Sun,30 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Kabur ke S2, Illusio Gen Z

Kabur ke S2, Illusio Gen Z

kabur-ke-s2,-illusio-gen-z
Kabur ke S2, Illusio Gen Z
service

Tidak betah dengan pengangguran maupun pekerjaan, Gen-Z bergerombol masuk S2. Kalau imbal hasilnya belum terbukti, apa yang membuat permainan ini tetap terasa layak dimainkan?


PinterPolitik.com

Setahun setelah wisuda, Ringo duduk di kubikel yang tidak punya hubungan dengan jurusannya. Ia lulusan hukum, dan pekerjaannya membalas keluhan pelanggan memakai template yang sudah disiapkan perusahaan.

Gajinya cukup untuk kos dan kopi, tidak cukup untuk apa pun setelah itu. Di akhir bulan tidak ada yang bisa dia lihat sebagai hasil kerjanya selain jumlah tiket yang selesai.

Yang paling melelahkan bukan bebannya, melainkan ketiadaan arah. Ia tidak tahu apa yang harus dicapai untuk naik, sebab tidak pernah ada yang menjelaskan apakah “naik” itu tersedia.

Suatu malam timeline-nya penuh teman seangkatan yang mengunggah letter of acceptance. Minggu berikutnya Ringo membuka laman pendaftaran magister, dan untuk pertama kalinya dalam setahun ia merasa punya rencana.

Cerita seperti itu menunjuk satu prinsip umum: sebuah permainan sosial bertahan bukan karena hadiahnya besar, tapi karena pesertanya masih percaya taruhannya bernilai. Pierre Bourdieu menyebut keyakinan itu illusio, yaitu kepercayaan bersama bahwa satu permainan layak dimainkan, kepercayaan yang justru diproduksi oleh permainan itu sendiri.

Illusio selalu butuh pasangan, yaitu meja lain yang terasa tidak layak ditempati. Karl Marx menyediakan namanya, keterasingan, kondisi ketika kerja berhenti terasa sebagai milik si pekerja dan berubah menjadi waktu yang dijual.

Tapi apakah yang dialami Ringo benar-benar keterasingan struktural, atau sekadar fase awal karier yang selalu terasa berat bagi setiap generasi? Dan kalau kampus memang meja yang lebih layak, kenapa yang dipilih justru pintu yang paling mahal?

S2 Menjual Perasaan Kejelasan Hidup

Illusio kampus bertumpu pada satu komoditas yang tidak lagi disediakan kantor, yaitu kejelasan arah. Silabus, kredit, tenggat, dan tanggal wisuda sudah diketahui sejak hari pertama.

Imbalannya pun kelihatan. Gelar tidak hilang saat efisiensi datang dan tidak menunggu penilaian atasan, dua hal yang Ringo tak punya.

Bagi generasi yang selama dua puluh tahun hanya dilatih menang di medan sekolah, kembali ke ruang kelas berarti kembali ke arena yang aturannya sudah dikuasai. Inilah sebabnya S2 terasa lebih akrab sekaligus lebih memuaskan ketimbang jalur karier.

Posisi Ringo sendiri bukan anomali, melainkan kategori statistik. Analisis LPEM FEB UI atas Sakernas 2025 menemukan sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 menempati jabatan yang dikategorikan berada di bawah tingkat pendidikannya.

Keterasingan versi 2026 punya lapisan yang belum ada di zaman Marx, yaitu kerja yang mengasingkan tanpa tangga untuk dipanjat. Data Sakernas Mei 2026 mencatat kenaikan penduduk bekerja paling besar justru datang dari pekerja yang berusaha sendiri, sebanyak 1,38 juta orang, ruang yang secara definisi tidak punya jenjang.

Peneliti LPEM FEB UI Muhammad Hanri menilai perbaikan angka ketenagakerjaan itu lebih terlihat dari sisi jumlah ketimbang mutu pekerjaan. Kerja tersedia, tapi belum tentu kerja yang membawa orang ke mana pun.

