh luar tidak serta-merta menghapus identitas, justru diperkaya dan diolah hingga menjadi bagian dari jati diri masyarakat,” ujarnya.

Iswadi menjelaskan, dalam perspektif sejarah, interaksi Aceh dengan India dan kawasan Asia Selatan telah terjalin sejak masa perdagangan maritim. Hubungan tersebut melahirkan pertukaran gagasan, tradisi, dan tentu saja kuliner. Roti cane menjadi salah satu warisan dari dinamika tersebut.

Ramadhan dan Kehangatan Roti Cane

Di bulan suci Ramadhan, kehadiran roti cane memiliki nuansa berbeda. Ia bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan. Di banyak rumah, roti cane menjadi menu berbuka yang dinanti. Anak-anak hingga orang tua berkumpul menunggu azan Maghrib, lalu menikmati roti hangat yang baru diangkat dari wajan.

Sebagian keluarga memilih roti cane manis dengan taburan gula atau susu kental. Sementara yang lain lebih menyukai versi gurih dengan kuah kari kambing atau ayam yang kental dan pedas. Fleksibilitas rasa inilah yang membuat roti cane begitu digemari.

Untuk mendapatkan tekstur sempurna, ada satu kunci sederhana namun penting: adonan didiamkan cukup lama dalam minyak agar roti renyah di luar dan lembut di bagian dalam. Teknik ini menjadikan roti cane memiliki karakter berlapis yang khas.

Bagi masyarakat Aceh, terutama pada suasana Ramadhan, roti cane juga kerap hadir dalam tradisi buka puasa bersama di masjid dan meunasah. Makanan ini menjadi pengikat silaturahmi sekaligus wujud kebersamaan umat.

Identitas yang Terbentuk dari Perjumpaan

Tokoh muda Nahdlatul Ulama, Gus Majid, yang juga mantan Ketua Ansor Aceh Utara, memandang roti cane sebagai representasi identitas Aceh yang inklusif.

“Kalau kita bicara Aceh, kita bicara tentang perjumpaan. Roti cane adalah simbol bahwa identitas itu tidak lahir dari ruang tertutup, tetapi dari dialog panjang dengan berbagai peradaban,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam konteks ke-NU-an, tradisi seperti ini sejalan dengan prinsip tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan). Budaya luar tidak ditolak mentah-mentah, melainkan disaring dan diolah agar selaras dengan nilai lokal dan agama.

Ia menambahkan, generasi muda perlu memahami sejarah di balik makanan yang mereka konsumsi. “Ketika kita makan roti cane, kita sebenarnya sedang menikmati sejarah. Ada cerita perdagangan, ada kisah dakwah, ada proses adaptasi yang panjang,” katanya.

Dari Kedai Kopi hingga Oleh-Oleh Wisatawan

Kini, roti cane mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari warung kecil hingga restoran besar. Bahkan, di sejumlah kota besar di luar Aceh, roti cane telah menjadi menu populer. Sejumlah pelaku usaha juga menghadirkan versi beku atau instan agar dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Keberadaan roti cane yang melintasi batas geografis menunjukkan daya tariknya yang kuat. Namun demikian, akar sejarah dan identitasnya tetap lekat dengan Aceh.

Gus Majid menegaskan, menjaga kuliner tradisional merupakan bagian dari merawat memori kolektif masyarakat. “Kuliner bukan hanya soal rasa. Ia adalah arsip hidup yang menyimpan jejak perjalanan sejarah kita,” ujarnya.

Di tengah arus globalisasi dan menjamurnya makanan cepat saji, roti cane tetap bertahan sebagai pilihan yang dicintai. Ia sederhana, namun penuh makna. Berasal dari luar, tetapi telah menjadi milik bersama.

Ramadhan semakin menegaskan nilai tersebut. Dalam suasana yang sarat spiritualitas, roti cane hadir bukan hanya sebagai pengganjal lapar, tetapi juga pengingat bahwa kebersamaan dan keterbukaan adalah bagian dari identitas Aceh.

Pada akhirnya, roti cane bukan sekadar adonan tepung yang dipanggang di atas wajan. Ia adalah simbol harmoni budaya, jejak sejarah, dan warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Setiap kali menyantapnya di bulan Ramadhan, masyarakat seakan diajak kembali menyadari bahwa keberagaman yang dirawat dengan bijak akan melahirkan cita rasa yang tak lekang oleh waktu.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.