Mubadalah id – Hari ini kita merasakan cuaca yang semakin sulit ditebak, bukan? Pagi tampak cerah, siang terasa sangat terik, lalu malam menghadirkan udara dingin yang menusuk. Masyarakat Ponorogo bahkan memiliki istilah khas untuk menggambarkan dingin yang kuat itu: mendiding.
Fenomena tersebut mungkin terdengar biasa karena hampir setiap hari kita mengalaminya. Namun, jika kita mencermatinya lebih dalam, perubahan cuaca yang ekstrem sebenarnya menunjukkan perubahan besar yang sedang berlangsung di sekitar kita.
Saat ini banyak orang tidak lagi bertanya, “Kapan musim berganti?” Sebaliknya, mereka lebih sering bertanya, “Hari ini aman atau tidak?” Pertanyaan sederhana itu menyimpan kecemasan yang nyata. Pasalnya, perubahan iklim tidak lagi menjadi isu masa depan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kini krisis iklim hadir di tengah masyarakat dan memengaruhi orang-orang yang harus tetap bekerja meski cuaca tidak memberikan kepastian.
Ketika Alam Mengubah Cara Manusia Bertahan
Di desa-desa, petani merasakan dampak perubahan iklim secara langsung. Mereka tidak mengenal krisis iklim dari ruang diskusi akademik atau laporan penelitian. Tanah yang mengering, curah hujan yang berubah-ubah, serta suhu yang semakin tidak menentu justru menjadi “guru” yang memperkenalkan mereka pada kenyataan tersebut.
Beberapa tahun lalu, petani masih mampu membaca tanda-tanda musim dengan cukup baik. Kini hujan sering turun ketika benih baru ditanam, lalu menghilang saat tanaman membutuhkan air dalam jumlah besar. Kondisi itu mendorong biaya produksi naik, mengurangi hasil panen, dan mengguncang stabilitas pendapatan keluarga.
Dampaknya tidak berhenti pada sektor pertanian. Banyak keluarga harus menyesuaikan kembali pengeluaran rumah tangga ketika hasil panen menurun. Sebagian orang tua bahkan menunda rencana pendidikan anak atau kebutuhan penting lainnya demi mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga.
Sementara itu, masyarakat perkotaan menghadapi dampak perubahan iklim dalam bentuk yang berbeda. Hujan deras kerap mengubah jalanan menjadi genangan bahkan banjir dalam waktu singkat. Pada saat yang sama, suhu udara yang terus meningkat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih melelahkan.
Berkurangnya ruang terbuka hijau turut memperburuk keadaan. Kondisi tersebut meningkatkan suhu lingkungan, menurunkan kualitas udara, dan memperbesar risiko gangguan kesehatan. Pekerja informal, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, serta ibu rumah tangga sering menghadapi dampak paling berat karena mereka harus beraktivitas dalam cuaca yang semakin tidak bersahabat.
Oleh sebab itu, kita tidak bisa lagi memandang cuaca ekstrem sebagai gangguan sesaat. Fenomena ini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dampaknya terlihat pada kenaikan harga pangan, terganggunya aktivitas ekonomi, meningkatnya risiko penyakit, hingga bertambahnya kecemasan yang dirasakan banyak orang.
Keadilan Iklim dalam Perspektif Mubadalah
Perspektif Mubadalah mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia harus berdiri di atas prinsip kesalingan, bukan dominasi. Pandangan ini penting karena krisis iklim memperlihatkan ketimpangan yang nyata. Sebagian kelompok menikmati manfaat pembangunan dan konsumsi yang berlebihan, sementara kelompok lain menanggung akibat dari kerusakan lingkungan yang terjadi.
Saat petani gagal panen, nelayan kehilangan hari kerja, dan warga miskin perkotaan berulang kali menghadapi banjir, persoalan yang muncul bukan sekadar masalah cuaca. Situasi tersebut menunjukkan adanya ketidakadilan yang memerlukan perhatian bersama.
Selain itu, Mubadalah menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin, masyarakat desa maupun kota.
Karena itu, kebijakan iklim perlu memberi perlindungan lebih besar kepada kelompok yang paling rentan. Upaya menjaga lingkungan tidak cukup berhenti pada pengurangan emisi atau penggunaan teknologi hijau. Langkah tersebut juga harus menjamin perlindungan sosial, ekonomi, dan budaya bagi masyarakat.
Tradisi Islam memberikan dasar yang kuat dalam upaya menjaga lingkungan. Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertugas merawat bumi dan menjaga keseimbangannya.
Amanah tersebut menuntut tanggung jawab yang besar. Saat manusia menebang hutan secara berlebihan, mencemari sungai, atau mengabaikan ruang hijau, mereka sesungguhnya sedang merusak fondasi kehidupan bersama. Akibatnya, bukan hanya lingkungan yang mengalami kerusakan, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat.
Berbagai kajian sosial menunjukkan bahwa kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan justru menerima dampak paling besar. Petani kecil, nelayan tradisional, buruh harian, dan masyarakat miskin perkotaan harus menghadapi risiko yang lebih tinggi dibanding kelompok yang memiliki sumber daya lebih kuat.
Berani Mengubah Arah
Menurut saya, masyarakat tidak boleh lagi menganggap cuaca ekstrem sebagai sesuatu yang normal. Kita perlu melihatnya sebagai peringatan bahwa cara mengelola lingkungan membutuhkan perubahan yang lebih serius.
Negara perlu memperkuat perlindungan bagi petani dan nelayan melalui sistem peringatan dini, akses informasi cuaca yang akurat, perlindungan pesisir, serta dukungan terhadap ketahanan pangan lokal. Bersamaan dengan itu, pemerintah daerah perlu memperbaiki tata ruang, memperluas ruang hijau, dan meningkatkan kualitas infrastruktur lingkungan agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan iklim.
Di sisi lain, tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan pemerintah. Dunia usaha juga perlu mengubah pola produksi yang merusak lingkungan. Lembaga pendidikan, pesantren, masjid, komunitas warga, dan media massa dapat berperan dengan membangun kesadaran ekologis yang dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.
Saya percaya bahwa perubahan terbesar dimulai dari cara kita memandang penderitaan orang lain. Selama masyarakat menganggap banjir di kampung nelayan, gagal panen di desa, atau panas ekstrem di perkotaan sebagai persoalan kelompok tertentu, selama itu pula pemahaman kita tentang krisis iklim masih belum utuh.
Padahal, kita hidup dalam rumah yang sama. Saat petani kehilangan hasil panen, harga pangan ikut naik. Ketika nelayan tidak dapat melaut, pasokan ikan berkurang. Jika banjir melanda kota, aktivitas ekonomi dan sosial ikut terganggu.
Karena itu, keberpihakan pada kehidupan harus tampak dalam kebijakan, kebiasaan, dan tindakan nyata. Kita membutuhkan solidaritas yang tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga struktural. Kita juga perlu mendorong perubahan yang melindungi manusia sekaligus menjaga lingkungan.
Cuaca ekstrem memang tidak bisa kita hentikan dalam waktu singkat. Namun, kita dapat mengurangi dampaknya melalui kerja sama yang adil dan berkelanjutan. Di sinilah nilai Mubadalah menemukan relevansinya. Kesalingan tidak hanya menghubungkan manusia dengan manusia, tetapi juga menghubungkan manusia dengan bumi sebagai rumah bersama. Ketika kita menjaga bumi, pada saat yang sama kita sedang menjaga masa depan kehidupan itu sendiri. []





Comments are closed.