Sat,16 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. John Tobing & Lagu “Darah Juang” yang Mengalir di Nadi Perjuangan Mahasiswa

John Tobing & Lagu “Darah Juang” yang Mengalir di Nadi Perjuangan Mahasiswa

john-tobing-&-lagu-“darah-juang”-yang-mengalir-di-nadi-perjuangan-mahasiswa
John Tobing & Lagu “Darah Juang” yang Mengalir di Nadi Perjuangan Mahasiswa
service

26 Februari 2026 16.10 WIB • 2 menit

John Tobing & Lagu “Darah Juang” yang Mengalir di Nadi Perjuangan Mahasiswa


John Tobing meninggalkan warisan berharga untuk para mahasiswa yang setia di jalur perjuangan, yakni lagu “Darah Juang” yang diciptakannya.

Bunda relakan darah juang kami, padamu kami mengabdi

Itulah penggalan lirik “Darah Juang” ciptaan John Tobing. Isinya menceritakan tentang kenyataan getir adanya masyarakat yang hidup penuh kesusahan di negeri yang kaya raya.

Tak sulit menerka bahwa “Darah Juang” merupakan sentilan bagi negeri ini. Karena itu pula, lagu tersebut nyaris tak pernah absen didengungkan ketika mahasiswa menggelar unjuk rasa menuntut keadilan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Otak di balik “Darah Juang” baru saja meninggal dunia. John Tobing wafat di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM pada Rabu (25/02/2026) malam.

John Tobing merupakan mantan aktivis mahasiswa yang aktif pada era 1990-an. Ia kerap memanfaatkan musik sebagai sarana aktivismenya sehingga tak mengherankan apabila kemudian lagu “Darah Juang” bisa lahir dan seakan menjadi lagu wajib bagi para aktivis mahasiswa lintas generasi, bahkan hingga hari ini.

Kisah Penciptaan Lagu “Darah Juang” oleh John Tobing

Bicara soal John Tobing dan lagu “Darah Juang”, Kawan tak bisa lepas dari latar belakangnya sebagai aktivis mahasiswa dengan segala lika-likunya. John Tobing adalah mahasiswa yang berkuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1994 dan aktif di Partai Rakyat Demokratik (PRD), sebuah partai politik berhaluan kiri yang aktif pada akhir 1990-an.

Sebagai aktivis mahasiswa yang bernaung di bawah PRD, pria bernama lengkap Johnsony Marhasak Lumbantobing itu dikenal getol melawan rezim Orde Baru. Bahkan lagu “Darah Juang” pun tercipta di tengah-tengah kegiatan aktivismenya.

Semua berawal dari sebuah diskusi mahasiswa yang dihadiri oleh John Tobing. Seperti ditulis R. Toto Sugiharto dalam Tradisi Akademik Mengakomodasi Kearifan Lokal, di sela-sela acara, ia memainkan sebuah musik instrumental dengan gitarnya yang kemudian diberi syair oleh rekannya sesama mahasiswa UGM, Dadang Juliantara dan Budiman Sudjatmiko. Saat itu, lagu tersebut masih belum punya judul.

Setelahnya, John Tobing kembali hadir dalam sebuah pertemuan mahasiswa dan diminta menyanyikan lagu yang diciptakannya bersama Dadang. Tiba-tiba, ada yang nyeletuk agar lagunya diberi judul “Darah Juang”. John Tobing ternyata setuju dan jadilah lagunya punya judul seperti demikian.

Ditemani lagu “Darah Juang”, John Tobing bersama aktivis mahasiswa lainnya terutama yang tergabung dalam PRD merasakan betul beratnya bergerak di tengah tekanan rezim yang mencengkeram hingga ke dalam kampus.

Saat John Tobing kuliah di UGM, pergerakan mahasiswa baru saja mencoba bangkit kembali setelah sempat “dimatikan” rezim lewat NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Adapun NKK/BKK sendiri merupakan kebijakan yang diterapkan pemerintah pada masa itu untuk mendepolitisasi kampus dan membatasi peran politik mahasiswa.

Hingga kini, “Darah Juang” masih bergema bersama dengan seruan untuk keadilan bagi rakyat. Di kalangan mahasiswa, lagu tersebut seakan tidak pernah terlupakan. Tak hanya saat unjuk rasa, dalam berbagai kegiatan di kampus “Darah Juang” juga kerap terdengar, seperti di UGM setiap kali Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) digelar untuk menyambut para wajah-wajah baru di kampus.

John Tobing sendiri berpesan agar lagunya bebas dinyanyikan di mana pun. Tak perlu pusing soal hak cipta, yang penting “Darah Juang” bisa dikenal di mana-mana.

Karena itu pula, bisa jadi meski John Tobing telah berpulang, “Darah Juang” tetap tidak akan lekang oleh waktu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.