Data BPS juga mengoreksi premis populer bahwa sarjana adalah kelompok paling menganggur. Tingkat pengangguran terbuka lulusan sarjana pada Mei 2026 sebesar 6,09 persen, lebih rendah daripada lulusan SMK 7,68 persen dan SMA 6,17 persen.

Artinya persoalan Ringo bukan ketiadaan pekerjaan, melainkan pekerjaan yang tidak memerlukan dirinya secara utuh. Dari total 7,22 juta penganggur nasional, 1,03 juta atau 14,31 persen justru berpendidikan D4 sampai S3.

Illusio kampus diperkuat kebiasaan yang dibawa generasinya sendiri, yaitu hiperindividualisme: memahami karier sebagai proyek pribadi yang harus dioptimalkan, bukan sebagai posisi di dalam satu kolektif. Kantor pun berhenti menjadi tempat berhimpun dan berubah jadi panggung tempat masing-masing orang mengelola mereknya sendiri.

Marx menempatkan keterasingan dari sesama pekerja sebagai salah satu bentuk pokoknya, dan hiperindividualisme mempercepatnya dari dalam. Ketika beban kerja dialami sebagai kegagalan pribadi, tidak ada saluran bersama yang terbentuk untuk mengubahnya.

Di situlah S2 menjadi masuk akal secara psikologis, karena ia satu-satunya perbaikan yang bisa dikerjakan sendirian. FOMO (fear of missing out), kosakata yang biasa dipakai menjelaskan gelombang ini, sebenarnya cuma nama populer bagi keterasingan yang belum punya bahasa politik.

Kalau kampus memang meja yang lebih terbaca, apa yang sebenarnya didapat Ringo setelah dua tahun duduk di sana? Dan kalau S2 bukan jawaban, jawaban apa yang tersisa bagi pekerja muda yang tetap merasa mentok?

Percuma Kabur S2?

Yang didapat, secara logis, adalah penundaan. Keterasingan tidak lenyap sesudah wisuda kedua, ia menunggu di pasar kerja yang sama dengan modal simbolik yang sudah tergerus gelombang lulusan berikutnya.

Di sinilah illusio menunjukkan dirinya. Illusio ala Bourdieu bekerja paling kuat bukan ketika hadiahnya besar, tapi ketika permainan lain sudah tidak masuk akal, sehingga pesertanya membiayai sendiri kepercayaan yang membuatnya tetap bermain.

Jawaban praktisnya dimulai dari memisahkan dua jenis ke-mentok-an karier. Kalau yang menghambat adalah syarat formal, S2 masuk akal; kalau yang menghambat adalah posisi tawar diri sendiri, gelar hanya menambah biaya tanpa menambah daya.

Untuk jenis kedua, yang menaikkan posisi tawar diri adalah bukti kerja yang bisa diperiksa orang luar dan keberanian berpindah menyamping ke sektor yang sedang tumbuh. Kepadatan tangga lama sudah nyata, terlihat dari dominasi jurusan yang lulus secara massal seperti Manajemen, Hukum, dan Ekonomi di antara penganggur bergelar.

Karena hiperindividualisme ikut menjadi sebab, hiperindividualisme juga tidak bisa menjadi solusi. Mencari arahan di dunia pekerjaan butuh kemampuan untuk bergabung di dalam komunitas pekerjaan dan di relasi satu sama lain, bukan kepedulian kepada diri sendiri semata.

Ringo sendiri belum tahu jawabannya. Yang ia tahu, kekosongan yang membuatnya membuka laman pendaftaran setahun lalu akan tetap menunggunya dua tahun lagi, hanya dengan gelar tambahan di tangan.

Kabur ke S2 bisa jadi keputusan yang baik karena banyak alasan, tapi ia bukan pintu keluar dari keterasingan. Selama pelarian ini terus dibaca sebagai peningkatan mutu sumber daya manusia, negara akan sibuk menghitung gelar sambil membiarkan hal yang sebenarnya rusak, yaitu pekerjaan yang tidak menawarkan ke mana pun untuk dituju. (R100)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.